Qiyas dalam Ibadah Zakat

Zakat merupakan salah satu ibadah yang utama dalam Islam. Bahkan ia merupakan salah satu rukun Islam, yang wajib diamalkan oleh mereka yang telah memenuhi syarat wajib zakat.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kedudukan zakat sederet dengan syahadat, shalat, puasa, dan ibadah haji.

Dari Umar bin Khathab, Rasulullah bersabda, “Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” (HR Muslim)

Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khathab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Islam didirikan di atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Sebagai ibadah mahdhah, zakat dipandang oleh sebagaian orang tidak dapat diqiyaskan. Akan tetapi, pandangan ini perlu dikaji ulang karena zakat memiliki karakteristik tersendiri sebagai salah satu bagian ibadah mahdhah yang bercorak sosial.

Menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, zakat, sekalipun dibahas dalam pokok bahasan “ibadat”, karena dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari shalat, sesungguhnya merupakan bagian sistem sosial-ekonomi Islam, dan oleh karena itu dibahas di dalam buku-buku tentang strategi hukum dan ekonomi Islam.

Sedangkan qiyas, menurut Syaikh Muhammad Abu Zahrah, adalah, “Menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan ‘illat hukum.”

Oleh karena pembahasan zakat dan harta yang dikenakan zakat senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan sosial ekonomi, maka sejumlah pihak menetapkan adanya qiyas dalam permasalahan ini, meskipun zakat merupakan ibadah mahdhah. Namun, sebagian lain tidak menetapkan adanya qiyas mengingat bahwa zakat adalah ibadah mahdhah yang sifatnya tetap dari Pembuat Syari’at, dan tidak boleh ditambah-tambahi oleh manusia.

Setidaknya ada 4 golongan yang menetapkan pendapat mereka mengenai permasalahan qiyas dalam ibadah zakat hingga masa kini:

1. Tidak Ada Qiyas dalam Ibadah Zakat

Kelompok pertama ini adalah kelompok mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah yang sama sekali tidak mempergunakan qiyas dalam sumber hukum fiqih mereka. Mazhab Zhahiriyah tidak mengakui adanya ‘illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash, termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan ‘illat. Mereka membuang semua itu jauh-jauh, dan sebaliknya mereka menetapkan suatu hukum hanya dari teks nash semata. Dengan demikian, mereka mempersempit kandungan lafazh. Tidak mau memperluas wawasan untuk mengenali tujuan legislasi Islam. Mereka terpaku pada bagian “kulit” dari teks semata. Demikian dijelaskan Syaikh Muhammad Abu Zahrah dalam Ushul Fiqih.

Oleh karena itu, dalam pembahasan jenis-jenis harta zakat, mereka hanya menetapkan jenis harta zakat yang nyata-nyata disebutkan dalam teks nash.

2. Terdapat Qiyas dalam Ibadah Zakat Secara Terbatas

Ini merupakan kelompok jumhur, dimana mereka mempergunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang Al Quran, hadits, pendapat shahabat, maupun ijma’ ulama, tidak ada. Hal ini dilakukan secara terbatas, terutama dalam hal-hal rincinya.

Dalam pembahasan zakat misalnya, nash menetapkan jenis gandum sebagai komoditi pertanian yang dikenai zakat. Maka, qiyas yang kelompok ini terapkan adalah kewajiban zakat juga dikenakan pada semua jenis komoditi pertanian yang memiliki ciri-ciri spesifik seperti gandum, misalnya merupakan makanan pokok, berbentuk biji-bijian, dapat disimpan dalam masa tahunan, dan dapat ditakar.

3. Terdapat Qiyas dalam Ibadah Zakat Secara Luas

Pendapat ini merupakan pendapat sebagian ulama yang lebih luas dalam menerapkan prinsip qiyas dalam menetapkan sebuah hukum yang tidak ada nash-nya. Jika kelompok sebelumnya hanya menerapkan qiyas dalam persoalan rinci dan spesifik, maka kelompok ini menerapkan qiyas secara lebih umum dan luas.

Dalam persoalan zaka misalnya, nash menetapkan gandum dan kurma sebagai komoditi pertanian yang dikenai zakat. Maka, qiyas yang kelompok ini terapkan adalah seluruh jenis produk pertanian, tanpa memperinci dan membatasinya pada komoditi pertanian tertentu. Sehingga jenis komoditi yang dikenai zakat bisa berupa jenis sayuran, jenis umbi-umbian, bumbu, bunga, dan hasil perkebunan tahunan lainnya.

Pendukung qiyas jenis ini adalah Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul Wahab Khalaf, Syaikh Muhammad Al Ghazali, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi.

4. Terdapat Qiyas dalam Ibadah Zakat Secara Bebas/Liberal

Kelompok terakhir yang menetapkan pendapatnya tentang qiyas dalam ibadah zakat ini adalah kelompok liberal. Mereka menetapkan qiyas hingga melewati batas-batas yang nash telah tetapkan, sehingga qiyas yang bebas (liberal) ini statusnya menggeser dan menafikkan nash yang ada.

Dalam persoalan zakat, kelompok ini mengatakan bahwa pada masa modern ini zakat telah digantikan dengan pajak (al mukus atau adh dharibah), sehingga pajak dianggap sebagai zakat. Oleh karena itu, seseorang yang sudah membayar pajak tidak perlu membayar zakat lagi. Pendapat ini dikemukakan oleh Masdar F. Mas’udi, dimana pendapatnya bisa ditemui dalam bukunya yang berjuduk Pajak Adalah Zakat. Dasar qiyas yang digunakan menurutnya adalah bahwa pajak dan zakat  memiliki tujuan yang sama.

***

Kami secara pribadi, menghargai pendapat kelompok pertama hingga ketiga, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda, serta menolak pendapat keempat yang menerapkan qiyas secara liberal.

Insya Allah, dalam pembahasan-pembahasan berikutnya, kami cenderung untuk mengikuti pendapat kelompok ketiga yang menetapkan qiyas dalam zakat secara luas. Hujjah dan argumentasi akan kami kemukan dalam pembahasan-pembahasan berikutnya, insya Allah.

About these ads

2 responses to “Qiyas dalam Ibadah Zakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s