Huruf Bahasa Arab

Bahasa

“Hai Muhammad,” kata mereka, para anggota delegasi Bani Tamim pada Rasulullah, “Keluarlah engkau kepada kami!”

Saat itu, Rasulullah sedang berada di dalam biliknya. Sementara delegasi Bani Tamim yang baru datang itu telah berada di dalam Masjid Nabawi yang dindingnya membelakangi bilik Rasulullah. Mendengar suara memanggil seperti itu, Rasulullah merasa tidak senang dan tergantu. Beliau pun keluar dari dalam biliknya ke masjid. Beliau menemui mereka.

“Hai Muhammad, kami datang kepadamu untuk menyaingimu,” lanjut mereka, “Oleh karena itu, izinkan penyair dan orator kami untuk berbicara.”

Ruparupanya para delegasi bani Tamim itu datang dengan membawa keangkuhan dan kesombongan jahiliyah sembari membanggakan dan menunjukkan kemampuan mereka dalam berorasi dan membuat syair. Sebuah kebudayaan yang dianggap sangat terhormat di kalangan masyarakat Arab kala itu.

“Aku memberi kepada orator kalian,” kata Rasulullah, “Jadi silakan ia berbicara.”

Seorang lelaki bernama Utharid bin Hajib bin Zurarah bin Udus At Tamimi berdiri. Lantas ia pun mulai menunjukkan kemampuannya berorasi. Ia berorasi dengan menunjukkan kelebihan Bani tamim dibandingannya kabilahkabilah lainnya.

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami keutamaan dan karunia,” katanya memulai, “Karena Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia telah menjadikan kami sebagai rajaraja, menganugerahkan harta yang banyak sekali kepada kami kemudian kami berbuat baik dengan harta tersebut, menjadikan kami sebagai orangorang timur yang paling kuat, paling banyak jumlahnya, dan paling lengkap persenjataannya.”

“Siapakah di antara manusia yang bisa seperti kami?” lanjutnya, “Bukankah kami adalah pemimpinpemimpin manusia dan pemilik segala kelebihan mereka? Barangsiapa dapat menyaingi kami, silakan ia mengemukakan kelebihankelebihannya seperti yang telah kami sebutkan. Jika kami mau, kami bisa berkata banyak, namun kami malu mengemukakan dengan panjang lebar apa saja yang diberikan kepada kami. Hal tersebut kami ketahui. Inilah yang kami katakan dan hendaklah kalian berkata seperti yang telah kami katakan, atau bahkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah kami sebutkan.”

Dalam bahasa sastera, kalimat demi kalimat yang diucapkan Utharid sangatlah indah. Memadukan majas dan rima yang rapi. Di satu sisi, ia memuji Allah meskipun ia belum masuk Islam. Di sisi lain, ia meninggikan, memuji, dan membanggakan keutamaankeutamaan bani Tamim, meskipun di penutup orasinya ia bersikap seolaholah mereka adalah orang yang rendah hati.

Selesai mengumandangkan orasinya di hadapan Rasulullah dan para shahabatnya, Utharib bin Hajib pun kembali duduk di tempatnya semula.

“Hai Tsabit,” kata Rasulullah kepada shahabatnya, Tsabit bin Qais As Syammasy, “Berdirilah dan jawablah apa yang dikatakan orang tadi dalam orasinya!”

Tsabit bin Qais berdiri dan memulai orasinya.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi. Dia memberikan keputusanNya di antara langit, ilmuNya meliputi kursiNya, dan tidak ada sesuatu apa pun melainkan berasal dari karuniaNya. Dia menjadikan kami sebagai rajaraja dan memilih makhlukNya yang paling baik sebagai rasul yang paling mulia nasabnya, paling benar tutur katanya, paling baik anak keturunannya. Allah menurunkan Kitab-Nya kepada beliau, dan memberi beliau kepercayaan atas makhlukNya. Jadi, beliau adalah pilihan Allah dari alam semesta.”

“Beliau mengajak manusia kepada keiman kepadanya,” lanjutnya, “Kemudian orangorang yang beriman kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam adalah kaum Muhajirin dari kaum beliau dan sanak kerabat beliau yang merupakan manusia yang paling mulia keturunannya, manusia paling tampan wajahnya, dan manusia yang paling baik amal perbuatannya.”

“Kemudian manusia yang pertama kali memenuhi panggilan Allah ketika mereka dida’wahi Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam adalah kami. Kami adalah penolongpenolong Allah, ansharullah, dan pembelapembela beliau. Kami memerangi manusia hingga mereka beriman kepada Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah dan RasulNya, darah dan hatinya terlindungi oleh kami. Barangsiapa kafir, kami memeranginya karena Allah selamalamanya, karena pembunuhannya bagi kami adalah sesuatu yang sangat mudah. Ini yang aku katakan dan aku minta ampunan kepada Allah untukku, kaum Mukminin, dan kaum Mukminah. Wassalamu ‘alaikum.”

Ternyata Tsabit bin Qais mampu menandingi utusan Bani Tamim dalam berorasi dan bahkan mengungguli keindahannya dalam makna dan tata bahasanya.

Kemudian salah seorang delegasi Bani Tamim yang pandai bersyair, Az Zibriqan bin Badr, berdiri dan mulai menyenandungkan syairnya yang bernuansa kejahiliyahan.

kami adalah orangorang mulia dan tidak ada orang hidup yang setara dengan kami, rajaraja berasal dari kami dan gereja dibangun di tempat kami

sudah berapa banyak orangorang yang telah kami paksa! di perang dan keutamaan kejayaan itu diikuti

kami memberi makanan pada musim kemarau, dengan daging rebus jika awan tidak menurunkan hujan

anda lihat para pemberani datang kepada kami dari segala penjuru dengan cepat, kemudian kami menyediakan hidangan

kami sembelih unta gemuk yang tidak berpenyakit untuk orang-orang yang singgah di tempat kami jika mereka singgah, mereka kenyang

kemudian anda tidak melihat kami pergi kepada suatu kaum untuk bersaing dengan mereka, melainkan mereka menyerah dan mereka ibarat kepala yang siap dipotong

barangsiapa menyaingi kami dalam hal ini, kami mengetahuinya

hendaklah suatu kaum pulang, sedang kabar itu didengar orang

sesungguhnya kami menolak dan tidak ada seorang pun yang menolak kami

begitulah kami menang dalam persaingan

Ketika itu, Syair Rasulullah ‘Sang Penyair Rasulullah’, Hassan bin Tsabit tidak ada di Masjid. Maka, Rasulullah pun mengutus seseorang untuk memanggilnya. Saat sang utusan telah mendapatinya, segera Hassan bin Tsabit menuju ke Masjid. Di perjalanan, ia menyenandungkan syair yang indah.

kami melindungi Rasulullah ketika beliau menetap di tengahtengah kami, dengan senang hati, dari serangan Ma’ad dan Raghim

kami melindungi beliau ketika beliau bertempat tinggal di antara rumahrumah kami, dengan pedangpedang kami, dari semua orang yang melewati batas dan zhalim

di rumah yang istimewa kemuliaannya dan kekayaannya, di Jabiyatu Al Jaulan, di tengah orangorang ajam

kejayaan itu tidak lain adalah kemuliaan dan jabatan para raja, serta mengerjakan halhal agung

Saat Hassan bin Tsabit sampai di Masjid dan mendengarkan syair dari Bani Tamim yang diwakili Az Zibriqan bin Badr. Saat perwalikan delegasi Bani Tamim sudah selesai, Rasulullah berkata pada Hassan, “Hai Hassan, berdirilah dan jawablah penyair tadi atas apa yang ia ucapkan.”

Hassan bin Tsabit berdiri. Ia pun segera menyenandungkan syair balasan yang lebih panjang dan lebih indah pada delegasi Bani Tamim.

sesungguhnya para pemimpin dan saudarasaudara dari Fihr telah membangun sunnah untuk manusia, kemudian sunnah tersebut diikuti

mereka pasti diridhai oleh setiap orang yang hatinya bertakwa kepada allah dan menjalankan segala kebaikan

mereka adalah suatu kaum yang jika memerangi, mereka merugikan musuh, atau merubah sesuatu menjadi bermanfaat pada pengikut-pengikut mereka

itulah sifat mereka sejak dahulu kala

ketahuilah bahwa seburuk-buruk akhlak ialah bid’ah

jika pada manusia terdapat orangorang hebat sepeninggal mereka, maka semua keunggulan itu milik orang yang paling rendah kedudukannya dari mereka

manusia tidak bisa memperbaiki apa yang telah dirusak tangantangan mereka

mereka tidak bisa menghancurkan apa yang telah mereka lakukan

jika mereka berlomba dengan manusia pada suatu hari, mereka menang

atau jika kejayaan mereka ditimbang, kejayaan mereka tetap unggul

mereka orangorang suci yang pantang mengemis dan kesucian mereka disebutkan dalam wahyu

mereka tidak terkotori dan tidak dapat dikotori

mereka tidak pelit dengan harta mereka terhadap tetangga mereka

mereka tidak dikotori oleh sifat tamak

jika kami memperlihatkan permusuhan kepada suatu kaum, maka kami tidak merahasiakannya di hati kami, sebagaimana anak sapi liar menyembunyikan diri dari binatang buas

kami berjaya jika perang berkecamuk, dan orang-orang kelas gembel pun tunduk

kami tidak sombong jika kami berhasil mengalahkan musuh

jika kami kalah, kami tidak pengecut dan tidak pula berkeluh kesah

ketika kami berada di kancah perang dan kematian mengintip, kami seperti singasinga di Halyah di mana tangannya bengkok

ambillah dari mereka apa yang telah datang jika mereka telah marah, dan janganlah engkau menginginkan sesuatu yang mereka larang

janganlah memusuhi mereka, karena memerangi mereka adalah keburukan racun dan pohon Sala’ dimasukkan ke dalam perang tersebut

alangkah mulianya suatu kaum yang menjadikan Rasulullah sebagai pemimpin mereka jika hawa nafsu dan kelompok berpecahbelah

aku hadiahkan pujianku untuk mereka dari hati yang tulus, diiringi dengan ucapan lisan yang fasih

mereka adalah manusiamanusia terbaik, saat orangorang merasa kesulitan, atau saat bersenda gurau

Setelah saling beradu orasi dan syair tentang kemuliaan hidup, delegasi Bani Tamim pun menyatakan keislamannya pada Rasulullah.

Begitulah salah satu episode kehidupan dan jalan da’wah yang ditempuh oleh Rasulullah. Rasulullah beserta para shahabatnya cukup memberikan seruan da’wah dengan baitbait syair dan seruan orasi. Rasulullah memberikan seruan Islam pada mereka dengan cara yang paling disukai oleh delegasi Bani Tamim tersebut, yakni sastera, keindahan bahasa. Dengan cara seperti itu, maka muatan yang hendak dibawa pun menjadi lebih mudah tersampai dan merasuk ke dalam hati orang yang dida’wahinya.

Secara umum, manusia memiliki bahasa aksepsi da’wah masingmasing. Bahasa yang tidak sematamata terikat oleh corak kata dan teritorial, tapi secara lebih mendalam yakni karakteristik kepribadiannya. Ada seseorang yang lebih mudah terasuki hatinya oleh kebenaran dengan metode yang lembut dan kuat sari sisi syu’ur atau perasaan, tapi ada juga yang lebih mudah jika ia dirasuki dengan metode yang logis dan ilmiah serta bukan sekadar doktrinasi. Ada juga yang lebih mudah menerima kebenaran da’wah dengan penjelasan analogi dan ada juga yang lebih mudah menerimanya dengan penjelasan tekstual. Itulah bahasa aksepsi mereka.

Seringkali para da’i melakukan kesalahan yang fatal dalam berda’wah karena tidak memahami bahasa aksepsi da’wah ini meskipun muatan yang dibawanya benar dan baik. Maka, kesalahan itu akan mengakibatkan larinya objek da’wah dari kebenaran bahkan bisa jadi memusuhi da’wah.

“Hendaklah kamu menasihati orang lain sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Adakah kamu semua senang sekiranya Allah dan RasulNya itu didustakan sebab kurangnya pengertian yang ada pada mereka itu?” begitu nasihat Ali bin Abi Thalib tentang bahasa sebagaimana dicatat Imam Bukhari.

Rasulullah sangat memahami bagaimana bahasa da’wah untuk masingmasing orang atau kelompok. Salah satunya adalah pada kejadian protes yang dilakukan oleh kaum Anshar atas pembagian rampasan perang yang menurut mereka tidak adil. Rasulullah memberikan harta itu kepada orangorang Quraisy dan sama sekali tidak memberikannya untuk kaum Anshar.

“Wahai seluruh kaum Anshar,” kata Rasulullah setelah berkumpul bersama kaum Anshar, “Apa sebenarnya maksud dari ucapan kalian yang sampai kepadaku? Dan apa maksud kecaman kalian terhadapku? Bukankah aku datang kepada kalian yang saat itu tersesat, kemudian Allah memberi petunjuk kepada kalian. Kalian saat itu miskin kemudian Allah menjadikan kalian kaya. Kalian saat itu saling bermusuhan kemudian Allah menyatukan hati kalian.”

“Hal itu memang benar, Allah dan RasulNya yang paling utama,” kaum Anshar membenarkannya.

“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku, wahai kaum Anshar?”

“Kami harus menjawab bagaimana wahai Rasulullah? Sebab, karunia dan keutamaan itu adalah milik Allah dan RasulNya.”

“Demi Allah,” lanjut Rasulullah, “Apabila kalian kehendaki kalian pasti berbicara, kalian berkata benar dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan, ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, kemudian kami membenarkanmu. Engkau dalam kondisi terlantar, kemudian kami menolongmu. Engkau dalam kondisi terusir, kemudian kami melindungimu. Dan engkau dalam kondisi miskin, kemudian kami membantumu.’”

“Wahai kaum Anshar, apakah kalian mempersoalkan dunia yang amat remeh, yang dengannya aku ingin menundukkan hati salah satu kaum agar mereka memeluk Islam, sedangkan aku menyerahkan kalian kepada ke-Islaman kalian? Wahai kaum Anshar, tidakkah kalian ridha sekiranya orangorang itu pulang membawa kambingkambing dan untaunta, sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, kalaulah tidak karena peristiwa hijrah, aku akan menjadi salah satu dari kaum Anshar. Apabila manusia melewati salah satu jalan, sementara kaum Anshar melewati jalan yang lain, maka aku pasti akan melewati jalan yang dilalui oleh kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah kaum Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.”

Kaum Anshar pun menangis sampaisampai jenggot mereka basah oleh air mata, “Kami ridha dengan Rasulullah sebagai bagian dari kami.”

Begitulah Rasulullah menundukkan hati suatu kaum. Ada yang perlu ditundukkan hatinya dengan bahasa harta, kambing, dan unta. Ada juga yang yang cukup dengan bahasa cinta dan keridhaan..

Dan masa kini pun sama. Ada yang butuh bahasa logika dengan referensireferensi ilmiah. Ada yang cukup dengan bahasa kisah sederhana dan diksi yang yang mudah dicerna pikiran mereka.

Bahkan, ingatlah Allah saat mengutus para rasul, dalam surat Ibrahim ayat 4 “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s