Bara Api

Bara

Kunasihatkan untukku sendiri.

Zaman ini adalah zaman kerusakan. Saat manusia berpaling dari cahaya menuju kegelapan. Saat mereka menghendaki kenikmatan sesaat daripada kemuliaan yang kekal. Saat kejujuran adalah kehinaan. Saat kemaksiatan dianggap sebagai kebanggan. Saat keluhuran dicemoohkan.

Zaman ini adalah masa fitnah. Saat ikhlas dianggap kemunafikan. Saat kebenaran dipermainkan. Saat hawa nafsu diperturuti. Saat nyawa manusia dinilai murah harganya. Saat keadilan berganti kezhaliman. Saat cinta berganti benci. Saat Allah digantikan berhalaberhala. Saat kebenaran sengaja ditutupi kekafiran.

Kecuali sedikit selainnya. Yaitu mereka yang ditolong Allah.

“Sesungguhnya Kami benarbenar telah membawa kebenaran kepada kamu, tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.”

Menjadi yang dikecualikan adalah sebuah perjuangan berat nan berdarahdarah. Ia haruslah memiliki azam yang tak habis, ilmu yang berkembang, keshabaran tanpa batas, dan inayah yang berkesinambungan. Ia harus menyadari  bahwa ia akan menjadi seseorang yang asing di mata manusia lain, yang telah terbiasa dan menjadi biasa menjauhi kebenaran, meninggalkan pilarpilar petunjuk yang suci dan terbuai oleh petunjuk semu syahwati dan syaithani.

“Orang mu’min yang benar,” kata Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin, “Adalah orang asing dalam agamanya karena kerusakan agama manusia. Asing dalam keteguhannya berpegang kepada As Sunnah karena manusia berpegang kepada bid’ah. Asing dalam aqidahnya karena kerusakan keyakinan mereka. Asing dalam shalatnya karena keburukan shalat mereka. Asing dalam jalannya karena kesesatan jalan mereka. Asing dalam pergaulannya dengan mereka karena dia mempergauli mereka tidak seperti yang mereka kehendaki. Secara umum dia adalah orang asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, tidak mendapatkan dukungan dan pertolongan dari manusia secara umum.”

Sementara itu Al Hasan mengatakan, “Orang mu’min di dunia seperti orang asing, yang kehinaannya tidak mengundang kesedihan dan yang kemuliaannya tidak perlu dikejar. Manusia dalam satu keadaan dan dia dalam keadaan yang lain. Manusia tidak takut terhadap dirinya, sementara dia dalam keadaan letih dan lelah.”

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim menjelaskan tentang orangorang asing yang memegang kebenaran, Islam.

“Di antara sifat orang yang asing itu seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah berpegang kepada As Sunnah selagi manusia membenci As Sunnah.

Dia meninggalkan bid’ah yang mereka ciptakan, sekalipun bid’ah itulah yang menjadi tradisi di tengah mereka. Dia memurnikan tauhid sekalipun mayoritas manusia mengingkarinya. Dia meninggalkan penisbatan kepada seseorang selain Allah dan RasulNya, entah kepada syaikh, thariqat, madzhab dan golongan. Seperti inilah gambaran orangorang asing yang menisbatkan kepada Allah dengan ubudiyah, kepada RasulNya dengan mengikuti apa yang beliau bawa.

Orangorang yang memenuhi dakwah Islam harus meninggalkan kabilah dan kerabatnya, lalu masuk Islam. Mereka adalah orangorang asing yang sebenarnya.

Setelah Islam kuat dan dakwahnya menyebar kemanamana serta manusia masuk Islam secara berbondongbondong, maka keasingan itu pun menjadi hilang. Tapi kemudian mereka mengasingkan diri sehingga menjadi orang asing seperti keadaan semula. Islam yang sebenarnya seperti yang ada pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat benarbenar lebih asing pada zaman sekarang daripada keasingan Islam pada permulaannya. Sekalipun simbol, rupa dan tanda tandanya yang zhahir ada di manamana, tapi Islam yang hakiki dalam keadaan asing sekali dan para pemeluknya asing di tengah manusia.

Orang mu’min yang meniti jalan kepada Allah berdasarkan ittiba’ dalam keadaan asing di tengah orangorang yang mengikuti hawa nafsu dan keinginannya, mematuhi kekikirannya dan bangga dengan pendapatpendapatnya.”

Saat seseorang memutuskan untuk menjadi bagian dari yang sedikit itu, yang asing dari kebanyakan manusia, yang memegang dan mengikuti petunjuk ilahi, yang menafikkan petunjuk hawa nafsu, dan bekerja keras menshabarkan jiwanya untuk ujian yang panjang, ia akan mendapatkan balasan kebahagiaan nan kekal. “Sejenak” saja ia akan merasakan sakit di dunia saat  kedua tangannya menggenggam kebenaran, menggenggam bara Islam, keadilan. Demi mardhatillah..

demi cinta yang menyala

kurela menggenggam bara api

demi kasih yang mengharum

sungguh aku rela 

biarpun pada pandangan

seperti bunga yang layu terbuang

namun Kau pasti tahu

semua kerana

aku masih lagi setia padaMu

biar ku menangis seumpama pengemis

~Rahim Uthman~

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s