Bisik

Cela

“Baik, esok aku dan kamu akan saling mencela,” kata lelaki itu.

Nampak dari gurat wajahnya bahwa ia memendam kekesalan dan kebencian kepada sahabat yang diajaknya bicara. Ruparupanya telah terjadi perselisihan diantara dirinya dengan sahabatnya itu hingga ia menjanjikan dan menantang sahabatnya untuk saling mencela. Sang sahabat yang ditantang adu cela pun menyabarkan dirinya, ia merendahkan dirinya dan dnegan santun berkata lembut kepada sahabatnya itu. Katakata yang mekar dari kuncup ketulusan jiwa.

“Tidak. Justru esok hari, aku dan kamu akan saling memaafkan.”

Sang sahabat berhati zuhud itu bernama Ibnu As Sammak, penasihat Khalifah Harun Al Rasyid. Ia memahami bahwa memperturutkan hawa nafsu untuk memuaskannya adalah sebuah kehinaan. Ia memahami betapa realitas kehidupan kaum muslimin telah terpecah belah dan persatuan adalah sebuah nilai yang tidak terbeli. Pemahamannya tentang penyakit kemanusiaan yang disebabkan oleh hawa nafsu yang bergolak itu menuntunnya berjalan di atas kelempangan jalan nan mulia.

Lidah yang mencuat dan meneteskan liur cela ke segala penjuru sudut adalah salah satu pemicu keretakan jalinan kokoh persatuan hati kaum muslimin. Hawa nafsu yang diperturutkan mendorong satu lidah mencela hati muslim yang lain, lantas lidah yang dicela pun turut membalas celaannya. Maka berbalas celaan pun mengakar di seantero masyarakat. Masingmasing membawa bendera keta’ashuban atas nama kebenaran, padahal sejatinya hawa nafsu semata.

Secara zhahir, yang nampak adalah tuntutan dari satu pihak kepada pihak lain yang menuntut temannya menjadi orang yang lebih baik dan lebih sempurna dan terhindar dari dosa, ma’shum. Sebuah perbuatan yang sejatinya nampak mulia, padahal hakikatnya hanyalah pemuasan jiwa untuk mencela orang lain. Dimana bisa jadi celaan itu hanyalah sebentuk balas dendam atas hal lampau yang terjadi di antara mereka. Tuntutan  pada kawannya itu akan terbukti benar jika ia sendiri adalah seorang muslim yang ma’shum. Akan tetapi hal ini tidak akan pernah terbukti karena kini tidak ada lagi manusia yang ma’shum. Bahkan bisa jadi si pencela lebih menganak gunung dosanya dibanding dengan yang dicela itu.

Seperti halnya Ibnu As Sammak, seorang muslim sejati jika menemui kondisi mengenaskan seperti cela mencela ini hendaklah mengambil sikap memaafkan si pencela. Sebuah sikap yang jauh lebih suci, lebih mulia, dan lebih hijau dalam pandang mata. Sebuah sikap kesatria yang tidak setiap orang bisa memilikinya. Sebuah sikap agung yang menggambarkan kelapangan hati di dalam raga yang sempit.

Adakalanya juga seseorang mencela seseorang yang lain tujuannya adalah untuk memberi teguran yang sederhana, hanya saja ia terjebak pada cara yang tidak mulia dengan mengemasnya dalam sebentuk celaan yang menyakitkan hati. Padahal sebentuk teguran yang dikemas dengan cantik dan indah akan lebih merasuk ke dalam hati tinimbang menggunakan katakata yang keras lagi kasar penuh celaan. Katakata yang penuh cela hanya akan mengeraskan hati objek yang ditegur atau dinasihati. Sedangkan kelembutan teguran akan menyamarkan bahwa hal itu sejatinya adalah teguran, tapi dirasakan oleh objek sebagai sebentuk kesadaran pribadi.

“Sikap yang lebih baik dari sekadar kelembutan,” kata Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid dalam Al ‘Awaiq, “Adalah mengawali teguran dengan tersebut dengan penjelasan dan tafsiran yang baik. Lalu ia menerangkan pada sahabatnya bahwa itu adalah majelis keberterusterangan dan saling memaafkan, bukan pertengkaran untuk perpecahan, dan bahwa dia ingin mengungkapkan semua isi hatinya di hadapan kekasih atau teman sejawatnya, dengan tujuan agar hati menjadi lega dan agar semua jalan syaithan untuk memecahbelah menjadi tertutup, bukan untuk mencaricari alasan menjauhi dan berpikir menuduh.”

Lantas masing-masing hendaklah menyelesaikan majelis mulia itu dengan senyuman. Dan berpisah tanpa sedikitpun rasa marah. Karena sesungguhnya rasa marah itu seringkali menutupi akal sehat dan menyebabkan logika tidak berpikir sebagaimana mestinya. Saatsaat marah itulah syaithan menguasai hawa nafsunya, kecuali marah yang diridhai Allah.

Pada saat marah itulah seseorang terbiasa untuk tidak bersikap adil dalam memandang persoalan dan permasalahan. Ia memperturutkan gejolak dirinya dan melupakan efek jangka panjang dari keputusan dan tindakan yang dilakukannya saat marah tersebut.

Marah pada umumnya timbul pada saat ia pertama kali berbenturan dengan penyebab sikap itu. Sehingga mengendalikan diri saat marah adalah sebuah keistimewaan dan keutamaan seseorang. Dengan mengendalikan kemarahan, ia mampu mengendalikan pikirannya, gerakan otot dan raganya, dan mengendalikan lidahnya. Sehingga ia dapat mencegah dirinya dari keterlanjuran dan menjaga dirinya pada laku kebaikan.

Saat ditanya tentang sikap wara’, Ibrahim Al Khawwas Az Zahid menjawab, “Tidak berbicara kecuali dengan benar, baik dalam keadaan marah ataupun ridha.”

Selain itu, bersikap adil dalam menyikapi persoalan yang terkait dengan keburukan seseorang adalah sebuah manifestasi keadilan yang tidak mudah. Terlebih lagi jika seseorang itu adalah seseorang yang selalu mencela kita atau bahkan sebaliknya, selalu memuji diri kita. Disinilah sikap kita diuji, karena berbuat tidak adil sama halnya dengan bersikap seperti orang tersebut.

Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid merumuskannya dengan tepat.

“Orangorang yang memperhatikan kegiatan-kegiatan kolektif (amal jama’i), akan menemukan bahwa sifat asli dan jati diri seseorang baru akan terlihat pada kondisikondisi sulit yang memerlukan kepahaman dan hati yang beriman. Berbagai sikap seorang tokoh pada kondisikondisi seperti itu  akan menunjukkan salah satu dari dua hal: kelayakan ataukah kelemahan diri. Seperti kondisi perselisihan tajam yang  akan merusak hubungan sesama da’i, atau cobaan berat yang hanya mampu ditanggung oleh seorang yang mempunyai keteguhan tinggi, atau godaan dunia dan kemudahan memperoleh harta atau jabatan, dimana tidak ada yang bersedia mementingkan da’wah hariannya, kecuali orang yang selalu menolehkan matanya pada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Beliau melanjutkan, “Sedangkan berbagai kesalahan biasa, dosa kecil, letupan kemarahan, dan emosiemosi lumrah, maka tidak seorangpun yang dapat terlepas dari halhal kecil seperti ini…. Dalam prinsip umum Islam, dan juga dalam ilmu pengetahuan secara umum, sesungguhnya barangsiapa yang banyak dan besar kebaikannya, dan pengaruh Islam terlihat jelas pada dirinya, maka dapat ditoleransi dari dirinya halhal yang tidak dapat ditoleransi dari diri orang lainnya, dan akan dimaafkan dari dirinya halhal yang tidak dapat dimaafkan dari diri orang lain.”

Konsep ini seperti halnya konsep fiqh thaharah tentang najis dan air dua kulah. “Apabila air sudah sampai dua kulah (sekitar 270 liter), maka ia tidak akan mengandung kotoran,” kata Rasulullah seperti dicatat Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak.

Sementara itu, seorang tabi’in yang faqih, Sa’id bin Al Musayyab, merumuskan dalam prinsip jarh wa ta’dil, “Tidak ada orang mulia, orang berilmu, dan orang berjasa, kecuali dia mempunyai aib (kekurangan), akan tetapi di antara orang itu ada yang tidak layak disebut keburukannya, karena barangsiapa yang keutamaannya lebih besar dari keburukannya, maka keburukannya itu akan terhapus oleh kebaikannya.”

Bahkan, salah seorang muhadits masa ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, yang mewakili kelompok salafi – kelompok yang dikenal sangat keras menentang metode dakwah Ikhwanul Muslimin – pun bisa berlaku mendekati keadilan saat beliau berkomentar di hadapan para muridnya tentang sang pendiri Ikhwanul Muslimin sebagaimana tercatat dalam Mudzakarah Al Watsaiq Al Jaliyyah, “Dan kita selalu berbicara tentang Hasan Al Banna rahimahullah. Maka saya katakan kepada saudara-saudaraku, saudara-saudara salafiyin, di depan semua kaum muslimin: Seandainya Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah tidak memiliki jasa dan keutamaan terhadap para pemuda muslim selain bahwa beliau menjadi sebab yang mengeluarkan mereka dari tempattempat hiburan, bioskop dan kafekafe yang melalaikan, lalu mengumpulkan dan mengajak mereka di atas dakwah yang satu, yakni dakwah Islam, -seandainya beliau tidak memiliki lagi keutamaan kecuali hanya perkara ini-, maka ia sudah cukup sebagai satu keutamaan dan kemuliaan. Ini saya katakan bersumber dari sebuah keyakinan, dan bukan untuk mencari muka dan tidak pula sekedar basabasi.”

Begitulah seharusnya seorang muslim bersikap, saat ia harus memberikan teguran kepada sesama muslim, saat ia menerima teguran dari saudaranya yang lain, dan saat ia menyaksikan seseorang menegur orang lain, yang seringkali teguran itu berwujud celaan, makian, dan tudingan. Menasihati  ke jalan kebenaran memang tidak selalu manis, bahkan terlalu sering pahit bersama ketajaman lidah, hanya saja seperti kata penyair, “Sekiranya cela harus dinyatakan, maka lakukan dengan cara terbaik untuk dikatakan.”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s