Membaca Al Quran

Menjejak Peradaban Rabbani

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf: 111)

Masa ini, kiblat peradaban mengarah ke Barat. Di kumpulan bangsa bermental materialistis dan meninggalkan nilai-nilai fithrah kemanusiaan. Berbagai macam ketinggian adab diukur dengan takaran materi dan teknologi. Sementara di sebarang lini dimensi lain, kehancuran kebobrokan peradaban itu seakan tidak dipedulikan. Maka, muncullah kezhaliman di segala bidang penyusun peradaban mereka. Muncul isme-isme yang dibuat sekelompok orang atas nama kepentingan dan kemaslahatan orang banyak. Namun sejatinya malah memberikan kemudharatan kepada manusia-manusia yang mengekor di belakang laju peradaban itu.

Kaum Muslimin yang jumlahnya sangat banyak pun rasanya turut terbawa serta dalam euforia masa modern. Menasbihkan diri menjadi pengikut dari peradaban Barat. Seakan mereka malu untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki peradaban tersendiri yang kemuliaannya dijamin dari langit. Di sisi lain, segerombol kaum Muslimin yang lain menjadi pengikut dan memberhalakan peradaban Barat atas dasar keawaman mereka, karena tidak memahami, karena tidak mengetahui bahwa ada Islam yang menjadi ciri kemuliaannya.

Saat ini, kaum Muslimin menjadi manusia kelas rendah dalam pandangan umum dunia. Tingkah laku dan gerak langkah mereka tidak mencerminkan pengejawantahan ajaran Islam yang dianutnya. Bahkan, menyitir ungkapan seorang ulama, kemuliaan Islam tertutupi oleh pengikutnya sendiri. Penyebabnya sederhana, karena mereka lebih memilih meninggalkan dua pegangan utama kaum Muslimin, yaitu Al Qura’n dan As Sunnah. Mereka melupakan bagaimana keadaan generasi awal umat ini yang pernah menjadi mercusuar peradaban dunia, para shalafus shalih. Mereka melupakan kegemilangan generasi terbaik manusia menjadi mutiara dalam rangkaian sirah kehidupan mereka, terutama mengenai perjalanan hidup Sang Pembawa Risalah: Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi was salam.

Umat ini terlena oleh jalannya masa yang cepat, sedangkan mereka tidak memiliki pondasi aqidah tauhid yang kuat. Jiwa mereka telah menjadi kerdil oleh gunung materialisme yang nampak di pelupuk mata mereka. Hingga untuk bangkit dan melawan imperialisme di dalam jiwa mereka pun tidak sanggup, kecuali segelintir manusia yang memperoleh cahaya keimanan dan hidayah ilahi.

Tali Nan Kokoh

Ustadz Rahmat Abdullah, dalam pengantar buku Al Manhaj Al Haraki lis Siratin Nabawiyah, menerangkan bahwa umumnya kajian keilmuan terbagi dalam tiga kerangka besar: aqidah, fiqih, dan akhlak. Ketiga kajian ini awalnya dirasa cukup untuk membentuk manusia muslim yang paripurna, insan kamil. Manusia yang memiliki perasaan, pemikiran, dan penghambaan atas dasar tauhid kepada Allah. Manusia yang bergerak dan beribadah dengan cara yang benar dan shahih kepada Allah. Manusia yang memiliki moralitas dan jiwa yang berpendar di atas jalan kefithrahannya.

Namun, pada ketiga kajian itu ada hal yang terputus. Yakni satu tali rantai pengikat nan kokoh yang menghubungkan ketiga kerangka kajian keislaman itu. Tali itu adalah sirah nabawiyah. Sebuah kajian yang menjadi alur bagi penerapan dan kontekstualisasi ketiga konsep kerangka kajian tersebut.

Menurut proses dan gaya penulisannya, sirah nabawiyah tentang perjalanan hidup Rasulullah terbagi menjadi beberapa bentuk penulisan. Pertama, para sejarawan klasik cenderung menulis sirah nabawiyah dengan cara lebih banyak menyuguhkan data, fakta tentang Rasulullah, dan sumber-sumbernya hingga detil-detil kecil. Kedua, para sasterawan klasik yang menceritakan sirah dalam bentuk bait-bait sastera hingga bisa dinikmati oleh masyarakat umum dengan keindahan tata bahasanya. Ketiga, sejarawan modern cenderung menulis dalam bentuk narasi terpadu. Keempat, sejarawan dan praktisi pergerakan Islam yang menulis dalam bentuk analisis, perbandingan, dan pengambilan hukum dan hikmah dari suatu kejadian, serta bagaimana penerapannya dalam dunia modern. Poin keempat ini dikenal dengan fikih sirah, yang menjadi pengikat sirah kehidupan Rasulullah dan dunia masa kini.

Dewasa ini, sebagian masyarakat Islam hanya mengenal sirah nabawiyah sebagai sebuah biografi yang dangkal tentang kehidupan seorang tokoh besar semata. Sementara, sebagian yang lain menganggap bahwa sirah nabawiyah hanyalah ritus dalam acara-acara di peringatan hari tertentu dengan syair barzanji, diba’i, burdah, dan ‘azb. Ritus rutin tanpa semangat juang dan gelora jihad yang mengiringi kisah-kisah peperangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam. Sedangkan sebagian kecil kaum cendekiawan Muslim yang mengekor peradaban Barat, yang mengagungkan ‘keilmiahan dan keobjektifitasan’, menulis sirah nabawiyah tanpa ruh Islam. Semata-mata menulis untuk tujuan karya pribadi, bukan untuk membangkitkan ummat yang tengah lelap dan kekerdilan jiwa yang akut.

Karena itu, para ulama yang sadar akan perjuangan Islam menulis sirah nabawiyah dengan semangat keberislaman yang tinggi, dengan tujuan mampu menjadi salah satu sarana utama dalam menumbuhkan iman di dada ummat, membersihkan perangai buruk, membangun moralitas, mengobarkan api perjuangan, memberikan keteguhan di jalan dakwah, mengokohkan kesetiaan pengabdian, membakar ruhul jihad, dan memperdalam rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya.

Satu Batu Lain

“Tujuan mengkaji sirah nabawiyah,” kata DR. Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthi dalam Fiqhus Sirah, Dirasat Manhajiyah ‘Ilmiayah lis Siratil Musthafa ‘Alaihi was Salam, “Ialah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin dalam kehidupan Nabi shalallahu ‘alaihi was salam, sesudah ia dipahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah, dan hukum. Sirah nabawiyah hanya merupakan upaya aplikatif yang bertujuan untuk memperjelas hakikat Islam secara utuh dan keteladanannya yang tertinggi, Muhammad shalallahu ‘alaihi was salam.”

Hal ini merupakan konsep pengejawantahan Al Qur’an di dalam kehidupan, yang dipraktikkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam sebagai teladan tertinggi yang menyampaikan risalah Allah di muka bumi. Tidaklah mungkin sebuah dapat diterima dan dilaksanakan dengan sempurna tanpa adanya prototype yang menjadi teladan bagi pengikutnya. Dengan kata lain, sirah nabawiyah merupakan aplikasi nyata dari nilai-nilai qur’ani.

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka..” (QS An Nahl: 44)

Secara ringkas, manfaat dan pentingnya mempelajari sirah nabawiyah, menurut Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az Zaid, adalah sebagai berikut.

1. Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam dapat dijadikan suri teladan dengan cara mengenal perjalanan hidup dan petunjuk-petunjuknya.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab: 21)

2. Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam adalah manusia paling mulia sepanjang sejarah. Sosok manusia ideal di dalam seluruh dimensi kehidupan.

“Aku adalah penghulu anak cucu Adam pada hari kiamat,”sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam dalam Shahih Bukhari.

3. Mempelajari sirah nabawiyah berguna untuk memahami Kitab Allah, karena banyak ayat Al Qur’an turun disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada periode sejarah perjalanan Nabi. Dan setelah turunnya ayat tersebut, maka respon Nabi terhadap substansi ayat tersebut adalah penjelasan langsung dan konkret tentang cara mengamalkan isi kandungannya. Dalam disiplin kajian Islam, ini dikenal dengan asbabun nuzul.

4. Diantara prinsip-prinsip yang wajib diketahui oleh seorang Muslim setelah Allah dan Islam adalah kewajibannya mengenal Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam. Ketiganya merupakan bagian dari kajian Tiga Dasar atau Ushuluts Tsalasa.

5. Sirah nabawiyah mencakup banyak tsaqafah dan ilmu keislaman, seperti aqidah, hukum, akhlak dan moral, serta metode da’wah.

Hal penting tentang sirah nabawiyah adalah cakupannya yang sangat luas dalam dimensi kehidupan. Sirah Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam tidak hanya mencakup dimensi ukhrawi semata, tapi juga dimensi sosial dan material yang ada pada manusia. Dimensi kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam ini seharusnya memberikan inspirasi bagi tiap pengikutnya. Terutama dalam membangun peradaban di dalam rangka menjalankan misinya untuk memakmurkan bumi.

Dengan berpijak pada jejak atsar sirah nabawiyah dan bagaimana langkah serta tahapan yang ditempuh oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam dalam mendidik generasi dan membangun peradaban rabbani yang bermula di gunung tandus, maka kini ummat harus kembali menjadikannya suluh sebagai penerang langkah dalam mengembalikan kemuliaan Islam dan ketinggian risalahnya sebagaimana pada generasi awal. Di sinilah, sirah nabawiyah akan menuntun kita dalam menjalankan perjuangan suci itu, menegakkan kalimat Allah di muka bumi dan membangunnya dengan peradaban rabbani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s