Lari Run

Songsong

“Aib paling ringan bagi seseorang,” kata Thalhah bin Ubaidillah, “Adalah ia duduk di rumahnya.”

Bukankah begitu sederhana ungkapan yang disyampaikan sang syuhada’  hidup ini, duhai Tuan? Sebuah pengingat bagi kita tentang rendahnya kedudukan seseorang dan cela yang mencoreng mukanya karena keengganannya dan kemalasannya untuk keluar dari kenyamanan rumah ke kerasnya realiti perjuangan di luar rumah.

Tahukah Tuan tentang apa yang disampaikan Allah untuk rasulNya?

“Hai orang yang berselimut, bangunlah! Lalu berilah peringatan!”

Sebuah perintah yang wajib dilakukan oleh Rasulullah. Menanggalkan kenyamanan yang melekat bersama kehangatan selimut, menanggalkan rasa malas dan tak acuh. Mengenakan jubah perjuangan, kepedulian, keberanian, dan kebenaran, lantas menyeru manusia yang tersesat untuk kembali pada jalan Tuhan, kebenaran, keadilan, dan ketundukan.

Setiap orang berilmu yang hanya duduk di rumahnya, berpangku tangan dari menasihati ummat, berdiam diri atas kemaksiatan yang mereka perbuat, merasa diri cukup selamat di hisab akhirat, dan mengkavling surga dengan ibadahnya, maka sejatinya ia tidaklah terlepas dari kemunkaran itu. Masyarakat zaman ini adalah masyarakat yang sakit. Yang jiwanya tergerogoti nafsu syahwati dan hawa syaithani. Yang pengetahuannya akan kebenaran tidak mengalahkan banyaknya pengetahuannya akan kemaksiatan dunia, yang dianggapnya kebaikan. Masyarakat ini adalah masyarakat yang sakit, yang satusatu obatnya adalah mengembalikan mereka pada jalan Allah. Mereguk nikmatnya kebenaran dan menjalankan ketundukannya dengan sempurna. Dan penawar sakit itu dibawa oleh para da’i yang di tangannya tergenggam Al Qur’an dan sunnah nan shahih..

Sementara di seberang sana sekelompok masyarakat lain yang hatinya masih didominasi warna cahaya berjalan tertatih melaksanakan ajaran ilahi dari sepotong kata sepotong ilmu seadanya sekadarnya. Tidak mengetahui ilmu akan dasar agama ini dan cabangcabangnya. Hingga mereka pun menjalankan agama dengan berdasar tradisitradisi lokal yang dianggapnya sebagai ajaran agama. Maka tercampurlah apaapa yang bukan dari Allah dengan apaapa yang shahih. Jadilah ia sebentuk ritus baru yang tak bernilai di mata Allah, meski mereka melaksanakannya dengan ikhlas, meski berpayahpayah. Hanya karena tidak ada seorang berilmu yang sudi berbagi ilmunya pada mereka, di tempattempat yang masih damai dan hijau..

Ingatkah Tuan pada sekelompok jin yang mendengarkan kabar gembira dan peringatan dari Rasulullah? Allah mengabarkan pada kita dalam surat Al Ahqaf bahwa ‘mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.’

Bahkan mereka bersegera kembali pada kaum mereka, sesama jin, untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak mereka pada cahaya Islam. Meninggalkan kenikmataan kemesraan majelismajelis ilmu Rasulullah demi sampainya kebenaran itu pada kaumnya yang belum mengetahui. Begitulah jiwa para penyeru.

Tuan, ajaklah saya bergerak meninggalkan kenyamanan belitan selimut hangat ini. Tinggalkan keteduhan naungan rumah. Songsonglah bersama saya para ummat yang kesakitan. Kita bawakan obat penawar rindu dan cinta yang shahih, dari dua warisan Rasulullah.. Biar saja kita berlelahlelah di kampung mereka, biar saja kita berpayahpayah di tanah mereka, biar saja kita berdarahdarah di jalanan mereka, karena kita yakin bahwa masa istirahat itu akan menjadi jauh lebih nikmat, saat tapak kita menginjak rumput surga.

Bukankah Tuan dan saya telah mengikat dalam kata itu. Da’wah. Kata cinta yang indah dalam runtutan kata Ustadz Rahmat Abdullah..

da’wah adalah cinta

dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu

sampai pikiranmu

sampai perhatianmu

berjalan, duduk, dan tidurmu

bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang da’wah

tentang umat yg kau cintai

lagilagi memang seperti itu

da’wah

menyedot  saripati energimu

sampai tulang belulangmu

sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu

tubuh yg luluh lantak diseretseret

tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari

Mari berlelahlelah arungi lautan dan berlabuh di pulau seberang, membangun ummat yang terlelap, dan menawarkan mereka dari sakit yang menyekarat. Kurangi sedikit waktu ruku’ dan sujud nafilah kita dan perbanyaklah menawarkan ummat, berda’wah, mengajarkan agama, dan mendidik para pemudanya karena merupakan kewajiban yang lebih baik dan banyak pahalanya.

Ingatkan pula saya pada nasihat Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid, “Barangsiapa menunggu didatangi orang, maka ia bukan da’i.”

“Pada hari ini,” kata beliau lagi, “Tidak disebut da’i kecuali orang yang mau mempelajari dan mengkaji masyarakat, menanyakan kondisi mereka, mengunjungi mereka di majelismajelis dan pertemuanpertemuan mereka. Siapa yang menunggu kedatangan orangorang kepadanya di masjidnya atau di rumahnya, maka waktu akan membuatnya sendirian dan belajar cara menguap.”

Da’wah menuntut Tuan untuk berhubungan dengan ummat.  Meninggalkan sejenak kebersamaan dengan isteri, anak, dan keluarga. Meninggalkan tanah kelahiran yang dicintai menuju tanah baru dimana ummat menunggu untuk diseru dari tidur lelapnya. Menghadap diri dengan ketundukan penuh pada Allah. MengharapkanNya menolong mereka melalui seruanseruan kita. Dan berdoa semoga Allah menolong kita untuk menguncang orangorang yang terbelenggu kecemasan dan penyesalan terhadap realita ummat dan mendorong mereka turut menyeru pada kebenaran. Begitu Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid menjelaskan dalam Al Munthalaq.

Dan jadilah seorang lelaki sederhana yang meski tidak berkedudukan dan tidak pula kaya, tapi mampu membangun ruhul istijabah di dalam dirinya, bersegera menyambut seruan kebenaran, sekaligus bersegera menyongsong ummat untuk mengabarkan kebenaran, seperti Habib An Najjar yang diabadikan dalam Al Qur’an.

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang lelaki dengan bergegasgeas. Ia berkata, ‘hai kaumku. Ikutilah utusanutusan itu’.” (Yasin: 20)

“Jelas bahwa lelaki itu tidak punya kedudukan dan kekuasaan, tidak sedang dalam pembelaan kaumnya atau keluarganya. Tetapi aqidah yang hidup dalam nuraninya itu mendorongnya dan membawanya datang dari ujung kota ke ujung kota yang lain,” jelas Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an.

Tuan, setidaknya ajaklah saya mendatangi mereka. Jangan biarkan saya menanti menunggu mereka mendatangi saya meminta diseru pada kebenaran. Karena hal itu sangat kecil mungkin terjadi. Mari songsong mereka. Jangan hanya duduk berkhayal dan berharap akan datang ummat meminta seruan kita. Jangan diam. Bergeraklah.. Berjalanlah.. Berlarilah…!  Karena kata ‘diam’ tidak akan pernah mengantarkan kita pada kata ‘sampai’.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s