Cita cita

Cita di Ujung Cita

Ingatkah Tuan pada kisah seorang lelaki Badui yang ikhlas berjihad dan mengharapkan kesyahidan?

Sebuah kisah ketulusan tekad, kemurnian niat, dan kesucian cita yang tak pernah ternodai oleh lumpur dunia serta pesona kemilaunya. Hatinya lurus menghadap Allah, lakunya mantap hanya syahid yang diharap. Akan saya nukilkan sepotong hidupnya untuk kita nikmati dan kita renungi pendar juang citanya.

Saat itu seorang lelaki Baduwi yang tidak tercatat namanya dalam sejarah datang menemui Rasulullah, sebagaimana dikisahkan oleh Imam An Nasa’i.Ia beriman, lantas bertaqwa. ”Aku berhijrah untuk mengikuti ajaranmu,” katanya.

Setelah kembali dari suatu peperangan, Rasulullah memperoleh harta rampasan perang. Rampasan itu dibagibagi untuk Rasulullah dan para shahabat. Orang Baduwi tersebut juga mendapat bagian. Tetapi ia tidak kelihatan. Ketika suatu hari ia berada di tengahtengah shahabat. Para shahabat memberikan jatah tersebut kepadanya.

Ia bertanya, “Apa ini?”

“Bagianmu yang telah disisihkan oleh Nabi.”

Ia mengambil jatah tersebut lalu mendatangi Rasulullah seraya bertanya, “Apa ini?”

Beliau menjawab, “Aku telah menyisihkannya untukmu.”

“Aku mengikutimu bukan untuk memperoleh seperti ini, tetapi agar aku terkena anak panah di sini sehingga aku menemui ajalku dan masuk surga,” katanya sambil mengisyaratkan telunjuknya pada satu bagian di lehernya.

“Jika engkau jujur kepada Allah,” kata Rasulullah, “Niscaya Allah percaya dan akan menyampaikan keinginanmu.”

Ia terdiam sejenak, kemudian bangkit untuk ikut serta memerangi musuh. Setelah itu datang seseorang menggotongnya sambil membawa pedang, dia terluka pada bagian sebagaimana yang ia isyaratkan, lehernya. Sebuah anak panah telah menembus lehernya. Tepat! Tepat di bagian yang sebelumnya ditunjuknya.

“Apakah ini orang Baduwi yang itu?” tanya Rasulullah.

“Benar.”

“Ia jujur kepada Allah,” kata Rasulullah, “Maka, Allah memenuhi permintaannya.”

Pemandangan indah pun nampak tatkala Rasulullah mengkafaninya dengan baju jubah beliau, kemudian menshalatkannya. Sebuah penghargaan yang demikian tinggi untuk seorang Baduwi yang bahkan namanya tidak pernah dicatat sejarah. Rasulullah pun bahkan berdoa secara khusus untuknya, “Ya Allah, ini adalah hambaMu, keluar dari kabilahnya untuk berhijrah menuju jalanMu, kemudian mati syahid karena terbunuh, dan aku menjadi saksi atas yang demikian itu.”

Begitu indah sebuah citacita dari seorang lelaki sederhana yang berbalut ketulusan dan keikhlasan. Mawujud secara nyata hingga sedetildetilnya karena kejujuran hatinya bertemu dengan ijabah ilahiyah. Bukan sekadar kedustaan cita dan anganangan belaka, tetapi ridha Allah.

Namun, ada pula cita tulus yang terkadang tak mawujud sesuai kehendaknya, akan tetapi Allah tetap mengijabah keinginannya secara maknawi, tanpa gincugincu kausalitas material. Shahabat yang mulia, Khalid bin Walid, mengejawantah dalam konsepsi ini. Ia adalah panglima bergelar Saifullah, Pedang Allah. Seorang panglima militer terbaik di masanya. Tak terkalahkan dalam peperangan yang dipimpinnya. Begitu kuat cita dan azzam dirinya meraih syahid dan bergelar syuhada’. Di tiap peperangan yang dijuangkannya, senantiasa harapan itu yang membuncah memenuhi rongga jiwanya. Bergerak merangsek ke kumpulan musuh, menebaskan pedangnya, hanya dua kemungkinan yang terjadi, ia membunuh musuh atau ia yang terbunuh. Dan tak pernah ia terbunuh dalam puluhan bahkan mungkin ratusan peperangan yang diikutinya.

Dicatat dalam Siyar A’lam Nubala, saat Khalid akan meninggal dunia, beliau menangis dan berkata, “Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkal pun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak. Dan sekarang aku mati di atas ranjangku terjelembab sebagaimana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut.”

Sebuah ironi, dalam tanda kutip, Allah menghendakinya menghembuskan napas jiwa terakhirnya di atas ranjangnya, bersama air mata yang meleleh mengharapkan kesyahidan, di usia 52 tahun. Namun, Allah tidak menyianyiakan perjuangan dan keabadian citanya. Sang Kekasih, Rasulullah, pernah berkata, seakan kata itu hanya untuk Khalid bin Walid, “Barangsiapa yang memohon syahid kepada Allah dengan tulus, maka Allah akan menyampaikan dirinya ke derajat syuhada’ meskipun dia mati di atas ranjangnya.”

Shahabat mulia itu tidak pernah syahid di medan pertempuran, tapi ia menempati derajat syuhada’ seperti cita yang diharapkannya.

Begitu juga dengan shahabat mulia yang lain, Umar bin Khathab. Saat itu beliu menjabat sebagai Amirul Mu’minin. Kepada para shahabatshahabat Rasulullah, beliau berkata, “Bercita-citalah!”

Seseorang mengatakan, “Saya bercita-cita seandainya rumah ini penuh dengan emas, niscaya akan saya infaqkan di jalan Allah.”

Umar berkata kembali, “Bercita-citalah!”

Seseorang yang lain mengatakan, “Saya bercita-cita rumah ini penuh dengan mutiara, zamrud dan permata, niscaya saya akan menginfaqkan di jalan Allah dan menyedekahkannya.”

“Bercita-citalah!” kata Umar kembali. Seakanakan ia tidak puas dengan jawaban para shahabatnya.

Shahabatnya pun berkata, “Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan, wahai Amirul Mu’minin.”

“Aku,” kata Umar bin Khathab, “Bercita-cita tampilnya orangorang seperti Abu ubaidah bin Al Jarrah, Mu’adz bin Jabal, dan Salim maula Abu Hudzaifah. Niscaya aku akan meminta bantuan guna menegakkan Kalimatullah!”

Citacita Umar memang tak pernah mawujud, tapi pada masanya, Islam mampu tegak dan membebaskan negerinegeri di berbagai benua dari lumpur kenistaan dan kejahiliyahan. Mengangkat mereka ke kemuliaan cita rasa kemanusiaan dan penghambaan, serta memakmurkan mereka dengan cinta ilahi. Tentu sja semua yang dilakukan Umar bin Khathab itu adalah dalam rangka mennggapai ridha Allah.

Di era kontemporer, tatkala agama ini menempati posisi ke sekian dalam bingkai laku kemanusiaan secara umum, seorang pemuda sederhana dengan semangat keislaman yang membara menuliskannya di secarik lembar jawaban saat ujian Darul ‘Ulum, Mesir. Ia menuliskan citacitanya, dengan tulus.

“Aku ingin menjadi seorang ustadz dan du’at. Aku akan mendidik para pemuda pada waktu siang, malam, dan waktu cuti. Aku akan mengajak keluarga mereka mengamalkan cara hidup Islam dan menunjukkan kepada mereka jalan untuk mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan hidup hakiki. Aku akan menggunakan caracara yang paling baik semampu saya untuk mencapai tujuan ini melalui penjelasanan, penulisan, dan pengembaraan di jalan raya dan loronglorong.”

Nama pemuda itu adalah Hasan Al Banna.

Ia tidak sekadar beretorika dengan citacitanya. Ia berjuang mengorbankan segala yang mampu ia korbankan, termasuk nyawanya! Demi tegaknya Islam di seluruh muka bumi dan menjadikannya sebagai guru bagi alam. Dan sejarah menunjukkan ia tidak pernah melihat ujung citanya itu mawujud. Namun, perjuangannya telah menuntun untuk kemawujudan ujung citanya itu. Ia membangun pribadipribadi muslim sejati. Ia membangun keluargakeluarga dan rumah tangga islami. Ia membangun masyarakat yang tersibghah dengan warna Islam. Dan ia meletakkan pondasi dasar bagi kehidupan islami sebuah negara. Di titik itulah, ia berhenti atas kehendak Allah. Diterjang peluru para durjana, dan meraih kesyahidannya, insya Allah.

Orangorang merasa dan mengatakan bahwa da’wahnya telah gagal. Selama puluhan tahun jama’ah yang didirikannya tak mampu mewujudkan satupun negera Islam, bahkan di negara asalnya, Mesir. Tidak! Sesungguhnya lelaki itu telah berhasil menuntaskan misi yang diembannya. Dan kini, generasi ketiganya telah mampu menumbangkan Fir’aun negeri Mesir. Dan kini, manusia yang memperoleh hidayah melalui jama’ahnya telah meluas di seluruh penjuru mata angin, di barat dan timur, sepanjang matahari bersinar. Dan kini, Tuan dan saya berlaku di sini pun mungkin karena lelaki itu. Karena citacita nya yang melebihi usianya. Sementara saya dan Tuan adalah salah satu tapak untuk mewujudkan citacita itu.. Menjadikan agama ini sebagai guru bagi dunia, rahmat bagi seluruh alam, demi mendapatkan mardhatillah..

Bahkan, salah seorang muhadits masa ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, pun membenarkan keberhasilan dakwah lelaki itu, saat ia menyebutkan keutamaannya di hadapan para muridnya, “Dan kita selalu berbicara tentang Hasan Al Banna rahimahullah. Maka saya katakan kepada saudarasaudaraku, saudarasaudara salafiyin, di depan semua kaum muslimin:

Seandainya Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah  tidak memiliki jasa dan keutamaan terhadap para pemuda muslim selain bahwa beliau menjadi sebab yang mengeluarkan mereka dari tempattempat hiburan, bioskop dan kafekafe yang melalaikan, lalu mengumpulkan dan mengajak mereka di atas dakwah yang satu, yakni dakwah Islam, –seandainya beliau tidak memiliki lagi keutamaan kecuali hanya perkara ini-, maka ia sudah cukup sebagai satu keutamaan dan kemuliaan. Ini saya katakan bersumber dari sebuah keyakinan, dan bukan untuk mencari muka dan tidak pula sekedar basabasi.”

Subhanallah, citacita yang tinggi akan mengantarkan pemiliknya pada ketercapaian dan ketermawujudan citacita itu, dengan perjuangan yang benar dan keikhlasan yang tulus. Dan apa yang dicitacitakannya itu bukanlah sekadar anganangan semu, tanpa perjuangan dan perhitungan jalan. Maka, marilah bercitacita yang jauh. Cita yang terderivatisasi dalam citacita pengantarnya yang banyak dan panjang. Yang mungkin akan sangat melelahkan, tapi kemawujudannya adalah hadiah ilahi yang tak ternilai.

Selalu ingatlah saat Umar bin Khathab berwasiat tentang citacita, “Jangan sekalikali kamu memperkecil cita-citamu, karena sesungguhnya aku tidak melihat seseorang yang terbelenggu kecuali karena ia tidak memiliki cita-cita.”

Citakanlah mardhatillah, ridha Allah.. Sebuah cita di ujung cita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s