Mujahidin

Debu Misik

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid, dalam Al Munthalaq, menjelaskan tentang manusiamanusia yang terlena oleh kenikmatan ilahiyah berupa manisnya ibadah nafilah. Para abid zahid yang lena.

Adalah benar bahwa ibadah merupakan sebuah terminal peristirahatan yang akan mengisi kembali tenaga dan vitalitas kehidupan dan perjalanannya. Dan adalah benar bahwa ibadahibadah nafilah itu memberikan tambahan keutamaan kepada pelakunya. Namun, manisnya cita rasa ibadah pun bisa menjadi candu yang busuk tatkala ibadahibadah nafilah itu malah melenakan pelakunya dari berbagai kewajiban, baik yangfardhu ‘ain ataupun fardhu kifayah.

Para abid yang senantiasa beribadah dan berupaya bertaqarub pada Allah dengan berbagai amalan ibadah seringkali mengisi waktu di harihari yang dilaluinya dengan terus menerus berada di masjid Allah. Atau bahkan tidak sedikit dari mereka membangun pertapaanpertapaan a la rahib dan pendeta di tempattempat yang jauh dari manusia ramai dan menamainya dengan padepokan anu dan anu. Mengkhususkan pertapaan-pertapaan itu untuk peribadatan mereka, shalat nafilah, tathawwu’, shaum, tilawah, dan dzikrullah dengan kalimat-kalimat thayibah.

Mereka, para abid itu, mengasingkan diri dengan ber’uzlah dari hiruk-pikuk kehidupan manusia, yang semakin tercemar kemaksiatan, yang semakin beraroma darah, yang warnanya semakin pekat hitam setelah berlalu abuabu, yang sulit lagi ditemui keadilan dan ketakwaan, kecuali segelintir manusia yang bercahaya di atas petunjuk cahaya. Mereka tahu bahwa di luar pertapaannya sana, manusia sedang kebingungan dan hampir tersesat di persimpangan kehidupan. Akan tetapi para abid ini hanya bisa memberikan rasa iba dan keprihatinan atas realitas kehidupan. Sementara ia berdalil bahwa dirinya hanyalah harus menjaga dirinya dengan memperbaiki aqidahnya, menyempurnakan ibadahnya, dan mendalami ilmuilmu agamanya.

Mereka terus saja menyendiri di pertapaannya meskipun mereka tahu bahwa para pemudanya telah dijejali dengan ismeisme yang jauh dari nilai ilahiyah, pluralisme, sekularisme, atheisme, eksistensialisme, liberalisme, kapitalisme, komunisme, sosialisme, dan ismeisme yang lain. Sementara kalangan cendekiawan dan intelektualnya disusui dan dijadikan kambing perahan untuk menuruti nafsu dan kehendak musuhmusuh Islam. Dan para pemudi muslimah pun dicekoki dengan asupanasupan materialistik hingga segala sesuatu dalam pandangan mereka hanya berkisar pada mode, fashionaction, dan lotion.

Generasi awal ummat ini memiliki kesadaran yang tinggi, pemahaman realitas, dan rasa kebertanggungjawaban yang tinggi terhadap persoalan ummat. Adalah Abdullah bin Al Mubarak, seorang muhadits mujahid, menulis dalam kitab Az Zuhd, perihal perbuatan Abdullah bin Mas’ud yang melarang orangorang ber’uzlah di luar kota Kufah.

“Orang-orang,” tutur Amir Asy Sya’bi, salah seorang perawi, “Keluar dari Kufah dan mengambil tempat tidak jauh darinya untuk beribadah.”

Hal itu terdengar oleh Abdullah bin Mas’ud. Lalu beliau mendatangi mereka, para abid pertapa itu. Mereka pun senang dengan kedatangan salah seorang shahabat rasulullah tersebut.

“Apa alasan kalian berbuat demikian?” tanya Ibnu Mas’ud.

“Kami senang keluar dari kegaduhan manusia untuk beribadah,” jawab para abid pertapa itu.

“Seandainya orangorang berbuat seperti yang kalian lakukan,” ujar Ibnu Mas’ud, “Maka siapa yang akan memerangi musuh? Aku akan tetap di sini sampai kalian pulang.”

Begitulah shahabat Rasulullah ini memaksa para abid pertapa itu untuk kembali pulang ke Kufah dan bergaul kembali dengan manusia ramai. Kembali bersama kaum muslimin dan memerangi musuhmusuh Islam dari kalangan kaum kafir.

Yang tidak kalah memprihatinkan adalah apa yang terjadi pada paruh kedua abad kedua Hijriyah. Saat itu fenomena ‘uzlah para abidin dan meninggalkan jihad kembali terjadi. Salah seorang abid zuhud yang terkenal, Al Fudhail bin ‘Iyadh, pun terkena pengaruh fenomena ‘uzlah ini. Beliau adalah salah seorang abid yang sebelumnya merupakan penyamun dan menemukan hidayah ilahi. Kemudian ia menginfaqkan dirinya untuk tinggal di Masjidil Haram dan terusmenerus beribadah di sana. Ia memiliki banyak katakata hikmah yang bagus dan indah, serta dikenal sering menangis.

Namun, menurut Abdullah bin Al Mubarak, apa yang dilakukan Al Fudhail belumlah cukup karena ia telah meninggalkan jihad untuk memerangi musuh Islam. Sepulang dari Tharsus, sepulang salah satu peperangannya, saat debudebu masih menempel, Ibnu Al Mubarak menulis baitbait syair untuk Al Fudhail.

Mari Tuan dan saya mendengarkan bait-bait syair ini. Merenungkannya bersama lelehan airmata Al Fudhail bin ‘Iyadh.

wahai abid al haramain, seandainya kau melihat kami, niscaya

kau tahu bahwa kau bermainmain dengan ibadah

barang siapa yang pipinya berlumuran dengan air mata, maka

leherleher dan dada kami berlumuran darah kami

atau kudakudanya berlelahlelah dalam kebatilan, maka

kudakuda kami berletihletih pada peperangan

angin berbau harum adalah untukmu, sedang bau harum kami adalah

debu tanah keras dan debu yang suci

sungguh telah datang kepada kami diantara sabda Nabi kita, 

perkataan yang benar, jujur, dan tidak berdusta

tidaklah sama debu kudakuda Allah di hidung seseorang

dan asap neraka yang bergolak

inilah kitab allah yang berbicara di antara kita

sang syahid tidak mati, ini bukan dusta

Setelah membaca syair itu, Al Fudhail tak kuasa menahan airmatanya, dan berkata, “Benarlah Abu Abdirrahman, dia telah menasihatiku”. Abu Abdirrahman adalah nama kunyah Ibnu Al Mubarak.

Abdullah bin Mubarak menyebut tentang airmata Al Fudhail yang sangat murah jika dibandingkan dengan darah para mujahidin yang berperang. Ia juga menyebutkan tentang nilai kerendahan misik wangi yang dipakai para abid karena mengikuti sunnah Nabi, tapi tidak mau berwangikan debudebu jihad seperti halnya Rasulullah dan para shahabat..

Syaikh Abdul Qadir Al Jilani dalam Al Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmani  juga memberikan nasihat bagi para zahid yang meninggalkan masyarakat juga disampaikannya dengan begitu indah.

“Para zahid pemula,” kata beliau, “Di dalam kezuhudannya lari dari makhluk. Sedangkan zahid yang sempurna dalam zuhudnya tidak menghiraukan mereka. Ia tidak lari dari mereka, sebaliknya mencari mereka, karena ia telah mengenal kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa telah mengenal Allah, maka ia tidak akan lari dari sesuatu pun, dan tidak takut terhadap sesuatu pun selainNya. Pemula lari dari orangorang fasiq dan ahli maksiat, sedangkan pemuncak mencari mereka. Bagaimana ia tidak mencari mereka, jika seluruh obat mereka ada di tangannya?”

“Wahai para zahid di muka bumi,” lanjutnya, “Majulah! Robohkan pertapaanpertapaan kalian dan mendekatlah kepadaku. Kalian telah duduk dalam khalwat tanpa landasan. Kalian tidak memerangi apapun.. Majulah..!”

Begitulah seseorang yang berilmu memahami realita dan idealita. Ia mengajak mereka untuk bersamasama menjadi seorang abid yang bekerja, bukan yang terlena oleh ekstase manis ibadah kesendirian dan keterasingan dari manusia.

Bahkan, dalam Shaidul Khathir, Abu Al Faraj Abdurahman bin Al Jauzi menyebut para zahid itu sebagai kelelawar dan orangorang pengecut. “Orang pemberani,” katanya, “Senantiasa belajar dan mengajar. Inilah derajat maqam para nabi alaihimus salam.”

Maka, benarlah Ustadz Sayyid Quthb saat mencetuskan konsep ‘uzlah syu’uriyah, pengasingan perasaan. Sebuah konsep yang serupa dengan ghurbah, keterasingan. Jika dasarnya ‘uzlah bermakna pengasingan secara fisik, maka ghurbah adalah pengasingan secara maknawi. “Yakhtalituna walakin yatamayazun,bergaul tapi tidak larut,” begitu kata beliau.

Inilah ghuraba‘ yang sebenarnya, bukan yang meninggalkan masyarakat dan mengasingkan diri secara fisik di pertapaannya.

“Siapakah ghuraba’ itu, wahai Rasulullah?” tanya seorang shahabat kepada Rasulullah, sebagaimana dicatat Imam Ath Thabrani dari Sahl.

“Yaitu orangorang yang melakukan perbaikan ketika orangorang lain rusak,” jawab Rasulullah. Sementara dalam riwayat Imam Al Baihaqi dan Imam Tirmidzi, Rasulullah menjawab, “Orangorang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”

Mari, Tuan dengarkan syair yang disenandungkan Syaikh Sa’ad Al Ghamidi dalam nasyid Ghuraba’:

bukanlah orang asing itu

mereka yang berpisah dari negeri mereka

dan mengucapkan selamat tinggal sekarang,

tapi orang asing itu ialah mereka yang tetap serius

di kala manusia di sekelilingnya asyik bermainmain

dan tetap terbangun ketika manusia di sekelilingnya

asyik tidur dengan lenanya

dan tetap mengikuti jalan lurus

di kala manusia dalam kesesatannya tenggelam tanpa arah

dan betapa benarnya penyair, ketika dia berkata:

berkata kepadaku para sahabat,

“aku melihatmu sebagai orang asing.

di antara manusia,  engkau tanpa teman dekat.”

maka aku berkata,

“sekalikali tidak!

bahkan orang banyak itulah yang asing,

sedang aku berada di kehidupan dan inilah jalanku.”

inilah orang asing itu

asing di sisi mereka yang hidup siasia di antara manusia, tetapi

di sisi rabb-nya, mereka berada di tempat yang mulia

Tuan, mari, ajaklah saya menjadi ghuraba’ yang berpeluh aroma debu perjuangan, bukan abid yang ber’uzlah sendiri di taman berwangi misik. Menyeru manusia dan menuntun mereka ke terang cahaya..

 

 

 

One thought on “Debu Misik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s