Cinta Hati Love

Debut, Keutuhan Mencintai

Saat itu, tidak ada keraguan dalam diri lelaki itu tatkala menerima sesosok perempuan itu. Lelaki itu yakin dengan keputusannya. Sebuah keputusan besar yang akan menentukan jalan hidupnya di dunia dan akhirat. Sebuah keputusan yang mencakup setengah iman di dalam dirinya. Ia meyakini bahwa keputusannya itu sangat beresiko. Namun, keyakinan dan ketulusan yang dirasakannya menguatkan tekad dan keupusan yang akan diambilnya itu.

Lelaki itu, kita panggil saja Mas Nunu, adalah seorang lelaki biasa yang sangat biasa. Seorang  lelaki yang sederhana. Sangat sederhana dibandingkan dengan manusiamanusia lain di generasinya. Tuan dan Nyonya bisa menemuinya di salah satu sudutsudut kampus plat merah di lepas kota Jakarta. Atau mungkin beliau sedang mendekatkan dirinya di sudut masjid kampus itu. Sederhana saja penampilan, sikap, pemikiran, dan tingkah lakunya. Sepeda dengan merek nasional merupakan kendaraan hariannya yang mengantarkannya dalam mobilitas jarak dekat.

Saat mengambil keputusan untuk menerima itu, ada seselip kekhawatiran dalam ekspektasinya jika nanti pihak keluarganya tidak akan menyetujui keputusan yang diambilnya itu. Ia tahu, menikah tidak hanya tentang dua orang, tapi juga tentang dua keluarga besar dan misimisi pernikahan yang sangat agung bagi kemanusiaan.

“Saya tidak pernah datang bulan,” kata sosok perempuan itu. Namanya Mbak Tika. Ia menjelaskan bahwa fungsi organ reproduksi mengalami kelainan, abnormal. Sehingga ia tidak pernah sekalipun mengalami haidh. Jadi, probabilitas untuk hamil dan memperoleh kuturunan jika menikahinya sangatlah kecil. Beliau menderita kanker servik.

Mas Nunu dan Mbak Tika sebenarnya sudah saling tahu sebelumnya. Mereka samasama seangkatan ketika bersekolah. Pernah berada pula dalam satu bidang kepanitiaan. Bahkan kost mereka hanya dibatasi satu rumah. Oleh karena itu mereka sudah saling tahu, tapi belum saling mengenal.

“Ini kuasa Allah,” kata batin Mas Nunu menghadapi kenyataan yang dihadapinya. Keyakinan ini memantapkan dirinya untuk memilih dan menerima Mbak Tika, seorang perempuan yang tidak sempurna keperempuanannya.  Ia memilih pilihan terbaiknya dan siap menerima konsekuensi atas pilihan itu.

Maka, takdir insani pun berjodoh dengan takdir ilahi. Mas Nunu dan Mbak Tika menikah. Dan tentu saja kebahagiaan menjadi selimut cinta mereka. Sangat bahagia, kata Mas Nunu menjelaskan, tentu saja.

 “Tidak ada,” kata Mas Nunu  ketika ditanya tentang keberadaan rasa sesal atas keputusannya menikahi Mbak Tika, “Penyesalannya adalah aku mungkin belum bisa menjadi suami yang baik. Aku masih sering kurang tanggap dengan kebiutuhannya, kurang peka terhadap perasaannya, sering membutnya marah, dan sebagainya. Padahal dia sendiri sudah menjadi istri yang sangat baik…”

Begitulah para pecinta sejati. Mereka mencintai dengan kesejatiannya. Mereka memberi, memberikan penerimaan atas seluruh kelebihan dan kekurangan pada  diri orang yang dicintainya, utuh tanpa terkurang sedikitpun.

Nabibah Sulaim, dalam Cerita Seorang Manusia, mengisahkan peristiwa nyata yang lain tentang keutuhan mencinta. Ini tentang seorang lelaki shalih yang sedang dalam pilihan keputusan besar itu, memilih seorang perempuan untuk dinikahi.

Sebuah proposal nikah seorang perempuan kini dalam genggaman tangannya. Proposal itu telah dibacanya dan semestinya tidak ada keraguan bagi dirinya untuk menerima sosok perempuan itu. Namun, ia merasa  ragu dan gamang. Ada perempuan lain yang mengusik pikirannya sehingga ia tidak mampu mengatakan “Iya” pada murabbi-nya, guru sekaligus perantaranya untuk mencari calon isteri.

Lelaki shalih ini adalah lelaki yang biasa. Ia adalah manusia seutuhnya dengan keinginan dan harapan. Ia ingin memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Berjuang dan menikmati nikmat ilahi di dunia. Merasakan kebahagiaan dan merayakan cinta bersama orangorang yang dicintainya. Membangun rumahtangga yang normal seperti kebanyakan manusia dan membesarkan serta mendidik anakanak bersama pasangannya.

Ia tahu bahwa kehidupan adalah tentang pilihanpilihan, keputusankeputusan, dan sesudahnya adalah konsekuensi-konsekuensi. Dan ia tahu konsekuensi apa yang akan dihadapinya jika ia memilih untuk menerima perempuan yang kini proposalnya ada di tangannya itu. Ia juga tahu konsekuensi jika ia memilih perempuan yang mengusik pikirannya itu.

Baginya, perempuan yang mengusik hatinya itu bukanlah perempuan biasa. Ia adalah perempuan luar biasa. Perempuan itu telah menawan dirinya dalam sebuah rasa yang tak mampu diterjemahkannya. Ia tahu bahwa itu bukan cinta. Mungkin mendekati rasa kebertanggungan. Kehidupan tarbiyah telah mengajarinya untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkan banyak hal. Tarbiyah telah mengajarinya untuk lebih mencintai Rabb-nya daripada apapun selainNya.

Ya, lelaki shalih itu mengambil keputusan. Ia akan memilih dan meikahi perempuan yang selama ini mengusik hati dan pikirannya itu. Seorang perempuan yang tidak sempurna fisiknya. Seorang perempuan yang kedua kakinya tidak mampu menopang tubuhnya. Perempuan yang separuh bawah tubuhnya lumpuh tanpa gerak. Perempuan yang tidak mampu memberikannya puteraputeri penyejuk mata dan penerus cita.

Dan kini, tulis Nabibah Sulaim, wanita itu telah resmi menjadi istrinya. Wanita yang dulunya ia khawatiri tidak akan ada yang mengurusnya sepeninggal ibunya. Seorang diri dalam ketidaksempurnaan fisiknya. Siapa yang akan merawatnya? Siapa yang akan membiayai pengobatannya? Siapa yang akan menjamin kebutuhannya? Pertanyaan itu kini telah terjawab. Ya, dialah jawabannya. Ijab qabul telah ditunaikan, meninggalkan hak dan kewajiban atas dirinya. Bismillah, dia akan mulai belajar mencintai istrinya. Dia akan menjadikannya wanita yang paling bahagia di dunia dengan sekuat usaha yang mampu dilakukannya.

“Dan sampai saat ini,” lanjutnya, “Setelah beberapa tahun menjalani pernikahannya, lakilaki itu masih mampu selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman. Kebahagiaan itu ia dapatkan. Bukan sebentuk kebahagiaan yang ‘nampak’, namun kebahagiaan karena sebuah kata bernama pengorbanan cinta.”

Begitulah para pecinta sejati. Mereka mencintai dengan kesejatiannya. Mereka memberi, memberikan penerimaan atas seluruh kelebihan dan kekurangan pada  diri orang yang dicintainya, utuh tanpa terkurang sedikitpun. Mereka memberikan pengorbanan cinta yang utuh kepada yang dicintainya. Dan mereka bahagia dengan pengorbanan itu. Memberi cinta dan menerima cinta. Maka kebahagiaan senantiasa bersama mereka.

Mereka yang mencintai dengan seutuh cinta tidak akan menyesal atas keputusannya di sepanjang hidup mereka.

Maka, begitu memasuki usia delapan bulan pernikahan, keadaan Mbak Tika pun memburuk karena penyakit kanker servik yang dideritanya. Tibatiba saja tubuhnya lemas. Badannya tidak bergerak lagi. Inilah detikdetik sakararatul maut bagi Mbak Tika, isteri Mas Nunu. Kematian memisahkan kebersamaan cinta di antara mereka. Kesedihan yang dalam pun terasa di hati Mas Nunu. Namun, di hari pemakanan Mbak Tika, Mas Nunu tetap tegar, ia tidak menangis meneteskan airmata.

Bahkan senyum tampak menghiasi wajah teduhnya. Itu bukan senyum karena bahagia terbebas dari keterikatannya dengan sang isteri yang tidak sempurna secara fisik. Namun, karena ia yakin bahwa ini adalah kuasa takdir ilahi. Sebuah takdir yang indah yang mempertemukan mereka dan memisahkan mereka. Sebuah takdir tentang keutuhan mencintai.

Dan mereka, para pecinta sejati yang mencintai dengan seutuhnya itu akan menyejarah di sini, di langit hati kita. Tertulis abadi dengan tinta berwarna surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s