Lari Run

Hijrah Lelaki

“Hijrah, dalam sejarah dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam,” kata Ustadz Anis Matta, “Adalah sebuah metamorfosis dari ‘gerakan’ menjadi negara. Tiga  belas tahun sebelumnya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan penetrasi social yang sangat sistematis; dimana Islam menjalani jalan hidup individu, dimana Islam ‘memanusia’ dan kemudian manusia ‘memasyarakat’. Sekarang, melalui hijrah, masyarakat itu bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah, gerakan itu ‘menegara’, dan Madinah adalah wilayahnya.”

Begitu indah ungkapan yang digunakan Ustadz Anis Matta dalam menganalisis sebuah tabiat tahapan da’wah yang dilalui oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Hijrah merupakan sebuah tahapan yang sangat penting dalam sejarah da’wah kenabian. Nabi Ibrahim melakukan hirah bersama kaumnya hingga ke negeri Fir’aun untuk menyelamatkan aqidahnya. Demikian pula dengan yang dilakukan oleh Nabi Musa tatkala melakukan hijrah yang dikenal dengan nama ‘exodus’ dari amuk dendam Fir’aun yang lalim.

Namun, meski merupakan sebuah jalan untuk menyelamatkan aqidah dan membangun tahapan da’wah. Hijrah merupakan jalan darurat atas sebuah kondisi yang mengancam nyawa, harta, kehormatan, keturunan, dan keberlangsungan aqidah. Saeandainya tidak ada kondisi yang mengancam itu, tentu saja tidak ada hijrah dalam sejarah agama ini. Namun, takdir mengajarkan bahwa da’wah senantiasa dimusuhi dengan sengit oleh waliwali syaithan dan akan mendapatkan pertolongan Allah melalui penolongpenolong agama Allah, kaum Anshar dan Hawariyun.

Keluar dari zona nyaman lingkungan rumah yang sejak lama ditinggali adalah sebuah siksaan batin dan fisik sekaligus. Kenyamanan atas udara yang sejuk, tanah yang subur, dan air yang jernih menjadi terusik oleh udara yang kering, tanah yang tandus,  dan air yang jenuh. Meninggalkan rumah yang indah selalu saja menimbulkan dan memunculkan sejumput rindu yang tiap detiknya makin menderu bersama debu yang mengabu.

Tatkala Abu Bakar dan Bilal telah sampai di Madinah dalam peristiwa Hijrah, keduanya jatuh sakit. Demam Madinah, kerinduan pada lembah Makkah.  Kemudian Aisyah pun mengunjungi keduanya seraya berkata, “Wahai ayahanda, bagaimana keadaanmu? Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?”

Mendengar pertanyaan puterinya, seperti biasa saat sakit, Abu Bakar menyenandungkan sebait sajak:

          setiap orang selalu berada di sisi keluarganya

          sementara kematian lebih dekat daripada tali sandalnya

Sementara, bila demam sudah menghilang dari Bilal, dia mengencangkan suaranya seraya bersenandung rindu dalam baitbait sendu:

          andai saja aku menghabiskan waktu suatu malam

          di sebuah lembah dan di sekelilingku ‘Idzkhir’ dan orang mulia

          semoga suatu hari aku membawa air dari Majinnah

          semoga saja, genangan dan bayangannya tampak bagiku

Begitulah sebentuk kerinduan dan kepiluan yang menjalari badan dan raga tatkala jiwa menginginkan mata memandang dan menikmati keindahan tanah kelahiran yang selama ini ditempati dengan nyaman dan tenteram. Maka, kesadaran ini menimbulkan ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, dan kegalauan bagi mereka yang hendak melangkah untuk berhijrah meninggalkan tanah kelahirannya demi sebuah aktifitas yang melelahkan bernama merantau. Merantau dalam rangka apapun bisa jadi menimbulkan ketakutanketakutan di dalam diri.

Lelaki ini sangat suka pada apa yang disampaikan Imam Asy Safi’i tentang merantau:

“Merantaulah dengan penuh keyakinan,” kata beliau, “Niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu ilmu pengetahuan, adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, serta mengagungkan jiwa dan persahabatan.  Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir, maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum. Jika engkau biarkan air itu tergenang, maka ia akan membusuk.  Singa hutan dapat menerkam mangsanya setelah ia meninggalkan sarangnya. Anak panah yang tajam tak akan mengenai sasarannya, jika tidak meningalkan busurnya. Emas bagaikan debu, sebelum ditambang. Pohon cendana yang tertancap di tempatnya, tak ubahnya seumpama kayu bakar.”

Ketakutan merantau itu hakikatnya hanya ilusi dari syaithan. Ia menginginkan agar manusia stagnan dan tidak berkembang dalam kebaikan. Menjadi jago kandang yang pengecut terhadap kenyataan dan realita di luar teritorialnya. Diam dalam kebekuan yang siap mengantarkannya ke gerbang kematian hati, akal, dan jiwa. Membunuh inovasi, kreativitas, perjuangan, dan ruh petualangan!

“Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu,” lanjut Sang Imam menutup wasiatnya, “Engkau akan menemui derajat kemuliaan yang baru. Engkau bagaikan emas yang telah terangkat dari asalnya!” Ya. Menjadi emas yang murni dan menghiasi dunia dengan warna kemegahan dan kehormatannya.

Maka, begitu Aisyah selesai membesuk ayahnya dan Bilal, ia pun mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan menginformasikan hal itu. Mendengar itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdoa, “Ya Allah, anugerahilah kami kecintaan terhadap Madinah sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah, bahkan lebih dari itu. Jadikanlah ia tempat yang sehat, berkahilah sha’ dan mud (timbangan) penduduknya dan pindahkanlah penyakit demam yang ada di dalamnya ke Juhfah.”

Lelaki ini menatap ke masa depannya. Diselipkannya sedikit kekhawatiran di hatinya untuk meredam kepercayaan diri yang menaunginya. Di depan sana terbentang masa depannya yang sama sekali tidak diketahuinya kecuali sekadar rencanarencana menjadi seorang hamba yang berbuat yang terbaik untuk rabb-nya.

Terkenang dirinya pada seorang perempuan mulia yang sangat berani dan setegar karang yang dihempas lautan. Sejarah mencatatnya dengan nama Ummu Haram, isteri shahabat Ubadah bin  Shamit sekaligus saudari Ummu Sulaim. Ummu Haram merupakan salah seorang pelaku hijrah ke Madinah.

Pada suatu hari Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mampir ke rumah Ummu Haram. Maka ia pun menyediakan makanan bagi beliau. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyandarkan kepalanya dan tertidur di rumah itu. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun lalu beliau tertawa.

“Apa yg membuatmu tertawa, wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam?” tanya Ummu Haram.

“Sekelompok manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku. Mereka berperang di jalan Allah dengan berlayar di lautan sebagaimana rajaraja di atas pasukannya atau laksana para raja yg memimpin pasukannya,” terang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Ummu Haram berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk golongan mereka.”

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendo’akan Ummu Haram. Lalu meletakkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau bangun dan tertawa. Dan kejadian yang sama pun terulang. Ummu Haram meminta didoakan Rasulullah untuk menjadi bagian dari pasukan yang membuka dan membebaskan wilayahwilayah baru dari lautan itu.

“Engkau termasuk golongan para pemula,” jawab Rasulullah.

Sejarah pun mencatat Ummu Haram menjadi bagian dari pasukan marinir Islam itu. Beliau berlayar di bawah kepemimpinan pasukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada masa Khalifah Utsman bin Affan.  Tatkala mengendarai tunggangannya selepas berlayar, ia terjatuh dan meninggal. Peristiwa tersebut terjadi pada perang Qibris sehingga ia di kubur di sana. Sebuah panorama keberanian seorang perempuan untuk meninggalkan tanah kelahirannya untuk menancapkan panji keuhidan di tiap jengkal bumi.

Lelaki ini mengharapkan kebaikan, cinta, dan barakah Allah atas jalan takdirnya yang indah ini, “Ya Allah, anugerahilah lelaki ini kecintaan terhadap Manado sebagaimana kecintaannya kepada Jogja, bahkan lebih dari itu. Jadikanlah ia tempat yang sehat, berkahilah masjid dan komputer penduduknya dan pindahkanlah penyakit demam yang ada di dalamnya ke Israel…Tegakkanlah tauhid, tumbangkanlah syirik…”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s