Shalat Tahajud Malam Witir Tarawih

Jenak Keimanan

Tuan, kita samasama tahu bahwa perjalanan ini melelahkan. Menguras peluh yang menetes dari wajah dan dahi kita. Meninggalkan rasa sakit di kedua tapak kaki yang terusmenerus melangkah di terjal jalan panjang ini. Pundak dan bahu kita mungkin masih mampu memikul dan memanggul bebanbeban tambahan lagi. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa tubuh ringkih kita memang memiliki batas ambang beban. Tuan boleh saja menambahkan beban di punggung lagi, tapi kencang dan kerasnya urat punggung Tuan menunjukkan bahwa punggung pun butuh sedikit kelonggaran beban.

Semua orang mengakui semangat, tekad, dan betapa kuat keinginan Tuan untuk terus berjalan menempuh jalan panjang ini. Hanya saja cahaya mata Tuan mulai memendarkan kesuraman. Meski tampak nyala api berkobar di sana. Meski kilaunya masih terlapis setipis petala air mata. Napas jiwa pun tak bisa menyembunyikan kelelahan yang Tuan rasakan di sengalsengal langkah ini. Sementara itu sungging senyum di sepasang bibir Tuan makin meredup. Berganti pejamanpejaman mata sesaat lebih lama yang mewakili kelelahan jiwa itu.

Tuan sudah bergulat dengan pekerjaanpekerjaan itu setiap hari. Sebuah pekerjaan yang melelahkan dan mematahkan tulang punggung. Hanya karena inayah Allah sajalah Tuan masih bisa menegakkannya sembari menatap kelurusan ke depan. Memandang mimpi dan visi hijau yang terpampang lekat di kedua kacamata Tuan. Sebuah kerinduan tegaknya keadilan di tiap jengkal tanah yang kita injak ini.

Tuan, marilah sejenak kemari menikmati sisa masa yang ada. Basuhlah kedua tangan yang telah berlumur debudebu jalanan itu. Basuhlah wajahmu di mata air cinta yang bening dan sejuk gemericik alirannya itu. Bersucilah dengannya, dan bersihkanlah kotorankotoran yang melekat di kujur anggota badanmu. Rasakan kesejukannya menyentuh kulit dan sensasi ketundukan laku Tuan di hadapan tuhan.

Duduklah bersama kami menuruti ajakan para shahabat yang mulia, Muadz bin Jabal dan Abdullah bin Rawahah. “Ta’al nu’min sa’ah. Innal qalba asra’u taqalluban minal qidri idzas tajma’at ghilyana. Marilah kita beriman sejenak. Sesungguhnya hati itu berbolakbaliknya lebih cepat daripada berbolakbaliknya air mendidih di dalam periuk.”

Duduklah sejenak bersama kami mendengarkan nasihat, mengambil pelajaran, merenungkan, mengambil hikmah, bermuhasabah, mengambil faedah, mengoreksi diri, dan mengisi kembali semangat diri untuk kembali melangkah di jalan panjang ini. Sejenak mari kita menghirup udara keimanan bersama orangorang shalih dan mengalirkannya ke segenap sel di dalam tubuh kita. Mari menguatkan diri sebelum napas kita terhenti dan melompat lebih tinggi untuk meraih visi dan mimpimimpi abadi..

sebelum waktumu terasa terburu

sebelum lelahmu menutup mata

adakah langkahmu terisi ambisi

apakah kalbumu terasa sunyi

luangkanlah sejenak detik dalam hidupmu

berikanlah rindumu pada denting waktu

luangkanlah sejenak detik dalam sibukmu

dan lihatlah warna kemesraan dan cinta

sebelum hidupmu terhalang nafasmu

sesudah nafsumu tak terbelenggu

indahnya membisu tandai yang berlalu

bahasa tubuhmu mengartikan rindu

yang tlah semu.. yang tak semu..

Begitulah Sabrang Mowo Damar Panuluh mengajak kita menikmati perjumpaan dari kerinduan kita pada mimpi kita yang begitu jauh. Semntara beragam goda dan sangka purba begitu banyak menerpa jalan kita. Sedikit terpesong dari kelurusan dan terselip jalan di licinnya tapak.

Nikmatian sajian cinta ini bersamasama. Dan serulah Bilal bin Rabah mengumandangkan panggilan cintanya,“Ya Bilal, arihna bish shalaah..!  Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s