Masjid Nabawi

Kun

Kun, dengarkan aku..

Cobalah sejenak saja kamu tengok ruang di dalam hatimu. Aku yakin kamu akan mengetahui bagaimana hakikat laku jalan yang kau tempuh ini.  Mungkin kamu bisa berkatakata mesra bersama aroma dan angin yang membawa debudebu euforia pergumulan. Mungkin kamu bercanda di atas sempitnya jalan ilmu yang kamu klaim itu. Mungkin juga kamu bisa bersilat dalil dan argumen tatkala kamu terpeleset di sepanjang jalan ini. Namun, cobalah kamu jujur pada dirimu sendiri, apakah itu benarbenar yang kamu maui.

Kun, ingatkah kamu tentang para pendusta di hari persidangan?

Baiklah, biar kuingatkan kamu pada sebuah kisah masa depan yang tak terbatas dimensi waktunya. Bapak kita Abu Hurairah mendengar sebuah hadits dari Rasulullah tentang gambaran hari persidangan dimana Allah adalah hakimnya. Kamu bisa membacanya dalam Shahih Muslim jika tidak percaya padaku.

“Sesungguhnya,” kata Rasulullah, “Orangorang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmatnikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?’

Lelaki menjawab, “Aku berperang di jalanMu sampai aku menemui mati syahid.”

Allah langsung menimpali, “Kamu dusta..!!!”

Kun, bayangkanlah jika lelaki itu adalah kamu. Allah, hakim yang seadiladilnya dan mengetahui apa yang ada di dalam hati makhluk langsung saja menjatuhkan vonis dusta atas apa yang kamu katakan di hari pengadilan itu.

“Sebenarnya kamu beperang agar disebutsebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” 

Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

“Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca menghapal Al Qur’an,” kata Rasulullah menyebutkan manusia kedua yang diadili, “Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmatnikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya.”

Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”

Lelaki menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca menghapal Al Qur’an di jalanMu.”

Allah langsung menimpali, “Kamu dusta..!!!”

Kun, bayangkanlah kembali jika lelaki kedua itu adalah kamu. Allah, hakim yang seadiladilnya dan mengetahui apa yang ada di dalam hati makhluk langsung saja menjatuhkan vonis dusta atas apa yang kamu katakan di hari pengadilan itu.

“Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebutsebut sebagai orang alim, dan kamu membaca Al Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”

Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Bayangkanlah saat kamu tertelungkup sujud di tanah atau jalan beraspal yang kamu klaim itu, lantas kamu diseret dengan wajah menyentuh aspal itu. Jalan yang kasar itu melukai wajahmu yang tidak seberapa itu. Merobek dan mencabik kulit arimu yang demikian tipis. Dan rasakanlah saat lapis demi lapis daging dan lemak di wajahmu terkikis oleh jalanan itu. Rasakanlah kengeriannya. Bayangkanlah rasa perih dan pedih yang kamu rasakan.. Pejamkan matamu sejenak dan bayangkanlah perihnya.

Kun, masihkah kamu mau berkatakata? Bukankah kamu tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan amal untukNya dalam menjalankan agama yang lurus?

Aku tidak akan melanjutkan tentang lelaki ketiga yang diadili dan nasibnya tidak berbeda dengan kedua penghulunya. Aku yakin kamu sudah tahu.

Kun, jadilah sederhana. Sejenak saja.

Tahukah kamu dengan seorang lelaki Baduwi dalam Sunan An Nasa’i yang datang pada Rasulullah dengan sangat sederhana itu? Ia beriman, lantas bertaqwa. ”Aku berhijrah untuk mengikuti ajaranmu,” katanya.

Setelah kembali dari suatu peperangan, Rasulullah memperoleh harta rampasan perang. Rampasan itu dibagibagi untuk Rasulullah dan para shahabat. Orang Baduwi tersebut juga mendapat bagian. Tetapi ia tidak kelihatan. Ketika suatu hari ia berada di tengahtengah shahabat. Para shahabat memberikan jatah tersebut kepadanya.

Ia bertanya, “Apa ini?”

“Bagianmu yang telah disisihkan oleh Nabi.”

Ia mengambil jatah tersebut lalu mendatangi Rasulullah seraya bertanya, “Apa ini?”

Beliau menjawab, “Aku telah menyisihkannya untukmu.”

“Aku mengikutimu bukan untuk memperoleh seperti ini, tetapi agar aku terkena anak panah di sini sehingga aku menemui ajalku dan masuk surga,” katanya sambil mengisyaratkan telunjuknya pada satu bagian di lehernya.

“Jika engkau jujur kepada Allah,” kata Rasulullah, “Niscaya Allah percaya dan akan menyampaikan keinginanmu.”

Ia terdiam sejenak, kemudian bangkit untuk ikut serta memerangi musuh. Setelah itu datang seseorang menggotongnya sambil membawa pedang, dia terluka pada bagian sebagaimana yang ia isyaratkan, lehernya. Sebuah anak panah telah menembus lehernya. Tepat! Tepat di bagian yang sebelumnya ditunjuknya.

“Apakah ini orang Baduwi yang itu?” tanya Rasulullah.

“Benar.”

“Ia jujur kepada Allah,” kata Rasulullah, “Maka, Allah memenuhi permintaannya.”

Kun, lihatlah pemandangan indah di imajinasimu saat Rasulullah mengkafaninya dengan baju jubah beliau, kemudian menshalatkannya. Sebuah penghargaan yang demikian tinggi untuk seorang Baduwi yang bahkan namanya tidak pernah dicatat sejarah. Rasulullah pun bahkan berdoa secara khusus untuknya, “Ya Allah, ini adalah hambaMu, keluar dari kabilahnya untuk berhijrah menuju jalanMu, kemudian mati syahid karena terbunuh, dan aku menjadi saksi atas yang demikian itu.”

Apa kamu masih ingin banyak berkatakata, tapi hanya siasia? “KepadaNya-lah naik perkataanperkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya.” Menurutmu?

Kun, cobalah tengok hatimu dan lihatlah lakumu.. Dan berhentilah menangiskan airmata itu, sejenak saja. Cahaya matamu mengisyaratkan rindu.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s