Lari Run

Merantau

Merantau. Kata ini terdengar begitu mengerikan bagi sebagian orang, terutama orang-orang Jawa. Penyebabnya adalah karena Pulau Jawa merupakan sebuah pulau yang nyaman dihuni, tanahnya subur, penduduknya relatif lebih ramah, cuacanya sejuk, fasilitas lengkap, dan lapangan pekerjaan juga melimpah. Maka tidak heran jika tiga dari lima penduduk Indonesia tinggal di pulau ini.

Luasnya negeri Indonesia dengan ribuan pulau besar dan kecilnya tidak menarik bagi sebagian orang-orang Jawa. Mereka lebih suka menjelajahi kota-kota Jawa saja. Itu pun masih mending karena umumnya orang-orang Jawa jarang yang memiliki keinginan untuk menjelajahi pulau yang dihuninya sejak lahir.

Kondisi seperti juga terjadi pada generasi mudanya. Mereka yang baru menikah memiliki keengganan tertentu untuk meninggalkan daerah asalnya untuk hidup di daerah baru yang berbeda. Terlebih lagi pada kaum perempuannya. Berada di dekapan ayah dan ibunya adalah kenikmatan dan kenyamanan yang kadangkala tidak tertawar oleh orang lain, bahkan oleh suaminya sekalipun.

Bayangkan ketika seorang suami ditakdirkan oleh Allah untuk berjuang di tanah baru yang jauh dari bumi kelahirannya, tapi sang isteri enggan merantau bersamanya. Kesulitan-kesulitan rumah tangga akan segera memenuhi interaksi di antara mereka: hubungan yang terpisahkan jarak menjadikan komunikasi terhambat dan lebih susah dilakukan, meskipun teknologi komunikasi tiap hari makin canggih; proses pembinaan dan pendidikan anak-anak mereka tidak dapat dilakukan dengan optimal; dan yang lebih penting adalah hubungan fisik antara pasangan suami dan isteri itu sendiri. Cinta suami isteri itu memerlukan sentuhan fisik. Mau ataupun tidak, ini adalah sebuah keniscayaan dalam konsekuensi cinta. Bahkan menurut Imam Ahmad, sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim, mengatakan bahwa Rasulullah sangat bisa menahan dari makan dan minum, tapi tidak bisa menahan diri dari berjauh-jauhan dari isteri-isteri beliau.

Seorang isteri boleh saja berbuat seperti itu, tidak mau diajak merantau, asalkan memang ia telah mensyaratkan ketidakmauannya itu sebelum menikah. Atau juga karena alasan-alasan tertentu yang berupa kekhawatiran yang mungkin timbul dari keikutsertaannya merantau. Misalnya sesuatu yang membahayakan agama dan nyawanya. Dan suami pun juga tidak boleh memaksa isteri jika kondisinya demikian. Rumah tangga itu dibangun oleh dua orang.

Ketika ketakutan untuk melakukan perantauan datang di dalam kekerdilan jiwa kita, maka dengarlah wasiat dari imam mazhab yang paling banyak merantau dalam rangka menuntut ilmu.

“Merantaulah dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu ilmu pengetahuan, adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, serta mengagungkan jiwa dan persahabatan. Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir, maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum. Jika engkau biarkan air itu tergenang, maka ia akan membusuk. Singa hutan dapat menerkam mangsanya setelah ia meninggalkan sarangnya. Anak panah yang tajam tak akan mengenai sasarannya, jika tidak meningalkan busurnya. Emas bagaikan debu, sebelum ditambang. Pohon cendana yang tertancap di tempatnya, tak ubahnya seumpama kayu bakar.”

Ketakutan merantau itu hakikatnya hanya ilusi dari syaitan. Ia menginginkan agar manusia stagnan dan tidak berkembang dalam kebaikan. Menjadi jago kandang yang pengecut terhadap kenyataan dan realita di luar teritorialnya. Diam dalam kebekuan yang siap mengantarkannya ke gerbang kematian hati, akal, dan jiwa. Membunuh inovasi, kreativitas, perjuangan, dan ruh petualangan!

“Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu,” lanjut Sang Imam menutup wasiatnya, “Engkau akan menemui derajat kemuliaan yang baru. Engkau bagaikan emas yang telah terangkat dari asalnya!”

4 thoughts on “Merantau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s