Heartbreak Patah hati

Pengkhianatan Cinta

“Ya Rasulullah,” kata lelaki itu, “Aku pulang ke rumah tadi malam seusai isya’. Ternyata aku menemukan seorang lelaki bersama isteriku di sana. Aku melihatnya dengan mata kepalaku dan mendengar dengan telingaku ini.”

Rasulullah merasakan kesedihan atas apa yang didengarnya dari salah seorang shahabatnya itu. Shahabat itu merupakan salah satu veteran Perang Badar yang keimanannya tidak diragukan dan kejujurannya tidak dipertanyakan. Nama shahabat itu adalah Hilal bin Umayah.

Kesedihan yang dirasakan Rasulullah tentu saja teramat dalam. Di satu sisi beliau mengenal kejujuran Hilal bin Umayah, dan di sisi lain beliau adalah rasul Allah yang harus menjalankan syari’at yang diturunkan oleh Allah. Belum lama berselang saat Allah menurunkan ayat tentang hukuman bagi seseorang yang menuduh perempuan baikbaik berzina dan tidak bisa mendatangkan empat orang saksi muslim, maka harus didera sebanyak delapan puluh kali dan tidak boleh diterima kesaksiannya selamalamanya.

“Sesudah diturunkan ayat, ‘Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baikbaik (berbuat zina), kemudian mereka tidak bisa mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selamalamanya…,’maka Sa’ad bin Ubadah, pimpinan kaum Anshar, langsung bertanya kepada Rasulullah, ‘Benarkah demikian bunyi ayat itu diturunkan, ya Rasulullah?’” kata Abdullah bin Abbas menceritakan kejadian sebelum datangnya Hilal bin Umayah melaporkan isterinya yang berzina dengan lelaki lain. Riwayat Ibnu Abbas ini dicatat oleh Imam Ahmad.

Saat mendengar pertanyaan Sa’ad bin Ubadah itu, Rasulullah tersinggung dan merasa tidak senang jika ayat Allah yang disampaikannya dipertanyakan oleh shahabat sekaliber Sa’ad. Maka, beliaupun berkata pada shahabatshahabatnya dari Anshar, “Hai kaum Anshar, tidakkah kalian mendengar apa yang ditanyakan pemimpin kalian?”

“Ya Rasulullah,” jawab kaum Anshar, “Janganlah ia dicela dalam masalah itu. Ia seorang pencemburu. Demi Allah, ia tidak pernah mengawini seorang perempuan kecuali seorang gadis dan dia tidak pernah menceraikan isterinya lalu ada seorang lelaki dari kami yang mengawini bekas isterinya itu karena cemburunya yang berlebihan.”

“Ya Rasulullah,” kata Sa’ad bin Ubadah, “Aku tahu benar bahwa firman itu benar sekali dan firman itu diturunkan oleh Allah ta’ala, tapi aku heran sekali bagaimana mungkin aku akan membiarkan seorang lelaki menggauli seorang perempuan tanpa ditindak sebelum aku bisa mendatangkan empat orang saksi mata. Demi Allah, aku tidak dapat membiarkannya bebas sampai selesai pekerjaannya itu.”

Dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim, Sa’ad bin Ubadah berkata, “Seandai aku dapatkan seorang lelaki berada di paha istriku apakah aku tidak boleh mengusik sampai aku mendatangkan empat saksi? Demi Allah aku tidak akan mendatangkan empat saksi sementara lelaki itu telah puas menunaikan hajatnya.”

Dalam riwayat lain, Sa’ad bin Ubadah berkata, “Seandai aku melihat seorang lelaki bersama istriku niscaya aku akan memukul lelaki itu dengan punggung pedang.”

Rasulullullah yang mendengarnya pun bertanya pada khalayak, “Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku.”

Setelah kejadian Sa’ad bin Ubadah ini, terjadilah peristiwa pelaporan Hilal bin Umayah tentang isterinya yang berselingkuh dengan seorang shahabat yang lain.

Sejarah mencatat bahwa lelaki yang dituduh telah berzina dengan isteri Hilal bin Umayah adalah salah seorang shahabat yang muslim dan mu’min yang bernama Syarik bin Samha’, dalam riwayat lain Syarik bin Sahma’. Dalam Rajulun wa Nisa’un Anzalallahu fihim Al Qur’ana, disebutkan bahwa pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq, Syarik bin Samha’ adalah salah orang  yang dikirim kepada Walid bin Al Walid sebagai utusan ke Yamamah, agar Khalid memimpin pasukan kaum muslimin di Iraq. Setelah itu, khalifah mengangkatnya sebagai salah satu amir di Syam.

Sementara pada masa Amirul Mu’minin Umar bin Khathab, Syarik bin Samha’ diangkat sebagai pemimpin perutusan kepada panglima perangnya, Amr bin Al ‘Ash, ketika izin menyerang Mesir diberikan.

Sementara sejarah dengan santun tidak pernah menyebutkan siapa isteri Hilal yang tertuduh itu. Namun sejarah hanya mencatat bahwa Hilal memiliki dua orang isteri. Yang pertama adalah Fari’ah binti Malik bin Ad Dakhsyam. Ayahnya adalah seorang yang hadir dalam Bai’atul Aqabah, veteran Perang Badar, dan utusan Rasulullah untuk menghancurkan Masjid Dhirar. Yang kedua adalah Malikah binti Abdullah bin Ubai bin Salul. Siapa yang tidak mengenal ayahnya?

Hanya saja memang sejarah yang shahih tidak pernah menyebut nama isteri perempuan Hilal yang tertuduh ini.

Setelah mendengar laporan Hilal bin Umayah dan reaksi Rasulullah yang menunjukkan kesedihannya, orangorang secara berkelompok pun berkata, “Kami mendapat ujian dengan apa yang dikatakan Sa’ad bin Ubadah.”

“Demi Allah,” ujar Hilal bin Umayah melihat reaksi Rasulullah, “Aku berharap sekali bahwa Allah ta’ala memecahkan kasusku ini dengan sebaikbaiknya.”

“Ya Rasulullah,” katanya, “Aku melihat beratnya penanggunganmu untuk menerapkan ayat itu, walaupun begitu  Allah Maha Mengetahui bahwa aku jujur.”

Sa’ad bin Ubadah pun berkomentar, “Kini, apakah Rasulullah akan mendera Hilal bin Umayah dan menggugurkan kesaksiannya di kalangan kaum muslimin untuk selamalamanya?”

Dalam kegelisahan, keresahan, kebimbangan, dan kemasygulan yang berat dirasakan Rasulullah itu, tak lama berselang, Allah menurunkan ayat lain yang menjelaskan bagaimana cara menerapkan sanksi pada ayat terdahulu jika keempat saksi tidak ada, kecuali si penuduh yang merupakan suami si tertuduh itu.

Rasulullah gembira dan memanggil Hilal, “Ya Hilal, bergembiralah! Allah telah membukakan jalan untuk memecahkan persoalanmu itu.”

“Dan orangorang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksisaksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orangorang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orangorang yang berdusta.”

“Memang aku selalu memohonnya, Ya Rasulullah.”

Rasulullah lalu memerintahkan seseorang untuk mendatangkan isteri Hilal di majelisnya. Setibanya di sana, dibacakan ayat itu di hadapannya dan diberitahukannya bahwa siksa Allah di akhirat jauh lebih berat dari siksaNya di dunia.

“Demi Allah, ya Rasulullah. Sabdamu itu benar,” kata Hilal.

“Dia pembohong!” ujar isteri Hilal ketus.

“Sesungguhnya Allah tahu bahwa seorang di antara kamu berdua ini ada yang bohong. Adakah di antara kalian berdua ini yang mau bertaubat?” Namun, keduanya enggan untuk menyatakan pertaubatan. Rasulullah lantas memerintahkan keduanya untuk melaksanakan ayat Allah tersebut, “Mulailah saling melaknat di antara kalian.”

“Ya Hilal, nyatakan kesaksianmu dengan nama Allah sebanyak empat kali bahwa kamu seorang yang benar dalam kesaksianmu itu,” perintah Rasulullah pada Hilal. Maka, Hilal bin Umayah pun bersumpah sebanyak empat kali bahwa ia adalah seorang yang benar.

“Ya Hilal, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya siksa Allah di dunia jauh lebih ringan daripada siksaNya di akhirat dan sesungguhnya permasalahanmu ini bisa mendatangkan siksa kepadamu.”

“Demi Allah,” kata Hilal, “Dia tidak akan menyiksaku dan tidak akan mengenakan sanksi hadd kepadaku atas masalah ini.” Setelah itu Hilal pun bersumpah untuk kelima kalinya bahwa ia dalam laknat Allah jika ia bersaksi palsu.

“Sesungguhnya Allah tahu bahwa seorang di antara kamu berdua ini ada yang bohong. Adakah di antara kalian berdua ini yang mau bertaubat?” Namun, keduanya enggan untuk menyatakan pertaubatan.

Lalu Rasulullah memerintahkan isteri Hilal untuk bersumpah, “Bersaksilah atas nama Allah sebanyak empat kali bahwa kesaksian suamimu kepadamu itu bohong.” Maka, isteri Hilal bin Umayah pun bersumpah sebanyak empat kali bahwa ia adalah seorang yang benar dan suaminya itu telah berdusta.

“Wahai perempuan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya siksa Allah di dunia jauh lebih ringan daripada siksaNya di akhirat dan sesungguhnya permasalahanmu ini bisa mendatangkan siksa kepadamu.”

Maka tatkala ia hendak mengucapkan sumpah yang kelima, maka orangorang menghentikannya agar tidak jadi mengucapkan sumpah kelima, dan mereka berkata, “Sesungguhnya perempuan ini wajib dijatuhi hukuman.”

Dia raguragu sesaat, berjalan mundur hingga orangorang mengira ia akan mengakuinya. Lalu dia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencemari nama baik kaumku.” Yang dimaksud ‘kaumku’ adalah ‘kaum perempuan’. Lalu ia menyatakan sumpahnya yang kelima bahwa laknat Allah akan menimpanya kalau kesaksian suaminya itu benar.

Rasulullah lalu memisahkan keduanya, menetapkan anak yang lahir dari perempuan itu kelak tidak boleh dinasabkan kepada Hilal bin Umayah, dan tidak boleh menuduh anaknya itu karena siapa yang menuduhnya akan dikenakan sanksi hadd. Diputuskan juga bahwa Hilal tidak berkewajiban memberikan rumah kepadanya, tidak pula jaminan makan dan minumnya karena keduanya bercerai di luar hukum talak dan meninggal dunia.

Rasulullah lalu bersabda, “Jika anak yang dilahirkan perempuan itu kelak berambut kemerahmerahan, kedua paha dan betisnya kurus, anak itu adalah anak Hilal. Akan tetapi, jika anak itu berkulit cokelat, berambut keriting, kedua paha dan betisnya gemuk, ia anak Syarik bin Samha’.” Dalam Fathul Bari, Irwaul Ghalil, Aunul Ma’bud, Sunan At Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah, Rasulullah bersabda, “Perhatikan dia, jika dia datang dengan membawa bayi yang juling matanya, besar pinggulnya, dan kedua betisnya besar juga maka ia milik Syarik bin Samha’.”

Setelah perempuan isteri Hilal itu melahirkan, ternyata anak itu berambut keriting, kedua paha dan betisnya gemuk. Seperti yang dicirikan Rasulullah. Melihat hal itu, Rasulullah bersabda, “Demi Allah, kalau bukan karena ada ketetapan di dalam Kitabullah, tentu aku akan memperhitungkan perempuan itu!”

***

Lama saya merenungi bagaimana bentuk pengkhianatan cinta itu.  Banyak bingkai yang melingkupi persoalan cinta dan pengkhianatan atas cinta. Dan satusatunya yang dengan yakin saya pahami adalah pengkhianatan itu hanya ada di dalam sebuah ikatan. Ya. Sebuah ikatan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s