Shalat Tahajud Malam Witir Tarawih

Sendiri

pada bilik kehidupan bersekat kenyataan
tanpa kawan, hanya dindingdinding diam beratap awan
iblis membisik cinta, mesra merayu jiwa
jantungku berluka sayatan iman

Pasti akan ada suatu masa yang akan Tuan temui, dimana saat itu Tuan tidak lagi bersamasama dengan orangorang shalih yang Tuan cintai dan mencintai Tuan. Tidak ada lagi pendar keimanan yang mereka pancarkan pada jiwa Tuan secara langsung. Bisa jadi saat itu Tuan sedang menjalankan sebuah tugas da’wah dan memenuhi panggilan ilahi untuk berada di sebuah daerah yang baru sama sekali. Sebuah daerah dengan sedikit orang shalih yang sejalan, atau bahkan tidak ada sama sekali. Saat itu Tuan benarbenar berada dalam kondisi sendiri dari orangorang shalih yang diharapkan saling mendukung.

Atau bisa jadi juga Tuan sering berada dalam keadaan sendiri dalam makna harfiah. Saat dimana Tuan tidak sedang bersamasama dengan manusia lain. Saat dimana yang membersamai hanyalah makhlukmakhluk mati dan makhluk ghaib yang tidak bisa Tuan saksikan, ada malaikat, ada jin, ada iblis, dan tentunya ada syaithan.

Saatsaat bersama orangorang shalih itu, sangat mungkin Tuan menjadi orang shalih pula. Kebersamaan dan pergaulan sangat mempengaruhi sikap dan kepribadian, bahkan tingkah laku  kita pun sedikit banyak sangat dipengaruhi oleh orangorang yang kita pergauli. Jika orangorang yang kita pergauli adalah para abidin, maka kita pun terkena pendar ibadahnya. Jika orangorang yang kita pergauli adalah para mushlihin, maka kita pun terkena pendar ishlahnya. Jika yang orangorang yang kita pergauli adalah para muttaqin, maka kita pun terkena pendar taqwanya. Namun, jika orangorang yang kita pergaui adalah orang fasiq, maka kita pun terkena pendar kemaksiatannya. Ini adalah sunnatullah yang berjalan di alam semesta.

Membersamai orangorang shalih adalah hadiah tak ternilai. Dan meninggalkan mereka bisa jadi adalah sebuah musibah bagi diri. Ibadah menjadi berkurang, dan kecintaan dunia pun semakin menguat.

“Suatu ketika,” kisah Hanzhalah Al Usaidi, salah seorang juru tulis Rasulullah, sebagaimana dicatat Imam Muslim dalam Shahih, “Abu Bakar menemuiku dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?’”

“Hanzhalah telah menjadi munafik!” kata Hanzhalah.

“Subhanallah! Apa yang kamu ucapkan?” tanya Abu Bakar penuh keheranan.

“Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” ujarnya berkisah, “Beliau mengingatkan kepada kami mengenai neraka dan surga sampaisampai seolaholah kami benarbenar bisa melihatnya secara langsung dengan mata kepala kami saat itu. Namun, ketika kami sudah meninggalkan majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kami pun sibuk bersenangsenang dengan isteriisteri dan anakanak serta sibuk dengan pekerjaan kami sehingga kami pun banyak lupa.”

“Demi Allah,” kata Abu Bakar, “Aku pun menjumpai perkara yang serupa.”

Maka, keduanya pun mendatangi Rasulullah.

“Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Rasulullah,” kata Hanzhalah saat menemui Rasulullah.

“Apa yang kamu maksudkan?”

“Wahai Rasulullah,” jawabnya, “Ketika kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami mengenai neraka dan surga sampaisampai itu semua seolaholah tampak di depan mata kepala kami lalu ketika kami meninggalkan majelismu maka kami pun sibuk bersenangsenang dengan isteriisteri dan anakanak serta pekerjaan sehingga membuat kami melupakan banyak hal.”

Dengan penuh kasih, Rasulullah pun menasihati mereka, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya kalian selalu berada dalam kondisi sebagaimana ketika berada di sisiku dan terusmenerus sibuk dengan dzikir niscaya para malaikat pun akan menyalami kalian di atas tempat pembaringan dan di jalanjalan kalian.”

“Namun,” lanjut beliau, “Wahai Hanzhalah. Ada kalanya begini, dan ada kalanya begitu. Ada kalanya begini, dan ada kalanya begitu. Ada kalanya begini, dan ada kalanya begitu.” Saking wajarnya hal ini dan realiti kemanusiaan, Rasulullah mengulangi perkataannya tiga kali.

Begitulah sisisisi kemanusiaan, bahwa kebersamaannya bersama manusiamanusia shalih akan mendorong kecenderungan untuk bertambah imannya. Dan kesendiriannya dari orangorang shalih ataupun orang ramai adalah sebuah ujian integritas keimanan dan ketakwaan diri. Saat diri diuji dari fitnah riya’, sum’ah, danujub.

Rasulullah pun yang terbiasa memimpin shalat jama’ah dengan ringan dan sempurna, ternyata berbeda saat shalat dalam keadaan sendiri. Ibadahnya bukan untuk dilihat malam, tapi merupakan kesyukuran dan pengejawantahan kesempurnaan keikhlasannya pada Allah. Panjang, berat, dan membengkakkan kedua tapak kakinya.

Shahabat Hudzaifah menuturkan dalam Shahih Muslim bahwa ia pernah bermakmum pada Rasulullah yang sedang mengerjakan shalat malam. Rasulullah membuka raka’at pertama dengan Surah Al Baqarah. Sementara Hudzaifah mengira Rasulullah akan ruku’ pada ayat ke seratus. Namun, ternyata Rasulullah tetap melanjutkan bacaannya. Rasulullah baru menyelesaikan bacaannya hingga pengujung surah.  Di rakaat kedua, Rasulullah membuka dengan Surat An Nisa’ dan menyambungnya dengan Surat Ali Imran.

“Beliau membacanya itu dengan rapi sekali, tidak tergesagesa,” tutur Hudzaifah, “Jika melalui ayat yang didalamnya mengandung pentasbihan,  beliaupun mengucapkan tasbih.  Jika melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliaupun memohon.  Jika melalui ayat yang menyatakan berta’awudz, beliaupunberta’awudz. Kemudian beliau  ruku’. Dan di situ beliau mengucapkan, ‘Subhana rabbial ‘azhim.’ Ruku’nya seumpama berdirinya. Selanjutnya beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu liman hamidah, Rabbana lakal hamd.’ Lalu berdiri dengan berdiri yang lamanya mendekati ruku’nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan, ‘Subhana rabbiyal a’la,’ maka sujudnya itu mendekati pula akan berdirinya.”

Begitulah Rasulullah, saat memimpin dan bersama orang banyak beliau ringan dalam shalat. Namun, saat berniat sendiri dalam shalat malamnya yang jauh dari pandang dan kebersamaaan manusia, beliau memanjangkan dan memperlamanya. Tanpa sedikitpun riya’, ujub, dan sum’ah. Bahkan seorang shahabat sekaliber Abdullah bin Mas’ud, salah seorang pembantu Rasulullah yang paling tahu tentang Al Qur’an, pun pernah ingin bermaksud buruk dengan ‘meninggalkan’ shalat malam berjama’ah bersama Rasulullah.

Satu generasi selanjutnya setelah masa hidup Rasulullah, seorang abid  tabi’in yang bernama Amir bin Abdillah At Tamimi juga melakukan ibadah malam yang luar biasa. Bahkan ia sengaja menyendiri dari pandang dan kebersamaan manusia dalam melakukannya. Saya nukilkan penggal hidupnya dari Shuwaru min Hayati At Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya.

Seorang penduduk Bashrah  mengisahkan, “Aku pernah mengikuti safar beserta rombongan yang di dalamnya terdapat Amir bin Abdillah. Tatkala menjelang malam kami singgah di hutan. Aku lihat Amir mengemasi barangbarangnya, mengikat kendaraannya di pohon dan memanjangkan tali pengikatnya, mengumpulkan rerumputan yang dapat mengenyangkan kendaraannya dan meletakkan di hadapannya. Kemudian beliau masuk ke hutan dan menghilang di dalamnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Demi Allah, aku akan mengikutinya dan aku ingin melihat apa yang sedang ia lakukan di tengah hutan malam ini.’

Aku melihat Amir berjalan hingga berhenti di suatu tempat yang lebat perpohonannya dan tersembunyi dari pandangan manusia. Lalu dia menghadap ke kiblat, beridiri untuk shalat. Aku tidak melihat shalat yang lebih bagus, lebih sempurna dan lebih khusyuk dari shalatnya. Setelah berlalu dari beberapa rakaat yang dikehendaki Allah, dia berdo’a kepada Allah dan bermunajah kepadaNya. Diantara yang dia ucapakan ialah, ‘Wahai Ilahi, sungguh Engkau telah menciptakan aku dengan perintahMu, lalu Engkau tempatkan aku ke dunia ini sesuai kehendakMu, lalu Engkau perintahkan ‘Berpegang teguhlah!’ Bagaimana aku akan berpegang teguh jika Engkau tidak meneguhkan aku dengan kelembutanMu, ya Qawiyu yaa Matin! Wahai Ilahi, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa seandainya aku memiliki dunia dan seluruh isinya, kemudian diminta untuk meraih ridhaMu niscaya aku akan memberikan kepada orang yang memintanya, maka berikanlah jiwaku kepadaku, ya Arhamar Rahimin! Wahai Ilahi, kecintaan kepadaMu yang sangat, membuatku terasa ringan menghadapi musibah, ridha atas segala qadha’, maka aku tidak peduli terhadap apa pun yang menimpa diriku pagi dan sore harinya selagi masih bisa mencintaiMu.’

Penduduk Bashrah itu melanjutkan, “Kemudian rasa kantuk mendatangiku hingga aku tertidur. Berkalikali aku tidur dan bangun sedang Amir masih tegak di tempatnya, tetap dalam shalat dan munajahnya sampai datanglah waktu Shubuh.

Usai shalat Shubuh beliau berdoa, ‘Ya Allah, waktu Shubuh telah datang, manusia segera bangun dan pergi mencari karuniaMu. Sesungguhnya masing-masing mereka memiliki keperluan, dan sesungguhnya keperluan Amir di sisiMua adalah agar Engkau mengampuninya. Ya Allah, kabulkanlah keperluanku dan juga keperluan mereka, ya akramal akramin. Ya Allah, sesungguhnya aku telah memohon kepadaMu tiga perkara, lalu Engkau mengabulkan dua diantaranya dan tinggal satu saja yang belum. Ya Allah perkenankanlah permohonan tersebut sehingga aku bisa beribadah kepada-Mu sesuka hatiku dan sekehendakku!’

Beliau beranjak dari tempat duduknya dan tibatiba pandangan matanya tertuju kepadaku. Beliau terperanjat dan berkata, “Apakah Anda membututiku sejak kemarin malam, wahai saudaraku dari Bashrah?”

“Benar.”

“Rahasiakanlah apa yang Anda lihat, semoga Allah merahasiakan aib Anda!”

“Demi Allah, engkau beritahukan aku terlebih dahulu tentang tiga permohonanmu kepada Allah tersebut, atau aku akan memberitahukan kepada manusia tentang apa  yang aku lihat darimu.”

“Duhai celaka, jangan sampai engkau beritahukan kepada orang lain!”

“Dengan syarat engkau penuhi permintaanku kepadamu.”

Maka tatkala beliau melihat keseriusanku, beliau berkata, “Akan aku ceritakan asalkan Anda mau berjanji kepada Allah untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun.”

“Baiklah aku berjanji kepada Allah untuk tidak menyebarkan rahasia ini selagi Anda masih hidup.” Lalu beliau berkata:

“Tiada sesuatu yang memudharatkan agama yang lebih aku takuti dari fitnah wanita, maka aku memohon kepada Rabb-ku agar mencabut rasa cinta (syawatku) kepada wanita, maka Allah mengabulkan doaku sehingga tatkala aku berjalan, aku tidak peduli apakah yang aku lihat seorang wanita ataukah tembok.”

“Ini yang pertama, lantas apa yang kedua?”

“Yang kedua adalah aku memohon kepada Rabb-ku agar tidak diberi rasa takut kepada siapapun selain Dia, maka Allah mengabulkan aku sehingga demi Allah, tiadalah yang aku takuti baik yang dilangit dan di bumi selain Dia.”

“Lantas apa do’a yang ketiga?”

“Aku memohon kepada Allah agar menghilangkan rasa kantuk dan tidur sehingga aku bisa beribadah kepadaNya di malam dan siang hari sesuka hatiku, namun Allah belum mengabulkannya.”

Tatkala aku mendengar dari beliau, aku berkata, “Kasihanilah dirimu, Anda telah melakukan shalat di malam hari dan shaum di siang hari, padahal surga dapat diraih dengan amal yang lebih ringan dari apa yang Anda kerjakan. Dan neraka dapat dihindari dengan perjuangan  yang lebih ringan dari apa yang Anda usahakan.”

Beliau berkata, “Aku takut jika nanti aku menyesal selagi tiada bermanfaat sedikit pun penyesalan itu. Demi Allah aku akan bersungguhsungguh untuk beribadah, tidak ada pilihan lain, jika aku selamat itu sematamata karena rahmat Allah, jika aku masuk neraka maka itu karena keteledoranku.”

Subhanallah, begitulah sebagian dari generasi awal umat ini dalam kesendirian mereka. Saat tak bersamasama dengan orang lain. Saat menyendiri. Saat bermunajat dan mencumbui manisnya ibadah pada Allah.

Hal yang mirip pun pernah dilakukan Imam Abu Hanifah. Suatu ketika, di malam yang dingin dan sunyi, Imam Abu Hanifah bermunajat di sebuah masjid. Di sana beliau menghabiskan waktunya dengan shalat, dzikir, dan berdoa hingga shubuh. Tak disangka, ada orang yang melihat ibadahnya itu. Setelah mengetahui ada yang memperhatikannya, beliau lalu berkata kepada orang tersebut agar merahasiakan perihal apa yang dilihatnya.

Salah seorang da’i kontemporer yang berhati lembut dan merupakan  Mursyid Al ‘Amm ketiga Jamaah Ikhwanul Muslimin, Umar At Tilmisani, menceritakan sebuah kisah tentang kesendirian. Saat itu ia sedang mengadakan perjalanan da’wah bersama gurunya.

”Pada waktu itu kami sedang melakukan acara Raker di luar kota,” katanya mulai berkisah tentang gurunya, Imam Hasan Al Banna.

“Selesai acara rapat,” lanjutnya, “Waktu itu kirakira pukul 12 malam. Kami semua sangat lelah dikarenakan antusias dan kesungguhan kami di dalam acara rapat kerja tersebut. Kebetulan saya mendapat kamar yang sama dengan Imam Hasan Al Banna. Saya sudah sangat penat sekali dan ingin langsung istirahat tidur agar besok tidak terlambat waktu shalat shubuh. Kami berbaring di tempat tidur masingmasing,”

Tidak beberapa Iama Imam Hasan Al Banna memanggil, “Umar, sudah tidur?”

“Labbaika, belum Mursyid,” jawab Umar At Tilmisani.

Sang guru  tidak berkata apaapa lagi. Tak beberapa lama kemudian, beliau bertanya lagi hal yang sama, “Umar, kamu sudah tidur?”

“Labbaika, belum Mursyid,” jawabnya

Umar penasaran mengapa sang guru melakukan hal itu. Lama sang guru terdiam. Tibatiba beliau memanggil lagi. Karena sudah sangat penat, akhirnya Umar tidak menjawab. Ia tidak menjawab agar disangka sudah tidur lelap. Tibatiba Imam Hasan Al Banna bangun pelanpelan sekali. Berjalan sambil menenteng sandalnya ke kamar mandi. Di sana Umar mendengar sang guru dengan sangat hatihati berwudhu, agar percikan airya tidak membangunkannya. Kemudian Imam Hasan Al Banna pun mengambil tempat di sudut kamar. Menghadap kiblat. Dan shalat malam beberapa rakaat. Maka, terjawablah rasa penasaran  di hati Umar At Tilmisani.

Begitulah nilai kesendirian di hadapan orangorang shalih yang senantiasa memperbaiki diri. Ada nilai ketulusan, keiklasan, keimanan, keyakinan, ketundukan, kecintaan, perjuangan, pengorbanan, dan penjagaan. Jauh dari sifat kemunafikan yang terselubung perasaan riya’, sum’ah, dan ujub. Kesendirian itulah saat dimana integritas diri kita diuji: naif ataukah najah.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s