Masjid An Nur Pekanbaru I'tikaf Ramadhan Lailatul Qadar

Hukum Masjid yang Sah untuk I’tikaf

Apakah i’tikaf boleh dilakukan di sembarang masjid atau mushala mana saja, atau hanya boleh dilakukan di masjid jam’ yang melaksanakan shalat Jum’at, atau malah hanya boleh dilakukan di tiga masjid suci yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha? Dalam hal ini ada beberapa pendapat.

1. Hanya Sah I’tikaf di 3 Masjid Haram

Dalil yang digunakan oleh pendapat ini adalah,

Hudzaifah berkata kepada ‘Abdullah bin Mas’ud, “Engkau melihat suatu kaum melakukan i’tikaf (di masjid) antara rumahmu dan rumah Abu Musa Al Asy’ari dan engkau tidak melarang mereka?” Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Barangkali mereka yang benar dan engkau yang salah, serta mereka yang hafal (sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam) dan engkau yang lupa.” Lalu Hudzaifah berkata lagi, “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid.”

Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ (dinisbatkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam) oleh Sa’id bin Manshur dalam kitab As Sunan dan Ath Thahawi dalam kitab Musykilul Atsar, juga diriwayatkan secara mauquf (dinisbatkan kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu sebagai ucapannya) oleh Ath Thabrani dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir, Abdur Razzaq dalam kitab Al Mushannaf, dan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf.

Hadits ini dinyatakan lemah oleh Ibnu Hazm, namun dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah.

2. Sah di Masjid atau Mushala yang Melaksanakan Shalat 5 Waktu

Masjid yang melaksanakan shalat 5 waktu di Indonesia dikenal dengan sebutan mushala (masjid kecil yang tidak melaksanakan shalat Jum’at).

Abdullah bin Abbas ditanya tentang seorang perempuan yang bersumpah untuk beri’tikaf di mushala di rumahnya. Abdullah bin Abbas lalu mengatakan, “Itu adalah bid’ah, dan tindakan yang paling dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah melakukan bid’ah. Tidak ada i’tikaf selain di masjid di mana shalat lima waktu dilaksanakan.” (HR Abdullah ibn Ahmad dalam Masail-nya 2/673 dari Imam Ahmad.)

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Al Mugni, 3/65 mengatakan: ‘I’tikaf tidak diperbolehkan kecuali di masjid yang didirikan shalat jama’ah. Dan tidak sah beri’tikaf di selain masjid kalau dia laki-laki. Kami tidak mengetahui di kalangan ahli ilmu ada perbedaan. Asal dari itu semua adalah firman Allah Ta’ala, ‘‘(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS Al Baqarah: 187)

Imam An Nawawi rahimahullah dalam Majmu’, 6/505 mengatakan, “Tidak sah beri’tikaf baik laki-laki maupun perempuan kecuali di dalam masjid. Tidak sah di masjid rumah wanita, tidak juga di masjid rumah lelaki yaitu yang terpisah dan dikhusukan untuk shalat.”

3. Sah di Masjid Jami’ yang Melaksanakan Shalat Jum’at

Pendapat yang menyatakan sahnya i’tikaf hanya dilakukan di masjid jami’ yang melaksanakan Shalat Jum’at berargumen bahwa orang yang i’tikaf di masjid yang tidak menyelenggarakan shalat Jum’at harus keluar menuju masjid jami’ untuk melaksanakan kewajiban shalat Jum’at. Keluarnya menuju masjid jami’ ini dianggap membatalkan i’tikafnya di masjid tersebut.

Namun, menurut Al Kasani dalam Bada’i Shana’i, keluarnya tersebut terhitung sebagai udzur syar’i sehingga tidak membatalkan i’tikafnya, lagipula hal itu hanya dilakukan sekali dalam seminggu, tidak berulangkali. Al Kasani  mengatakan, “Demikian pula keluar untuk menunaikan shalat Jum’at termasuk darurat, karena hukum menunaikan shalat Jum’at adalah faradhiallahu ‘anhuu ‘ain dan tidak mungkin dilaksanakan di setiap masjid. Sehingga, seorang harus keluar (ke masjid Jami’) untuk menunaikannya seperti (seorang yang keluar dari masjid tempatnya beri’tikaf) untuk menunaikan hajat. Keluarnya tersebut tidaklah membatalkan i’tikafnya.”

4. Sah di Masjid di Dalam Rumah

Ulama sepakat bahwa khusus untuk laki-laki, i’tikaf hanya sah dilaksanakan di masjid di luar rumahnya. Sedangkan untuk perempuan, terdapat perbedaan pendapat.

Para ulama penganut mazhab Hanafi membolehkan kaum perempuan beri’tikaf di ruangan khusus atau mushala di rumahnya. Mereka berpendapat bahwa tempat i’tikaf bagi perempuan adalah tempat yang mereka sukai dan tempat mereka melakukan salat lima waktu sehari-hari, karena tidak seperti laki-laki, lebih baik bagi kaum perempuan untuk salat dirumah dibandingkan di masjid. Berdasarkan pendapat itu, tempat i’tikaf perempuan selayaknya di sebuah ruangan khusus atau mushala di rumahnya sendiri.

Abu Hanifah dan Ats Tsauri menyatakan, “Seorang perempun boleh melakukan i’tikaf di rumah. Itu lebih baik bagi mereka, karena shalat mereka di rumah lebih baik daripada di masjid.”

Pendapat yang Rajih

Pendapat yang rajih tentang masjid yang sah digunakan untuk i’tikaf adalah masjid atau mushala yang di dalamnya dilaksanakan shalat 5 waktu. Selain itu terdapat tingkatan-tingkatan keutamaan lokasi pelaksanaan i’tikaf tersebut. Urutan keutamaannya adalah sebagai berikut:

  1. Masjidil Haram
  2. Masjid Nabawi
  3. Masjidil Aqsha
  4. Masjid jami’ yang menyelenggarakan shalat Jumat
  5. Masjid yang menyelenggarakan shalat 5 waktu.

I’tikaf di Luar Ruang Utama Masjid

Syaikh Shalih Muhammad Al Munjid menjelaskan mengenai perbedaan hukum antara ruang-ruang dan bagian di luar masjid sebagai berikut:

Batasan penentuan kamar, ruangan yang masuk masjid dengan yang tidak masuk masjid adalah

  1. Kalau kamar yang menyatu dengan masjid disediakan untuk diabuat masjid atau berniat untuk dijadikan bagian dari masjid untuk shalat di dalamnya. Maka ia mempunyai hukum masjid. Maka diperbolehkan i’tikaf di dalamnya. Orang haid dan nifas dilarang (menetap) di dalamnya. Akan tetapi kalau diniatkan bagian untuk belajar, tempat pertemuan atau tempat tinggal imam dan muazin. Bukan dibuat tempat shalat, maka ketika itu, tidak mengambil hukum masjid.
  2. Kalau tidak diketahui niatan orang yang membangun masjid. Asalnya adalah sesuatu yang masuk dalam pagar masjid, dan ia ada pintu ke masjid. Maka ia mempunyai hukum masjid.
  3. Halaman dan pelataran yang dikelilingi pagar masjid, ia mempunyai hukum masjid. An Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’, 2/207, berkata, ‘Tembok masjid di dalam dan luarnya, mempunyai hukum masjid dalam pemeliharaan dan menghormati kesuciannya. Begitu juga atapnya, sumur di dalamnya, begitu juga pelatarannya. Syafi’i dan teman-teman rahimahumullah telah mengaskan sahnya i’tikaf di pelataran dan atapnya. Dan sahnya shalat makmum di dalamnya yang mengikuti orang di dalam masjid.”

Dalam kitab Mathalib Ulin Nuha, 2/234 dikatakan, “Diantara (batasan) masjid adalah belakangnya yakni atapnya. Diantaranya juga pelataran yang dikelilingi (tembok). Al Qadhi berkata, ‘Kalau ia ada pagar dan pintu, maka ia seperti masjid. Karena ia bersama masjid. Dan mengikutinya. Kalau tidak dikelilingi (pagar) maka, tidak ada ketetapan baginya hukum masjid. Di antaranya menara (masjid) yang mana pintunya (menyatu) dengan masjid. Kalau menara dan pintunya diluar masjid, meskipun dekat. Dan orang yang beri’tikaf keluar untuk adzan, maka i’tikafnya batal.”

Ustadz Farid Nu’man Hasan menjelaskan perbedaan pendapat mengenai bagian-bagian masjid di luar ruang utama shalat:

Pada bangunan masjid, ada bagian yang diistilahkan ar rahbah – الرحبة, yaitu bagian lapang yang menyatu dengan masjid, baik itu terasnya, atapnya, termasuk basement jika ada.

Imam Ibnu Hajar berkata tentang makna ar rahbah ini:

هي بناء يكون امام باب المسجد غير منفصل عنه هذه رحبة المسجد

“Itu adalah bangunan yang berada di depan pintu masjid yang tidak terpisah dari masjid, inilah makna ar rahbah-nya masjid. (Fathul Bari, 13/155)

Para ulama berbeda pendapat, apakah ar rahbah termasuk bagian dari masjid atau tidak. Jika dia termasuk bagian masjid, maka berlakulah hukum-hukum masjid, termasuk bolehnya tetap I’tikaf di situ. Jika bukan termasuk masjid, maka tidak sah i’tikaf di situ, karena bukan area masjid.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

فَاَلَّذِي يُفْهَمُ مِنْ كَلامِ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ فِي الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ الْمَسْجِدِ , وَمُقَابِلُ الصَّحِيحِ عِنْدَهُمْ أَنَّهَا مِنْ الْمَسْجِدِ , وَجَمَعَ أَبُو يَعْلَى بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ بِأَنَّ الرَّحْبَةَ الْمَحُوطَةَ وَعَلَيْهَا بَابٌ هِيَ مِنْ الْمَسْجِدِ . وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إلَى أَنَّ رَحْبَةَ الْمَسْجِدِ مِنْ الْمَسْجِدِ , فَلَوْ اعْتَكَفَ فِيهَا صَحَّ اعْتِكَافُهُ

Maka, yang bisa difahami darir perkataan kalangan Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, menurut pendapat yang sah sebagai pendapat madzhab adalah ar rahbah bukan termasuk masjid, dan ada juga pada diri mereka sendiri yang berlawanan dengan pendapat ini bahwa ar rahbah adalah bagian dari masjid. Abu Ya’la memadukan di antara dua riwayat yang berbeda ini bahwa ar aabah yang termasuk masjid adalah ar rahbah (bagian lapang) yang diberikan pagar (batasan/tembok) dan di atasnya dibuat pintu. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 5/224)

Manakah pendapat yang lebih kuat? Imam Ibnu Hajar berkata:

ووقع فيها الاختلاف والراجح ان لها حكم المسجد فيصح فيها الاعتكاف

Telah terjadi perbedaan pendapat tentang ini, namun pendapat yang lebih kuat adalah ar rahbah memiliki hukum-hukum masjid, dan sah I’tikaf di dalamnya. (Fathul Bari, 13/155)\

Imam Al ‘Aini menerangkan tentang ar rahbah:

وهي الساحة والمكان المتسع أمام باب المسجد غير منفصل عنه وحكمها حكم المسجد فيصح فيها الاعتكاف في الأصح بخلاف ما إذا كانت منفصلة

“Ar rahbah adalah lapangan atau tempat yang luas di depan pintu masjid yang tidak terpisah dari masjid, hukumnya sama dengan hukum masjid, maka sah beri’tikaf di dalamnya menurut pendapat yang lebih benar dari perbedaan pendapat yang ada, selama dia masih bersambung dengan masjid.” (Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 35/254)

Imam An Nawawi menjelaskan pula:

وقد نص الشافعي علي صحه الاعتكاف في الرحبة قال القاضي أبو الطيب في المجرد قال الشافعي يصح الاعتكاف في رحاب المسجد لانها من المسجد

“Imam Asy Syafi’i telah mengatakan bahwa sah-nya i’tikaf di ar rahbah. Al Qadhi Abu Ath Thayyib berkata dalam Al Mujarrad: “’Berkata Asy Syafi’i: I’tikaf sah dilakukan di bangunan yang menyatu dengan masjid, karena itu termasuk bagian area masjid.’” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/507)

Inilah pendapat yang dianut oleh Hasan Al Bashri, Zurarah bin Abi Aufa, Al Bukhari, dan kuatkan oleh Imam Ibnu Hajar, Imam An Nawawi, Imam Al ‘Aini, Imam Ibnul Munayyar, dan lainnya. Juga Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Abdul Aziz Alu Asy Syaikh, dan lainnya.

Imam Ibnu Qudamah mengatakan:

وَيَجُوزُ لِلْمُعْتَكِفِ صُعُودُ سَطْحِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَتِه

“Dibolehkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menaiki atap masjid karena itu bagian dari bangunannya.” (Al Mughni, 6/227)

Kebolehan i’tikaf di atap masjid, tidaklah diperselisihkan oleh imam madzhab. (Lihat Al Mausu’ah, 5/224, juga 6/228)

Atap adalah bagian yang menyatu dengan masjid, sebagaimana basement yang menyatu dengannya, tidak ada bedanya. Hanya saja yang satu di atas, dan yang satu dibawah.

Jadi, selama bangunan itu (baik tegelnya atau dindingnya) masih menyatu dengan masjid –seperti teras, atap, ruang samping mihrab, basement, menara- maka dia termasuk masjid, dan sah I’tikaf di sana. Inilah pendapat yang lebih kuat di antara dua perselisihan yang ada, dan pendapat ini sesuai dengan kaidah:

الحريم له حكم ما هو حريم له

“Sekeliling dari sesuatu memiliki hukum yang sama dengan hukum yang berlaku pada sesuatu itu sendiri.” (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 125)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s