Heartbreak Patah hati

Kisah Cinta Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Tentang Mu’awiyah, Anis Matta berkata, “Lelaki perlente itu tidak hanya dikenal sangat tampan, yang ketampanannya bahkan mengalahkan kecantikan wanita paling cantik. Ia juga lelaki paling berkuasa dan paling disegani di muka bumi kala itu.”

“Ia punya selera,” lanjutnya. “Semua yang ia miliki adalah mimpi-mimpi wanita. Namun, itu lantas jadi ironi: kali ini cinta tersedak. Ia tergila-gila pada seorang gadis Badui yang cantik dan Innocent. Ia menikahinya. Lalu memboyongnya tinggal di istananya.”

Dalam Tarikh Ath Thabari disebutkan nama perempuan itu, Maisun binti Bahdal Al Kalbiyah. Ia adalah ibunda dari Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Selain melahirkan Yazid, Maisun juga melahirkan seorang anak perempuan bernama Amah Rabbil Masyariq. Namungadis kecil ini meninggal di usia muda.

Sebagai seorang bangsawan Quraisy yang berkepribadian terhormat, Mu’awiyah sangat memuliakan dan menghormati Maisun binti Bahdal. Akan tetapi, sikap yang ditunjukkan oleh Mu’awiyah itu tidak terlalu bersambut bagi Maisun.

Maisun adalah perempuan dusun yang tumbuh dan besar di padang-padang pasir bersama kaumnya. Ia tidak bisa melupakan tanah kelahirannya di pedalaman padang pasir. Seringkali pula ia mengingat keluarganya, kehidupan mereka yang sederhana, lingkungan mereka yang bersih, dan jauhnya mereka dari apa yang mengotorinya.

Maisun tidak betah tinggal di istana dengan pelayan dan dayang-dayangnya.

Suatu hari, kata Syaikh Ali Muhammad Ash Shalabi, dia teringat kampung halamannya dan penduduknya. Ia merindukan tanah kelahirannya, merindukan masa kecilnya. Maka ia menangis sesenggukan, hingga sebagian pelayan berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis, sementara saat ini engkau di dalam istana yang menandingi istana Ratu Bilqis?”

Maisun menarik nafas panjang dan bersyair:

sungguh sebuah rumah dimana kebahagiaan berkibar kepadanya

lebih aku cintai daripada istana megah

unta muda yang berlari mengikuti dan mendahului induknya

lebih aku cintai daripada seekor baghal yang dihiasi

anjing yang menggonggongi orang-orang yang datang di malam hari

lebih aku cintai daripada seekor kucing jinak

memakai kain kasar sementara hatiku berbahagia

lebih aku sukai daripada memakai kain lembut tipis

makan remahan roti di samping rumahku

lebih aku sukai daripada memakan roti empuk

suara-suara angin di setiap sudut perkampungan

lebih aku sukai daripada dentuman rebana

anak muda berhati mulia dari kaumku lagi kurus

lebih aku sukai daripada lelaki kasar yang banyak makan

kerasnya kehidupanku di perkampungan

lebih menarik diriku daripada kehidupan yang penuh kemewahan

aku tidak pernah mencari pengganti selain tanah kelahiranku

cukuplah ia bagiku sebagai kampung halaman yang terhormat

Saat Mu’awiyah pulang, pelayan menyampaikan kata-kata Maisun kepadanya. Ada yang berkata bahwa Mu’awiyah mendengar sendiri Maisun bersyair.

Bagi Mu’awiyah, menurut Anis Matta, syair itu adalah sebuah deklarasi: aku tidak mencintaimu, aku tidak bisa mencintaimu, aku ingin pulang, aku ingin menikah dengan kekasihku!

Maka Mu’awiyah berkata, “Putri Bahdal tidak rela sehingga dia menyebutku dengan lelaki kasar yang banyak makan. Dia diceraikan. Perintahkan dia agar membawa semua yang ada di istana, semua menjadi miliknya.”

Al Baghdadi menukil dalam Khizanah Al Adab bahwa saat Mu’awiyah menceraikannya, ia berkata, “Dulu kamu demikian, tapi sekarang kamu pergi jauh.”

Maisun pun menjawab, “Dulu kami tidak berbahagia, dan kami tidak menyesal saat berpisah.”

Kemudian Mu’awiyah memulangkannya ke tanah kelahirannya dan Maisun membawa Yazid, putranya, hingga ia tumbuh di perkampungan sebagai anak yang fasih. Demikian disebutkan dalam Nisa’ min ‘Ashri At Tabi’in karangan Ahmad Khalil Jum’ah.

5 thoughts on “Kisah Cinta Mu’awiyah bin Abi Sufyan

  1. kun pernah mireng hadits iki?

    Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

    “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengirim tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya.

    Datang salah seorang dari mereka seraya berkata: Aku telah melakukan ini dan itu.

    Maka Iblis menjawab: “Engkau belum melakukan apa-apa”.

    Lalu datang yang lain seraya berkata: “Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya”.

    Maka Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya dengan berkata: “Ya, engkaulah”.

    __________________
    iku maksude tentang perceraian kah?

    1. Hadits tersebut diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

      إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

      Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah Iblis menghadap Iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)

      Hadits ini menjelaskan bahwa pekerjaan Iblis dalam menggoda manusia adalah dengan memisahkan suami dengan istrinya melalui perceraian. Bagi Iblis, ini adalah keberhasilan yang besar dalam menyesatkan manusia, karena dengan menghancurkan pondasi keluarga, maka menjadi awal dari kehancuran sebuah masyarakat.

      Syaithan penggoda tersebut memiliki keshabaran yang tinggi hingga ia tidak meninggalkan si manusia hingga ia menceraikan isterinya.

      Na’udzubillahi minasy syaithanir rajim…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s