Zakat Penghasilan Dinar Dirham

Hadits tentang Haul dalam Zakat Penghasilan Menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi

Dalam Sunan Abu Daud, Kitab Zakat, Bab Zakat Ternak, terdapat hadits yang diperselisihkan oleh para ulama, dimana hadits ini berkaitan erat dengan haul harta zakat. Jumhur ulama menyatakan bahwa hadits ini shahih atau hasan.

Dalam kajian ini, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dalam kitab Fiqhuz Zakat menyatakan bahwa hadits ini lemah dan cacat.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ وَعَنْ الْحَارِثِ الْأَعْوَرِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ زُهَيْرٌ أَحْسَبُهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّه قَالَ هَاتُوا رُبْعَ الْعُشُورِ مِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا دِرْهَمٌ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ شَيْءٌ حَتَّى تَتِمَّ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ فَإِذَا كَانَتْ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ فَمَا زَادَ فَعَلَى حِسَابِ ذَلِكَ وَفِي الْغَنَمِ فِي أَرْبَعِينَ شَاةً شَاةٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا تِسْعٌ وَثَلَاثُونَ فَلَيْسَ عَلَيْكَ فِيهَا شَيْءٌ وَسَاقَ صَدَقَةَ الْغَنَمِ مِثْلَ الزُّهْرِيِّ قَالَ وَفِي الْبَقَرِ فِي كُلِّ ثَلَاثِينَ تَبِيعٌ وَفِي الْأَرْبَعِينَ مُسِنَّةٌ وَلَيْسَ عَلَى الْعَوَامِلِ شَيْءٌ وَفِي الْإِبِلِ فَذَكَرَ صَدَقَتَهَا كَمَا ذَكَرَ الزُّهْرِيُّ قَالَ وَفِي خَمْسٍ وَعِشْرِينَ خَمْسَةٌ مِنْ الْغَنَمِ فَإِذَا زَادَتْ وَاحِدَةً فَفِيهَا ابْنَةُ مَخَاضٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ بِنْتُ مَخَاضٍ فَابْنُ لَبُونٍ ذَكَرٌ إِلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ فَإِذَا زَادَتْ وَاحِدَةً فَفِيهَا بِنْتُ لَبُونٍ إِلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَإِذَا زَادَتْ وَاحِدَةً فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ الْجَمَلِ إِلَى سِتِّينَ ثُمَّ سَاقَ مِثْلَ حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ قَالَ فَإِذَا زَادَتْ وَاحِدَةً يَعْنِي وَاحِدَةً وَتِسْعِينَ فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا الْجَمَلِ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَإِنْ كَانَتْ الْإِبِلُ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ فَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ وَلَا يُفَرَّقُ بَيْنَ مُجْتَمِعٍ وَلَا يُجْمَعُ بَيْنَ مُفْتَرِقٍ خَشْيَةَ الصَّدَقَةِ وَلَا تُؤْخَذُ فِي الصَّدَقَةِ هَرِمَةٌ وَلَا ذَاتُ عَوَارٍ وَلَا تَيْسٌ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ الْمُصَدِّقُ وَفِي النَّبَاتِ مَا سَقَتْهُ الْأَنْهَارُ أَوْ سَقَتْ السَّمَاءُ الْعُشْرُ وَمَا سَقَى الْغَرْبُ فَفِيهِ نِصْفُ الْعُشْرِ وَفِي حَدِيثِ عَاصِمٍ وَالْحَارِثِ الصَّدَقَةُ فِي كُلِّ عَامٍ قَالَ زُهَيْرٌ أَحْسَبُهُ قَالَ مَرَّةً وَفِي حَدِيثِ عَاصِمٍ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي الْإِبِلِ ابْنَةُ مَخَاضٍ وَلَا ابْنُ لَبُونٍ فَعَشَرَةُ دَرَاهِمَ أَوْ شَاتَانِ

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ وَسَمَّى آخَرَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ وَالْحَارِثِ الْأَعْوَرِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ أَوَّلِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ قَالَ فَلَا أَدْرِي أَعَلِيٌّ يَقُولُ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ أَوْ رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ إِلَّا أَنَّ جَرِيرًا قَالَ ابْنُ وَهْبٍ يَزِيدُ فِي الْحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

Telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin Muhammad An Nufaili, telah menceritakan kepada Kami Zuhair, telah menceritakan kepada Kami Abu Ishaq dari ‘Ashim bin Dhamrah dan Al Harits Al A’war dari Ali Radhiallahu ‘Anhu, Zuhair berkata; aku mengiranya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda:

“Berikan seperempat puluh, dari setiap empat puluh dirham satu dirham. Dan tidak ada kewajiban sedikitpun atas kalian hingga sempurna seratus dirham. Maka apabila telah berjumlah dua ratus dirham maka padanya terdapat zakat lima dirham, kemudian selebihnya sesuai perhitungan tersebut. Pada kambing, untuk jumlah empat puluh kambing zakat satu kambing, maka apabila hanya berjumlah tiga puluh sembilan maka tidak ada kewajiban sedikitpun atas kalian.”

Dan ia menyebutkan zakat kambing seperti yang disebutkan Az Zuhri.

Ia berkata: “Dan mengenai sapi pada setiap tiga puluh ekor terdapat seekor tabi’, pada jumlah empat puluh terdapat satu musinnah, sapi yang digunakan untuk kerja tidak ada kewajiban sedikitpun, pada unta …” kemudian ia menyebutkan zakatnya seperti yang telah disebutkan Az Zuhri.

Ia berkata: “Dan pada jumlah dua puluh lima terdapat zakat lima kambing, kemudian apabila lebih satu ekor maka padanya terdapat zakat satu ekor bintu makhadh, kemudian apabila tidak ada bintu makhadh maka ibnu labun jantan, hingga tiga puluh lima. Kemudian apabila lebih satu ekor maka padanya zakat satu ekor bintu labun, hingga empat puluh lima. Kemudian apabila lebih satu ekor maka padanya terdapat zakat satu ekor hiqqah yang siap hamil, hingga enam puluh.” Kemudian ia menyebutkan seperti hadits Az Zuhri.

Ia berkata: “Kemudian apabila lebih satu ekor yaitu sembilan puluh satu ekor maka padanya terdapat zakat dua hiqqah yang siap untuk hamil, hingga seratus dua puluh. Kemudian apabila unta tersebut lebih banyak dari itu maka pada setiap lima puluh terdapat zakat satu hiqqah, dan tidak dipisahkan antara unta yang digabungkan, dan tidak digabungkan antara unta yang dipisahkan karena khawatir wajib mengeluarkan zakat. Dan tidak diambil dalam zakat unta yang tua dan telah tanggal giginya, serta yang memiliki aib, dan unta pejantan, kecuali petugas zakat menghendakinya.”

“Dan dalam tumbuh-tumbuhan yang diairi sungai atau disirami air hujan terdapat zakat sepersepuluh, dan yang disirami dengan ember maka padanya terdapat seperdua puluh.” Dan dalam hadits ‘Ashim serta Al Harits disebutkan; “Zakat pada setiap tahun.”

Zuhair berkata; aku mengira ia berkata lagi; dan dalam hadits ‘Ashim disebutkan; “Apabila diantara unta tersebut tidak ada bintu makhadh dan juga ibnu labun, maka diganti sepuluh dirham atau dua ekor kambing.”

Telah menceritakan kepada Kami Sulaiman bin Daud Al Mahri, telah mengabarkan kepada Kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Jarir bin Hazim dan ia menyebutkan orang yang lain, dari Abu Ishaq, dari ‘Ashim bin Dhamrah serta Al Harits Al A’war dari Ali Radhiallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sebagian permulaan hadits ini berkata;

“Kemudian apabila engkau memiliki dua ratus dirham, dan telah mencapai haul maka padanya terdapat zakat lima dirham, dan engkau tidak berkewajiban apapun yaitu pada emas hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Maka apabila engkau memiliki uang dua puluh dinar dan telah mencapai haul maka padanya zakat setengah dinar, kemudian selebihnya sesuai dengan perhitungan tersebut.”

Zuhair berkata; aku tidak tahu apakah Ali mengatakan; “Sesuai dengan perhitungan tersebut atau ia me-rafa’-kannya (menisbatkan perkataan kepada Rasulullah Shallallahu wa ‘Alaihi wa Sallam) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan tidak ada zakat pada harta hingga masuk satu haul.” Hanya saja Jarir berkata; Ibnu Wahb menambahkan dalam hadits tersebut dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; “Tidak ada zakat pada harta hingga masuk satu haul.” (Abu Daud- 1342 –penomoran versi Lidwa)

Dalam kitab Fiqhuz Zakat, disebutkan: demikian hadits Ali yang diriwayatkan oleh Abu Daud, sedangkan penilaian ulama-ulama hadits tentang hadits tersebut sebagai berikut:

  1. Ibnu Hazm berkata, diikuti oleh Abdul Haq dalam Ahkamuhu, “Hadits itu diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dari Jarir bin Hazim dari Abu Ishaq dari Ashim dan Harits dari Ali. Abu Ishaq membandingkan antara Ashim dan Harits, Harits adalah pembohong yang menyangkutkannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedangkan Ashim tidak menyangkutkannya. Kemudian Jarir menggabungkan kedua hadits dari kedua orang tersebut. Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Syuibah, Sufyan, dan Mu’ammar dari Abu Ishaq dari Ashim dari Ali secara mauquf. Demikian juga semua yang diriwayatkan oleh Ashim mesti hanya sampai kepada Ali.” Seandainya Jarir menyangkutkannya ke Ashim dan menjelaskan hal tersebut, kita akan menerimanya.
  2. Ibnu Hajar berkata dalam At Talkhish, mengomentari pendapat Ibnu Hazm, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Turmizi dari Abu Awanah dari Abu Ishaq dari Ashim dari Ali sebagai hadits marfu’.” Menurut saya (Syaikh Yusuf Al Qaradhawi) hadits Abu Awanah tidak menyebut-nyebut masalah setahun (haul), yang oleh karena itu tidak bisa dijadikan landasan hukum. Teksnya sebagaimana diriwayatkan oleh At Turmidzi mengenai zakat emas dan uang adalah sabda Rasul, “Saya dulu memaafkan zakat kuda dan uang, sekarang keluarkanlah zakatnya: dari setiap empat puluh dirham satu dirham, seratus sembilan puluh tidak ada zakatnya, tetapi bila sudah mencapai dua ratus dirham maka zakatnya lima dirham.”
  3. Semua ini berdasarkan pendapat bahwa Ashim terjamin kejujurannya, tetapi sebenarnya ia tidak bebas dari cacat. Mundziri dalam Mukhtashar As Sunan mengatakan bahwa Harits dan Ashim tidak bisa dipercaya. Tetapi Dzahabi dalam Mizan Al I’tidal mengatakan bahwa terdapat empat orang memperoleh hadits itu darinya dan dikuatkan oleh Ibnu Mu’ayyan dan Ibnu Madini. Ahmad berkata bahwa ia lebih baik dari Harits – A’war dan dapat dipercaya. Nasa’i juga berpendapat demikian. Tetapi Ibnu Adi mengatakan bahwa ia meriwayatkan hadits tersebut sendiri saja dari Ali. Menurut Ibnu Hiban, Ashim mempunyai daya hafal yang jelek, banyak salah, dan selalu menghubungkan ucapannya itu kepada Ali, yang oleh karena itu lebih baik tidak diperhatikan, namun ia lebih baik dari Harits. Ucapan ini mendukung pendapat Mundzir, bahwa hadits tersebut tidak bisa dijadikan landasan hukum.
  4. Dengan demikian hadits tersebut ada cacatnya, sebagaimana diperingatkan oleh Ibnu Hajar dalam At Talkhish bahwa hadits yang kita sebutkan dari Abu Daud tersebut ada cacatnya. Ia mengatakan bahwa Ibnu Muwaq memperingatkan bahwa hadits tersebut mempunyai cacat yang tersembunyi, yaitu bahwa Jarir bin Hazim tidak mungkin mendengarnya dari Abu Ishaq, tetapi diriwayatkan oleh banyak penghafal seperti Sahnun, Harmala, Yunus, Bahr bin Nashir, dan lain- lainnya dari Ibnu Wahab dari Jarir bin Hazim dari Harits bin Nabhan dari Hasan bin ‘Imarah dari Abu Ishaq. Ibnu Muwaq berkata bahwa meragui kebenaran hadits tersebut karena Sulaiman adalah guru Abu Daud merupakan dugaan-dugaan untuk menjatuhkan seseorang saja. Hasan bin ‘Imarah yang tidak terdapat dalam sanad jelas tidak dapat dibenarkan.

Dengan demikian, kata Syaikh Al Qaradhawi, kita dapat melihat bahwa hadits tersebut tidak dapat dijadikan landasan. Sikap Ibnu Hajar yang diam saja atas kritikan Ibnu Muwaq atas hadits tersebut, bahkan menegaskan hadits tersebut ada cacatnya, dinilai sudah menyimpang dari pendapatnya dalam At Talkhish, bahwa hadits Ali benar sanadnya dan dikuatkan oleh banyak atsar sehingga dapat dijadikan landasan hukum.

Jelaslah bahwa dalam hadits tersebut terdapat banyak kekurangan. Yaitu dari pihak Harits yang diduga pembohong karena sebagian saja mengatakan hadits itu ke pihak sebelumnya, dari pihak Ashim yang dipersoalkan kejujurannya, dan dari segi cacat seperti disebut oleh Ibnu Muwaq dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar. Dan menurut pendapat saya, Allah-lah yang lebih tahu, bahwa orang-orang yang menganggap bahwa hadits Ali adalah hasan, bila mengetahui cacat yang diperingatkan oleh Ibnu Muwaq yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam bukunya tersebut, pasti akan meralat pendapat mereka, dan akan menyatakan bahwa hadits tersebut betul bercacat.

2 thoughts on “Hadits tentang Haul dalam Zakat Penghasilan Menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s