Pernikahan Wedding Muslim

Eksepsi

“Janganlah meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya,” kata Rasulullah sebagaimana dikutip Abu Hurairah dan dicatat oleh Imam Muslim. Dalam Shahih-nya, Imam Muslim mengkodifikasikan perkataan Rasulullah ini dengan nomor urut 2519.

Kita sudah sering mendengarkan perkataan Rasulullah tersebut dalam babbab fiqh yang membahas tentang munakahat dan muamalah. Dan kebanyakan dari kita memahami hadits ini secara letter lijk sampai di sini saja. Padahal sebenarnya masih ada kalimat terusan dari hadits tersebut. “Dan janganlah menawar barang yang telah ditawar saudaranya,” lanjut Rasulullah. Namun, kali ini kita hanya akan membahasnya pada penggal pertama hadits tersebut. Ya, hari ini kita akan belajar fiqh, agar bertambah ilmu kita dan merasakan kerendahan diri kita akan ilmu Allah yang demikian luasnya, serta bertambah berkah langkah dan perjuangan cinta kita.

Hadits tentang larangan meminang di atas pinangan orang lain juga kita dapati dari Abdullah ibnu Umar sebagaimana dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Nasa’i. Imam Bukhari mencatat di Kitab Shahih-nya dengan nomor 4746. Dan status haditshadits tersebut adalah shahih.

Tentang ini kita belajar kepada salah seorang shahabiyah yang mulia. Namanya Fathimah binti Qais Al Fihriyah. Ia adalah salah seorang keturunan Quraisy. Ibunya bernama Umaimah binti Rabi’ah, salah satu keturunan Bani Kinanah. Jadi, ia adalah salah seorang perempuan terpandang di Makkah. Ia dipersunting oleh Abu ‘Amr bin Hafsh bin Al Mughirah Al Makhzumi, dan menikah dengannya.

Suatu kali, suami Fathimah, Abu ‘Amr bin Hafsh diutus oleh Rasulullah bersama Ali bin Abi Thalib ke wilayah Yaman untuk melakukan ekspedisi peperangan. Dari sinilah kisah penuh hikmah ini dimulai. Abu ‘Amr mengirim Ayasy bin Abi Rabi’ah untuk menyampaikan kepada Fathimah bahwa ia memberikan talaq ba’in kepada Fathimah. Talaq ba’in adalah pernyataan cerai ketiga dimana ia tidak dapat dirujuk kembali kecuali telah dinikahi oleh orang lain.

Ayyasy bin Abi Rabi’ah pun menemui Fathimah untuk menyampaikan pernyataan cerai tersebut. Ia datang dengan membawa 5 sha’ kurma dan 5 sha’ gandum. Sebagai ukuran konversi, satu sha’ kurma kurang lebih setara dengan 2,5 kilogram beras, kasarnya total pemberian itu senilai 25 kilogram beras. Jumlah yang bisa dikatakan relatif sedikit. Ada keraguan bagi Fathimah mendapati pemberian yang demikian kurang baginya.

“Tidak adakah nafkah untukku selain ini?” tanyanya. Ia merasa bahwa jumlah yang diberikan mantan suaminya atas pemberian tersebut sangat kurang. “Tidak bisakah aku menjalani ‘iddah-ku di tempat tinggal kalian?”

“Tidak,” jawab Ayasy, “Engkau tidak berhak mendapatkan nafkah.”

Fathimah merasa tidak puas dengan jawaban itu. Segera ia kenakan pakaian luarnya. Bergegas ia menemui Rasulullah untuk mendapatkan jawaban beliau atas permasalahannya ini. Diceritakannya segala kejadian dan kondisi ketidakpuasannya terhadap Rasulullah. Ia menginginkan agar diberikan tambahan nafkah.

“Untuk keberapa kalinya dia men-talaq-mu?” tanya Rasulullah. “Tiga,” jawab Fathimah.

“Kalau begitu,” kata Rasulullah setelah mendengar jawaban Fathimah, “Dia benar. Engkau tidak berhak mendapatkan nafkah.”

Rasulullah pun menyuruh Fathimah binti Qais menjalani masa ‘iddahnya di rumah Ummu Syarik, ia adalah salah seorang penduduk Madinah yang rumahnya dijadikan semacam ‘rumah singgah’ para muhajir Makkah. Banyak tamu yang singgah ke rumahnya. Beberapa waktu lamanya Fathimah tinggal di sana. Namun kemudian Rasulullah menyuruhnya pindah, karena terlalu banyak sahabat dari kalangan Muhajirin yang biasa datang ke rumah Ummu Syarik.

“Aku tidak ingin, jika terbuka kerudungmu atau tersingkap pakaianmu, lalu ada orang yang melihat sesuatu yang tak kau sukai,” kata Rasulullah khawatir. “Pindahlah ke rumah Ibnu Ummi Maktum. Dia seorang lelaki buta. Kalau engkau menanggalkan kerudungmu di sana, dia takkan melihatmu. Jalanilah ‘iddah-mu di sana.” Beliau lalu berpesan pula agar Fathimah memberitahukan kepada beliau bila telah selesai masa ‘iddah-nya.

“Setelah masa iddahku selesai, kuberitahukan hal itu kepada beliau,” tutur Fathimah, sebagaimana dicatat Imam Muslim dalam Shahih-nya nomor 2709. “Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Al Jahm telah meminangku,” lanjutnya. Fathimah meminta pertimbangan Rasulullah mengenai dua lelaki yang datang meminangnya.

“Adapun Abu Al Jahm adalah orang yang tidak pernah meninggalkan tongkatnya dari lehernya (suka memukul), sedangkan Mu’awiyah adalah orang yang miskin, tidak memiliki harta,” kata Rasulullah memberikan pandangan mengenai kekurangan dua lelaki itu secara obyektif.

Setelah itu, beliau memberikan saran, “Karena itu, menikahlah dengan Usamah bin Zaid.”

Mulanya Fathimah binti Qais merasa agak keberatan dengan pilihan Rasulullah itu. Usamah adalah putera seorang yang kurang terhormat dalam pandangannya, putera seorang mantan budak. Fatimah mengisyaratkan dengan tangannya tanda menolak, yakni jangan Usamah, jangan Usamah! Namun, beliau menegaskan, “Taat kepada Allah dan taat kepada RasulNya lebih baik bagimu.”

Maka, atas perintah Rasulullah itu, menikahlah Fathimah binti Qais dengan Usamah bin Zaid. Ternyata Allah berikan kemuliaan kepadanya dengan pernikahan itu, hingga banyak yang merasa iri, menginginkan sebagaimana yang didapatkan Fathimah binti Qais.

“Adapun anjuran Nabi agar menikahi Usamah,” kata Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim, “Adalah karena beliau mengetahui kadar agamanya, keutamaannya, keelokan perangai dan kemuliaannya. Maka Nabi menganjurkan agar menikah dengannya. Namun Fathimah tidak menyukainya karena Usamah bekas budak dan warna kulitnya hitam. Maka Nabi terusmenerus menganjurkannya agar menikah dengan Usamah karena Rasulullah mengetahui kemaslahatannya bagi Fathimah. Dan ini terbukti.”

Tuan dan Nyonya, pelajaran fiqh yang kita petik dari sekuntum kisah Fathimah ini adalah tentang pinangan Muawiyah dan Abu Al Jahm. Ya, dua orang lelaki meminang seorang perempuan dalam waktu bersamaan. Bahkan, Rasulullah sendiri meminangkan Fathimah untuk Usamah. Padahal, kita masih ingat dengan perkataan Rasulullah di awal risalah ini. “Janganlah meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya,” kata Rasulullah.

***

Baiklah, mari kita belajar fiqh secara lebih ilmiah dari Ustadz Ahmad Zain An Najah. Ulama membagi kondisi perempuan yang dipinang menjadi tiga: perempuan itu sudah dipinang oleh lelaki lain dan telah menerima pinangannya; perempuan itu sudah dipinang, tetapi perempuan tersebut menolak pinangan itu atau belum memberikan jawaban; perempuan itu belum memberikan jawaban secara jelas, hanya saja ada tandatanda bahwa dia menerima pinangan tersebut.

1) Kondisi Pertama: Telah Menerima Pinangan

Perempuan tersebut sudah dipinang oleh laki-laki lain dan telah menerima pinangannya, maka tidak dibenarkan laki-laki lain datang untuk meminangnya.

“Janganlah meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya,” kata Rasulullah sebagaimana dikutip Abu Hurairah dan dicatat oleh Imam Muslim, “Dan janganlah menawar barang yang telah ditawar saudaranya.” Dalam Shahih-nya, Imam Muslim mengkodifikasikan perkataan Rasulullah ini dengan nomor urut 2519.

“Nabi Muhammad,” kata Abdullah Ibnu Umar dalam Shahih Bukhari nomor 4746, “Telah melarang sebagian kalian untuk berjual beli atas jual beli saudaranya. Dan janganlah seseorang meminang atas pinangan yang lain.”

Namun, ulama berbeda pendapat dalam menafsirkannya. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa larangan tersebut menunjukkan keharaman, sedang sebagian yang lain berpendapat bahwa larangan tersebut hanya menunjukkan makruh bukan haram.

Bahkan Ibnu Qasim dari mazhab Malikiyah, dalam Bidayah Al Mujtahid karangan Ibnu Rusyid, mengatakan, “Maksud dari larangan hadits di atas, yaitu jika orang yang shalih meminang seorang perempuan, maka tidak boleh lelaki shalih yang lain meminangnya juga. Adapun jika peminang yang pertama bukan lelaki yang shalih (orang fasik), maka dibolehkan bagi lelaki shalih untuk meminang perempuan tersebut.”

Jika seorang lelaki bersikeras untuk meminang dan menikahinya. Maka, disini ada tiga pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa laki-laki tersebut telah bermaksiat kepada Allah, tetapi status pernikahan antara keduanya tetap sah dan tidak boleh dibatalkan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Pendapat kedua menyatakan menyatakan bahwa penikahan keduanya harus dibatalkan. Ini adalah pendapat Daud Azh Zhahiri. Pendapat ketiga menyatakan menyatakan jika keduanya belum melakukan hubungan seksual , maka pernikahannya dibatalkan, tetapi jika sudah melakukan hubungan seksual, maka tidak dibatalkan. Ini adalah pendapat sebagian pengikut Imam Malik. Namun, Imam Malik sendiri mempunyai dua riwayat, yang satu menyatakan batal, sedang riwayat yang lain menyatakan tidak batal. Ketiga pendapat ini tercantum dalam Bidayah Al Mujtahid.

Namun, dalam hadits Ibnu Umar dalam Shahih Bukhari, masih ada lanjutannya, “Hingga peminang sebelumnya meninggalkannya, atau ia telah diizinkan peminang sebelumnya.” Jadi, keharaman itu tidak berlaku jika si peminang pertama meninggalkan pinangannya yang sudah diterima, atau peminang kedua telah telah diizinkan oleh peminang pertama untuk meminang si perempuan.

Hal ini sebagaimana terjadi pada Aisyah binti Abu Bakar. Ketika masih belia, ia dipinang oleh Jabir bin Al Muth’im bin Adi melalui kedua orang tuanya kepada Abu Bakar. Awalnya kedua orangtuanya setuju, tapi karena khawatir Jabir akan berubah menjadi Islam dan meninggalkan agama leluhurnya disebabkan oleh hubungan perkawinan. Maka, orang tua Jabir pun meminta penangguhan.

Saat itulah, tulis Muhammad Al Ghazali dalam Qadhaya Al Mar’ah Baina At Taqalid Ar Rakidah wa Al Wafidah, Khaulah binti Hakim datang kepada Abu Bakar dan mengatakan bahwa Nabi Muhammad berkeinginan untuk meminang Aisyah. Lantas, Abu Bakar datang kepada Al Muth’im.

“Apakah dia masih berniat meminang Aisyah untuk puteranya?” tanyanya. Al Muth’im meminta maaf kepada Abu Bakar sebagai bentuk pernyataan tidak melanjutkan pinangan dan mempersilakannya bebas bertindak. Saat itu belum ada perjanjian dan kesepakatan menikah apapun. Maka, diterimalah pinangan Rasulullah atas Aisyah dan dilangsungkan pernikahan mereka.

2) Kondisi Kedua: Belum Menjawab atau Menolak Pinangan

Perempuan tersebut sudah dipinang lelaki lain, tetapi perempuan tersebut menolak pinangan itu atau belum memberikan jawaban.

Di dalam Mughni Al Muhtaj, karangan Al Khatib As Syarbini, disebutkan bahwa dalam mazhab Imam Syafi’i ada dua pendapat tentang masalah ini, yang paling benar dari dua pendapat tersebut adalah hukumnya boleh. Dalilnya adalah hadits dan kisah Fathimah binti Qais. Hadits ini dicatat Imam Bukhari, Imam Abu Dawud, dan Imam Nasa’i.

“Fathimah,” kata Imam Syafi’i dalam Al Umm, “Memberitahukan Rasulullah bahwa Abu Jahm dan Mu’awiyah telah meminangnya. Saya tidak ragu-ragu, biidznillah, bahwa pinangan salah satu dari keduanya terjadi setelah pinangan yang lain, dan Rasulullah pun tidak melarang kedua pinangan tersebut, dan tidak melarang salah satu dari keduanya.”

“Kita juga tidak mendapatkan bahwa Fathimah telah menerima salah satu dari kedua pinangan tersebut,” lanjutnya, “Maka, Rasulullah meminang Fathimah untuk Usamah, dan beliau tidaklah meminangnya dalam keadaan yang beliau larang (yaitu meminang seorang perempuan yang sudah dipinang orang lain), saya juga tidak mendapatkan bahwa Rasulullah melarang perbuatan Mu’awiyah dan Abu Jahm. Dan kebanyakan yang terjadi, bahwa salah seorang dari keduanya meminang terlebih dahulu dari yang lain. Tetapi, jika perempuan yang dipinang tersebut telah menerima pinangan seseorang, maka dalam keadaan seperti, orang lain tidak boleh meminangnya lagi.”

Hal itu dikuatkan dengan sebuah riwayat dalam kitab Al Mughni karangan Ibnu Qudamah yang menyebutkan bahwa Umar bin Khathab pernah meminang seorang perempuan untuk tiga orang: Jarir bin Abdullah, Marwan bin Al Hakam, dan Abdullah bin Umar, padahal Umar belum mengetahui jawaban perempuan tersebut sama sekali. Hal ini menunjukkan kebolehan meminang perempuan yang sudah dipinang orang lain dan dia belum memberikan jawabannya.

Dalam Nawadir, disebutkan pula bahwa Abu Hurairah meminangkan Hasan bin Ali, Abdullah bin Umar, Yazid bin Mu’awiyah, dan seorang shahabat yang lain sekaligus atas seorang janda bernama Ummu Khalid yang baru saja di-talaq oleh suaminya. Atas saran Abu Hurairah, Ummu Khalid menerima pinangan Hasan.

3) Kondisi Ketiga: Menjawab Secara Samar

Perempuan yang dipinang tersebut belum memberikan jawaban secara jelas, hanya saja ada tandatanda bahwa dia menerima pinangan tersebut.

Maka, dalam hal ini ada beberapa pendapat ulama. Pertama, hukumnya haram, sebagaimana kalau perempuan tersebut sudah menerima pinangan tersebut secara jelas dan tegas. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat. Dalilnya adalah keumuman hadist Ibnu Umar yang menyebutkan larangan meminang perempuan yang sudah dipinang. Kedua, hukumnya boleh, ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam riwayat lain dan Imam Syafi’i dalam qaul jadid (pendapat yang terbaru). Menurut kelompok ini, di dalam hadits Fathimah binti Qais menunjukkan bahwa dia (Fathimah) sudah kelihatan tandatanda kecenderunganya kepada salah satu dari dua laki-laki yang meminangnya, tetapi walaupun begitu Rasululullah tetap saja meminangkannya untuk Usamah. Bahkan, Rasulullah tidak bertanya dulu apakah Fathimah sudah punya kecenderungan tertentu terhadap dua peminangnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebolehan meminang seorang perempuan secara umum selama belum memberikan jawaban pada pinangan sebelumnya.

***

Jadi, Tuan dan Nyonya tidak boleh gebyah uyah dalam memandang persoalan pinangan di atas pinangan ini tanpa melihat kondisi pinangan pertama dan respon dari pihak yang dipinang. Oleh karena itu, perlu kehati-hatian Nyonya untuk menilai apakah seseorang itu bersalah secara fiqih atau tidak. Karena, mungkin saja Tuan merupakan pecinta sejati yang memperjuangkan cintanya hingga ke titik probabilitas nol.

Mohon maaf jika pembahasan kali ini bercorak hitam putih, sebab perasaan tidak dilibatkan dalam pembahasan kali ini. Maaf. Dan semoga Tuan dan Nyonya, bersama saya, makin menyadari betapa sedikitnya ilmu yang disandangi diri. La haula wa la quwata illa billah. Alhamdulillahi rabbil alamin, terimakasih atas tuntunan cahayaMu bagi lelaki ini menapaki jalanjalan takdirMu, ya Allah…

12 thoughts on “Eksepsi

  1. Kak nanya, saya pernah dengar “rahasiakanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan.” Dalam kasus ini, jika memang pinangan itu ahsannya dirahasiakan, bagaimana caranya laki-laki lain bisa tau apakah wanita yang hendak dipinangnya ini sudah dipinang lelaki lain atau belum? Mohon pencerahannya.
    Oh iya, khusus bahasan kali ini kakak nulisnya ‘hitam-putih’ banget, seperti textbook..

    1. Tentang hadits tersebut, silakan simak pemaparan Ustadz Farid Nu’man di http://www.ustadzfarid.com/2013/01/akad-nikah-di-masjid-menyerupai-orang.html

      Juga yang tertera dalam Musnad Ahmad, dari Ibnuz Zubeir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Umumkanlah pernikahan”, As Sakhawi menyebutkan dengan lafaz: “Sembunyikanlah khitbah/lamaran” , ini menjadi dasar pihak yang mengatakan batalnya nikah secara sembunyi-sembunyi. Dan, di antara penguatnya juga apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, keduanya menshahihkannya, juga Ath Thabarani dan Abu Nu’aim dari Ibnuz Zubeir, juga riwayat Ath Thabarani dari Hibar bin Al Aswad, “Siarkanlah nikah dan umumkanlah”, juga riwayat Ad Dailami dari Ummu Salamah dengan lafaz: “Tampakkanlah nikah dan sembunyikanlah khitbah.” Berkata An Najm, bahwa termasuk penguatnya adalah apa yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi –dan dia menghasankannya, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al Hakim –dan dia menshahihkannya, yaitu riwayat dari Muhammad bin Hathib dengan lafaz: “Pemisah antara halal dan haram dalam pernikahan adalah memukul rebana dan suara.” (Kasyful Khafa, 1/145)

      Sehingga, dalam kasus khitbah yang sudah diterima, setahu saya begini:

      1. Lelaki kedua boleh mengkhitbah si perempuan dalam hal si lelaki kedua ini TIDAK TAHU bahwa si perempuan sudah menerima khitbah dari lelaki pertama.

      2. Pihak perempuan harus memberitahukan lelaki kedua mengenai statusnya yang sudah menerima khitbah dari lelaki pertama.

      3. Jika lelaki kedua keukeuh melanjutkan khitbahnya, entah nanti diterima atau tidak, maka ia berdosa dan melakukan masiat.

      4. Jika kemudian pihak perempuan menerima khitbah lelaki kedua dengan membatalkan khitbah lelaki pertama secara sepihak, maka pihak perempuan telah berbuat maksiat dan berdosa.

      5. Jika sebelum menerima khitbah lelaki kedua, pihak perempuan memberitahukan lelaki pertama, dan disepakati untuk membatalkan khitbah pertama, maka pihak perempuan tidak berdosa, tetapi lelaki kedua tetap berdosa.

      6. Baik di poin ke 4 dan ke 5, pernikahan yang selanjutnya terjadi dengan lelaki kedua tetap sah. Hanya saja terjadi kemaksiatan yang tidak membatalkan syarat sah pernikahan itu.

      7. Jika lelaki kedua meminta izin pada lelaki pertama untuk mengkhitbah perempuan yang sudah dikhitbah dan diterima, maka ketiga pihak tidak berdosa.

      Allahu a’lam.

      Sehingga, masalah lelaki kedua mengetahui status “availablititas” perempuan tersebut adalah dengan bertanya dan mencari informasi. Baik secara langsung ke pihak perempuan ataupun pada pihak lain (semisal Murabbi atau teman akrab si perempuan) yang dianggap bisa memberikan jawaban valid.

      1. Oh, begitu. Oke oke, makasih banyak penjelasannya.
        Sekalian minta izin share ya kak, bisa jadi materi tambahan untuk kajian munakahat.. Jazakumullah..

  2. Souvenirnya buku? Subhanallaah. Dan ini blog bersama ya? Alhamdulillah, bisa jadi rujukan untuk belajar. Jazakumullah, insya Allah tulisannya Mba Dian Kak Kun bermanfaat bagi saya dan teman2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s