Hasan Al Banna Nasyid

Sang Petualang Pencari Kebenaran

Pembubaran Jama’ah Ikhwanul Muslimin, penutupan gedung-gedung mereka, dan penangkapan anggota-anggotanya kala itu bukanlah tujuan utama pemerintahan Mesir. Mereka menghendaki yang lain, melenyapkan pemimpinnya dari muka dunia! Imam Hasan Al Banna.

Lelaki yang sedang berada di usia kematangan inilah yang menjadi duri bagi pemuasan hawa nafsu mereka. Mereka bisa saja membubarkan jama’ah, menyita aset jama’ah, menangkapi anggotanya, bahkan merampok harta pribadi mereka, tapi lelaki ini bisa segera merekrut orang-orang mukhlis, membuka gedung-gedung baru, mendidik para pemuda, dan membangun perekonomian kembali. Ini adalah keajaiban yang harus dimusnahkan. Dan satu-satunya cara untuk memusnahkan keajaiban yang sebelumnya tidak pernah ada di Mesir ini adalah dengan membunuhnya. Jika ia tetap hidup, maka semua usaha yang sudah dilakukan untuk memberangus gerakan ini hanya akan menemui kesiasiaan. Setidaknya sejuta pengikut jama’ah ini kala itu akan kembali bangun melawan kezhaliman yang menimpa mereka dengan beberapa kata dari sang Mursyid ‘Amm, Imam Hasan Al Banna.

Konspirasi besar telah disusun, melibatkan banyak pihak, termasuk orangorang dekat jama’ah ini. Pihak kerajaan, pihak pemerintahan, polisi, intelijen, oknum di Jam’iyah Syubbanul Muslimin, rumah sakit, pihak perusahaan listrik. Begitu rapinya konspirasi ini disusun, tapi tetap saja Imam Hasan Al Banna dengan kebeningan hatinya mengetahui bahwa ia akan dibunuh.

Suatu kali, beliau menceritakan mimpinya kepada para pemuda Syubbanul Muslimin yang berdialog dengannya tentang Islam,

“Saya telah bermimpi yang baik. Saya bermimpi melihat Umar bin Khathab mendatangiku. Lalu dengan suara yang lantang ia mengatakan, ‘Engkau akan dibunuh, hai Hasan!’ Saya terbangun dan memuji Allah. Saya tertidur lagi, lalu saya mendengar suara itu kembali dengan ungkapan yang sama, ‘Engkau akan dibunuh, hai Hasan!’ Saya pun terbangun, lalu mengerjakan shalat hingga adzan subuh.”

Mimpi ini seakan menjadi firasat bahwa ajalnya sudah tidak lama lagi.  Beliau semakin yakin dengan rencana pembunuhannya itu ketika mengetahui tandatanda konspirasi itu. Pemerintahan Mesir menangkapi anggotaanggota jama’ahnya, bahkan termasuk saudarasaudaranya, tapi malah membiarkan dirinya yang merupakan pemimpin jama’ah bebas tanpa ditangkap. Mereka tidak melakukan pembatasan izin tinggal beliau di Mesir, tapi juga tidak mau mengusirnya dengan terangterangan. Mereka juga menyita senjata yang selalu beliau bawa sebagai alat perlindungan diri sebagaimana yang diatur oleh undangundang karena beliau adalah pemimpin sebuah jama’ah. Mereka menahan salah satu saudaranya, Abdul Basith, yang senantiasa ingin melindungi beliau, walaupun ia bukanlah anggota Jama’ah Ikhwanul Muslimin. Meraka juga merampas mobil yang biasa beliau kendarai. Padahal mobil ini adalah milik ipar beliau, yakni Abdul Hakim Abidin. Sehingga beliau terpaksa menyewa mobil sendiri.

Sebagian anggota Ikhwan merasa tenang dengan tidak ditangkapnya Imam Hasan Al Banna. Namun, bagi Imam Hasan Al Bana kebebasan yang diperolehnya merupakan rasa sakit yang lebih sakit daripada dirinya harus mendekam di penjara. Kelembutan perasaannya senantiasa membuatnya bersedih tatkala mengingat Ikhwan yang dipenjara. Beliau mengetahui bahwa mereka memiliki anakanak dan isteri yang lemah dan miskin, sehingga membuat hatinya senantiasa teriris. Kemudian beliau juga membayangkan keadaan para janda dan ibuibu yang ditinggalkan suaminya. Ketika kesedihan begitu merasuki jiwanya, suatu malam beliau bangun dan menutup kedua telinganya sambil bergumam, “Sungguh, saya telah mendengar jeritan anakanak yang ditingalkan bapakbapak mereka yang mendekam di penjara.”

Maka, kebesaran hati dan totalitas pengorbanannya di jalan da’wah ini menuntunnya untuk membantu keluargakeluarga yang ditinggalkan oleh para suami yang hidup di balik terali besi. Beliau terpaksa meminjam uang sebesar seratus limapuluh Junaih dan pergi kepada Syaikh Abdul Lathif Asy Sya’sya’I untuk memberitahunya bahwa ia telah memeinjam sejumlah uang tersebut kepada si Fulan. Lalu beliau berkata, “Bagikanlah uang ini kepada keluargakeluarga yang fakir dari kalangan Ikhwan. Jika masih hidup, maka saya yang akan mengembalikan uang ini kepada pemiliknya. Dan jika mati, maka saya mengharapkan engkau yang akan berurusan dengannya.”

Setelah menjebak Imam Hasan Al Banna untuk datang ke gedung Syubbanul Muslimin pada hari Sabtu tanggal 11 Februari dengan janji akan bertemu dengan pihak pemerintahan Mesir, eksekusi operasi pembunuhan dimulai. Kala itu pihak pemerintah tidak memenuhi perjanjian untuk datang ke gedung itu hingga tiga jam. Maka, Imam Hasan Al Banna pun berpamitan kepada pihak Syubbanul Muslimin, yakni Muhammad An Naghi, setelah membuat janji baru untuk pertemuan hari Ahad tanggal 12 Februari.

Kira-kira pukul setengah sembilan, Imam Hasan Al Banna keluar dari gedung Syubbanul Muslimin ditemani menantu beliau, Abdul Karim Manshur, untuk menyewa mobil yang sudah dipesannya. Saat itu turut pula Muhammad Al Laitsi, Ketua Bidang Pemuda Syubbanul Muslimin, mengantarkan Imam Hasan Al Banna ke pintu.

Begitu keluar dari gedung, Imam Hasan Al Banna dan menantunya terkejut mendapati suasana di luar begitu gelap. Lampu-lampu jalanan sepanjang Jalan Ratu Nazili (Ramsis) dimatikan dan kerumunan orangorang yang duduk di kafe telah bubar, serta tidak ada mobil lalulalang di jalan raya tersebut. Yang ada hanya sebuah mobil taksi yang terparkir di depan pintu.

Seorang pembantu di gedung itu keluar dan berkata kepada Muhammad Al Laitsi, “Ada telepon untuk Anda, dan menanyakan bagaimana hasil dari usaha pembunuhan.” Lalu ia bersegera masuk ke dalam gedung.

Sementara itu Imam Hasan Al Banna tetap meneruskan langkahnya walaupun beliau telah melihat secara gambliag dan nyata adanya rencana konspirasi pembunuhan terhadap dirinya malam itu dan perkataan sang pembantu gedung. Beliau tetap menaiki mobil yang telah tersedia. Belum sempat beliau dan menantunya menyalakan mesin mobil, tibatiba saja segerombolan pembantai datang memberondongkan tembakan membabi buta sehingga salah satunya mengenai lambungnya dan peluru lainnya mengenai lengan sang menantu.

Para pembantai ini adalah Direktur Keamanan Umum Mesir, Mahmud Abdul Majid dan dua orang dari badan intelijen. Setelah melakukan kejahatan keji ini, mereka kabur dengan sebuah mobil hitam milik kepolisian dengan nomor polisi 9979.

Imam Hasan Al Banna yang terluka keluar dari mobil. Kemungkinan luka yang beliau derita tidak terlalu membahayakan jika ditangani dokter. Maka beliau masih dapat kembali masuk ke gedung Syubbanul Muslimin, menaiki tangga, memutar telepon sendiri, meminta kehadiran ambulans, dan memberikan nomor mobil yang dikendarai para penjahat tersebut kepada Muhammad Al Laitsi dan memintanya menjadi saksi atas kejahatan ini. Sebenarnya, Muhammad Al Laitsi juga melihat sendiri mobil penjahat tersebut.

Imam Hasan Al Banna dibawa ke rumah sakit Al Qashrul Aini. Ada seorang dokter Muslim yang menangani pengobatannya, tapi akhirnya ia dilarang melakukannya. Imam Hasan Al Banna lantas meminta dokter Abdullah Al Katib melakukan pengobatan terhadap dirinya, namun ia tidak diperkenankan oleh mereka yang menjadi bagian dari konspirasi ini dan membiarkan beliau terbaring di pembarignannya dengan darah yang terus mengalir tanpa adanya pengobatan sampai ruhnya menuju rabbnya.

Seorang dokter di Al Qashrul Aini menceritakan bahwa telepon kerajaan terus menghubungi rumah sakit dan menanyakan apakah Imam Hasan Al Banna sudah tewas berkali-kali. Sehingga ketika beliau benar-benar meninggal, telepon itu berhenti berdering.

Pada pukul satu, Ahad dini hari tanggal 12 Februari, datanglah serombongan orang kepada Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna dan memberitahukan tentang kematian puteranya. Mereka menjelaskan bahwa ia harus melakukan penguburan tanpa adanya iring-iringan pelepasan jenazah, dan tanpa membuat tenda untuk menyambut para tamu yang bertakziah. Ayahanda Imam Asy Syahid Hasan Al Banna pun menerima syaratsyarat tersebut, lalu beliau menerima jenazah puteranya itu. Sementara serombongan orang ini membentuk pagar betis. Mereka mengelilingi rumah untuk menghalangi siapapun yang datang untuk mengantar jenazah. Syaikh Ahmad Abdurrahman yang sudah lanjut usia ini memandikan jenazah puteranya dan mengkafaninya. Kemudian jenazah Imam Asy Syahid dibawa ke Masjid Qaisun dengan cara dibopong olehnya bersama Mukram Ubaid Pasha serta beberapa saudara perempuannya. Di Masjid ini orang tua Imam Asy Syahid melakukan shalat jenazah untuknya.

Dari masjid ini, jenazah dibawa ke tempat pemakaman diiringi dengan mobilmobil berlapis baja dan pengawalan para polisi yang bersenjata! Tanpa diiringi satu juta lebih anggota Ikhwanul Muslimin Mesir. Tanpa kehadiran para da’i mukhlis yang dulu senantiasa menyambutnya dengan gemuruh takbir dan tamhid. Hanya sang ayah, sang ibu, dan saudarisaudari perempuannya. Sementara itu, di Istana Mesir, Raja Faruq sedang merasakan kegembiraan karena kematian seorang lakilaki yang mengancam singgasananya.

Suatu kali kala hidup, beliau berkata kepada seorang wartawan, “Saya adalah petualang yang mencari kebenaran, seorang manusia yang mencari hakikat kemanusiaannya di antara mereka, seorang warga negara yang selalu mendengungkan kemuliaan, kemerdekaan, ketenangan, dan kehidupan yang baik  bagi negerinya di bawah naungan Islam yang lurus. Saya berkonsentrasi untuk memahami  rahasia keberadaanNya.”

Dalam kesyahidannya (insya Allah), Imam Asy Syahid Hasan Al Banna telah menemukan kebenaran yang dicarinya seumur hidupnya dalam terjangan peluru panas dari para musuh Allah yang menembus tubuhnya, dari tetesan darah merah yang menguras ruh dari raganya. Namun, ia berbahagia dengan penemuannya kebenarannya itu karena ia akan bertemau kekasihnya yang tertinggi.

Merenunglah sejenak tentang diri kita dan lakilaki ini. Secara tidak langsung, mungkin kita menemukan hidayah di jalan da’wah melalui lelaki ini, melalui orangorang yang terlebih dahulu memperoleh pembinaan dan bimbingan qur’ani dari lakilaki ini, dari jama’ah yang didirikannya dengan keikhlasan, pengorbanan, cinta, airmata, kasih sayang, dan darah. Dan janganlah terlalu berharap suatu hari nanti, ketika jasad kita diusung menuju liang lahat, akan ada sejuta manusia yang mengiringinya. Karena bisa jadi hanya ada orang tua, anak-anak, dan saudara kandung saja yang  mengucapkan doa selamat jalan..

Apalagi sekedar pergi keluar negeri.

3 thoughts on “Sang Petualang Pencari Kebenaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s