Keadilan Justice

Kisah Qadhi Syarik

Syaikh Ali Ath Thanthawi mengisahkan tentang seorang hakim pada masa Daulah Abbasiyah. Namanya Syarik bin Abdullah, seorang hakim di Kufah pada zaman Khalifah Al Mahdi:

Musa bin ‘Isa, Amir (Gubernur) Kufah, adalah salah seorang pembesar keluarga istana Daulah Abbasiyah. Ia seorang yang punya pengaruh, baik di dalam negeri Kufah, yaitu sebagai Gubernurnya, ataupun dalam keluarga kerajaan. Meskipun demikian, ia selalu berusaha menghindari pertentangan dengan Qadhi Syarik, tidak pernah mengusik atau membantahnya. Namun, pertentangan tetap juga tak bisa dihindari. Bahkan pertentangan tersebut bukan disebabkan Gubernur membantah keputusan Qadhi dalam menghakimi perkara orang-orang, atau disebabkan Gubernur membela salah seorang pendakwa atau terdakwa, tapi malah karena perkara yang didakwakan ke atas Gubernur itu (dirinya) sendiri.

Asal muasal dakwaan tersebut ialah karena Gubernur ingin memperluas istananya, sementara tanah di samping istananya adalah kebun kurma milik beberapa orang bersaudara yang merupakan warisan dari bapak mereka. Mereka berenam, lima saudara laki-laki dan satu orang perempuan. Musa telah membeli kebun tersebut dari lima orang saudara laki-laki, sementara saudari mereka tidak rela menjual tanah bagiannya. Untuk itu, maka Musa menambah harga tanah bagian perempuan itu sampai berlipat ganda. Akan tetapi si perempuan tetap saja bersikeras untuk tidak menjualnya. Musa pun menjadi marah karena rencana tersebut bisa berantakan, yang menurutnya adalah karena kedunguan perempuan tersebut. Lantas ia bermaksud untuk menekan si perempuan supaya menjual tanah bagiannya. Antara tanah bagian si perempuan dengan tanah milik saudara-saudaranya yang telah mereka jual dibatasi pagar, maka pada suatu malam Musa menyuruh pelayan-pelayannya untuk mencabut pagar itu.

Keesokan paginya, si perempuan melihat pohon kurmanya telah bersambung dengan milik saudara-saudaranya, dan ia tidak bisa membedakan lagi antara tanahnya dengan tanah yang telah dijual kepada Gubernur. Melihat kenyataan itu, ia pun menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul mukanya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Kemudian ia pergi untuk mengadukan hal itu kepada Gubernur.  Namun, Gubernur tidak mengindahkannya, bahkan mengatakan kepadanya, “Terimalah harga yang berlipat ganda untuk tanah itu!”

Si perempuan menjawab, “Aku tidak menjualnya.”

Lalu ia pergi mengharapkan penyelesaian masalahnya tersebut kepada para pemuka negeri. Namun, ia tidak menemui seorang pun yang bersedia membantunya. Saat itu, seorang tetangganya bilang, “Aku mau menunjukkan kepadamu orang yang dapat membela hakmu.”

Mendengar perkataan tersebut, ia menjadi gembira dan wajahnya berubah berseri. “Siapakah orang itu?” tanyanya.

Tetangga itu menjawab, “Orang itu adalah tuan Qadhi (hakim). Pergilah kepadanya, dan berteriaklah, ‘Aku mengharap pertolongan Allah, kemudian pertolongan Qadhi!’ Lalu ceritakanlah semua permasalahanmu.”

Maka pergilah si perempuan sambil menannyakan kepada orang-orang dimana istana Qadhi. Mendengar pertanyaan itu, semua orang menertawakannya dan berkata, “Sejak kapan Tuan Qadhi punya istana? Cari dia di masjid atau di rumahnya!”

Lalu mereka menunjukkan rumah Qadhi kepadanya. Si perempuan melihat sebuah rumah kecil dibangun dari batu bata dan lumpur, di pintu masuk tidak ada penjaga dan tidak dikelilingi oleh tentara. Ia berkata dalam hatinya, di mana rumah ini bila dibandingkan istana Gubernur. Dan ia berniat untuk kembali. Akan tetapi kemudian, ia merasa ingin mencobanya, lalu diketuklah pintu rumah itu sambil menanyakan apakah Qadhi ada, yang kemudian dijawab oleh isterinya bahwa Qadhi sedang berada di mahkamahnya, di masjid. Perempuan itu kemudian pergi dan masuk ke masjid sambil menanyakan tempat Qadhi berada, lalu orang-orang menunjukinya  ke tempat Qadhi.

Lantas, si perempuan berteriak, “Aku memohon pertolongan dari Allah, kemudian pertolongan Qadhi!”

Qadhi Syarik bertanya kepadanya, “SIapa yang menganiayamu?”

Ia menjawab, “Gubernur Musa bin ‘Isa.”

Qadhi bertanya lagi, “Tentang apa? Dan apa dakwaannya?”

Maka si perempuan pun menceritakan masalahnya.

Setelah mendengar itu, Qadhi Syarik menyodorkan sehelai kertas yang telah dikhatamkannya kepada si perempuan itu sambil berkata, “Sekarang pergilah dengan membawa kertas ini ke pintu Gubernur, dan tunggu sampai ia datang bersamamu!”

Saat ia ingin masuk menghadap Gubernur, penjaga pintu (hajib) berteriak, “Jangan bergerak, wahai perempuan! Apa yang kau inginkan?”

Ia menjawab, “Gubernur.”

Saat penjaga pintu itu akan mengusirnya, ia berkata, “Aku membawa ini.”

Penjaga pintu itu bertanya, “Apa itu, wahai perempuan?”

“Kertas dari Qadhi untuk Gubernur.”

Mendengar itu, si penjaga terperanjat, “Engkau katakan kertas ini dari Qadhi, coba aku lihat!”

Ketika penjaga melihatnya, serta merta ia berkata, “Wailak (celaka)! Kenapa tidak engkau katakan sejak awal, engkau membawa kertas ini dari Qadhi. Mari masuk!”

Setelah Gubernur membacanya, ia memerintahkan untuk memanggil kepala polisi. Setelah kepala polisi datang menghadapnya, ia berkata, “Pergi kepada Syarik, dan katakan kepadanya, ‘Subhanallah, aku tidak pernah melihat keganjilan seperti yang engkau perbuat, seorang wanita menaikkan sebuah dakwaan yang tidak benar, lalu engkau membantunya.’”

Namun, kepala polisi berusaha agar diperkenankan untuk tidak melaksanakan tugas ini. Akan tetapi, Gubernur bersikeras. Melihat tidak ada jalan lain, kepala polisi kemudian mengutus seseorang untuk mengambil segala keperluannya dari rumahnya supaya dibawa langsung ke penjara. Lalu ia menyampaikan pesan Gubernur kepada Qadhi.

Sesampai pesan tersebut kepada Qadhi, ia memerintahkan memasukkan kepala polisi ke dalam penjara, sebab ia telah ikut campur urusan pengadilan. Gubernur kemudian mengutus penjaga pintunya, yang kemudian ia juga dipenjarakan oleh Syarik. Kemudian Gubernur mengutus para pemuka Kufah untuk menengahi, tapi semuanya dijebloskan dalam penjara. Maka ketika malam, Gubernur datang membukakan pintu penjara dan membebaskan mereka semua.

Keesokan harinya, setelah hal itu disampaikan kepada Syarik, serta-merta ia berkata kepada pembantunya, “Susul aku dengan semua keperluanku ke Baghdad. Demi Allah, kita tidak meminta ini (jabatan qadhi) dari mereka, bahkan mereka yang memaksa kita untuk itu. Mereka lebih menjamin kewibawaan kita  dalam menjalankannya, bila kita bersedia menjabatnya demi mereka.”

Lalu ia naik ke punggung binatang kendaraannya dan pergi ke arah jembatan Kufah yang menuju Baghdad. Orang-orang memberitahukan perihal tersebut kepada Gubernur, yang kemudian segera menyusulnya. Setelah bertemu, Gubernur berjalan beriringan dengan Qadhi, sambil membujuk, “Wahai Abu Abdillah, silakan tuan tidak bergeming dengan keputusan tuan. Tapi, tolong tuan pertimbangkan, bebaskanlah para pembantuku! Apakah tuan tega memenjarakan saudara-saudara tuan?”

Qadhi menjawab, “Ya. Itu karena mereka menuruti kehendakmu pada permasalahan yang sebenarnya mereka tidak dibenarkan untuk mengikuti kemauanmu. Aku tidak akan kembali sampai dengan mereka semua masuk ke penjara. Kalau tidak, aku akan terus melanjutkan perjalananku menghadap Amirul Mukminin, dan memintanya untuk memberhentikanku dari tugas yang dibebankan kepadaku ini.”

Oleh karena itu, Musa kemudian memerintahkan untuk mengembalikan mereka ke penjara, sementara ia masih berdiri di tempatnya sampai dengan datang kepala penjara dan memberitahukan bahwa mereka telah kembali ke penjara. Baru setelah itu, Qadhi berkata kepada pelayannya, “Pegang tali kekang binatang kendaraan Gubernur, dan tuntun sampai ke ruang pengadilan, serta panggil perempuan itu!”

Si perempuan datang dan dipersilakan duduk bersama Gubernur. Lalu Gubernur berkata, “Sekarang aku telah telah hadir, apakah tuan belum mau membebaskan mereka yang tuan penjarakan?”

Qadhi menjawab, “Adapun sekarang, baru aku lepaskan.”

Kemudian Qadhi memerintahkan untuk melepaskan mereka dari penjara, seraya berkata kepada Gubernur, “Apa pembelaanmu, wahai laki-laki, terhadap dakwaan perempuan ini?”

Gubernur menjawab, “Ia (perempuan itu) telah berkata jujur.”

Qadhi bertanya lagi, “Apakah engkau akan mengembalikan pagarnya dan semua yang telah engkau ambil?”

Gubernur menjawab, “Ya.”

Lalu Qadhi bertanya kepada si perempuan, “Adakah sesuatu yang lain yang ingin kau dakwakan?”

Ia menjawab, “Ada, yaitu rumah penjaga kebunku beserta isinya.”

Qadhi bertanya kepada Gubernur, “Bagimana menurutmu?”

Ia menjawab, “Akan aku kembalikan semuanya.”

Qadhi bertanya lagi kepada si perempuan, “Masih ada yang lain?”

Ia menjawab, “Tidak. Jazakallahu khairan.”

Maka Qadhi memepersilakan perempuan itu untuk beranjak dari tempat itu. Lantas Qadhi bangkit, seraya berkata, “Assalam, wahai Gubernur. Adakah Tuan ingin menyuruhku sesuatu?”

Mendengar itu, Gubernur tertawa dan berkata, “Apa lagi yang bisa kuperintahkan?”

Qadhi menjawab, “Tadi itu hak syari’at, sekarang ini hak adab.”

One thought on “Kisah Qadhi Syarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s