Zakat Penghasilan Dinar Dirham

Hukum Jual Beli Dinar Menggunakan Fasilitas m-Dinar (Mobile Payment)

Pengertian m-Dinar (Mobile Payment)

m-Dinar merupakan salah satu produk tabungan dinar emas yang memiliki fungsi seperti halnya tabungan dalam sistem perbankan umum, baik yang syariah ataupun konvensional (ribawi).

Dari situs dinaremasku.com dijelaskan sebagai berikut:

Tabungan m-Dinar (Online Transactions Record) memungkinkan kita semua pengguna dinar untuk mencicil tabungan, tidak harus dalam kelipatan 1 dinar. Tabungan m-Dinar memiliki prosedur dan mekanisme yang sama dengan tabungan di bank syariah, dilakukan dengan akad mudharabah, jadi akan ada bagi hasil dari tabungan tersebut yang akan masuk secara otomatis setiap awal bulan, insyaAllah. Bedanya dengan tabungan bank, tabungan m-Dinar ini dalam satuan dinar, termasuk bagi hasilnya juga dalam satuan dinar.

Bukti kepemilikan Tabungan m-Dinar adalah berupa nomor rekening m-Dinar dan juga akan dapat buku tabungan m-Dinar, serta histori transaksi ataupun saldo tabungan dapat dipantau di situs http://m-Dinar.com/indo, sama seperti internet banking pada bank.

m-Dinar ini merupakan produk dari Koperasi Daarul Muttaqqiin yang digagas dan dikelola oleh Muhaimin Iqbal, pemilik Gerai Dinar. Setiap angka yang tertera pada tabungan m-Dinar kita, insya Allah ada fisik nyatanya, jadi bukan sekadar angka virtual yang tanpa ada fisik riilnya. Insya Allah bertanggungjawab dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari situs m-dinar.com dijelaskan sebagai berikut:

Karena system pembayaran diatur dengan ketat dalam  perundang-undangan Republik Indonesia dan peraturan-peraturan yang terkait, maka kami merasa perlu meluruskan bahwa m-Dinar bukanlah termasuk system pembayaran yang dimaksud dalam undang-undang maupun peraturan –peraturan tersebut. m-Dinar hanyalah system layanan purna jual dan pencatatan elektronis untuk para pengguna Dinar fisik yang karena satu dan lain hal memilih untuk tidak menyimpan Dinar fisiknya sendiri. Untuk mencerminkan fungsi ini dan meningkatkan keamanan pengguna m-Dinar, maka disempurnakan aturan penggunaannya sebagai berikut :

Untuk para klien pengguna m-Dinar:

  • Pengguna m-Dinar  hanya bisa mengambil fisik Dinar atau mencairkan Dinarnya melalui kantor pusat Gerai Dinar atau agen dimana mereka membeli Dinarnya.
  • Pengguna m-Dinar tidak bisa secara langsung  melakukan pemindahan atau transfer ke sesama pengguna baik untuk pengambilan fisik, pencairan dalam Rupiah atau pembayaran barang dan jasa.
  • Bila dikehendaki adanya pemindahan Dinar atau hasil pencairannya ke sesama pengguna M-Dinar, maka pemindahan yang dimaksud hanya bisa dilakukan melalui customer services Gerai Dinar Pusat ataupun para agen resmi yang namanya tercantum langsung di daftar agen Gerai Dinar.
  • Para pengguna wajib merahasiakan segala detil yang terkait dengan account M-Dinarnya untuk mencegah penyalah gunaan oleh pihak yang tidak berhak.

Syarat Jual Beli Emas atau Komoditi Ribawi

Syarat yang diberikan oleh Islam dalam jual beli emas (dikenal dengan istilah: sharf) tidak bisa ditawar-tawar berdasarkan hadits berikut:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584).

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai). (HR. Muslim no. 1587).

Sehingga syarat jual beli emas ada 2 yaitu:

  1. Jika emas ditukar dengan emas, maka syarat yang harus dipenuhi adalah (1) yadan bi yadin (harus tunai), dan (2) mitslan bi mitslin (timbangannya sama meskipun beda kualitas).
  2. Jika emas ditukar dengan uang, maka syarat yang harus dipenuhi adalah yadan bi yadin (harus tunai), meskipun beda timbangan (nominal).

Fatwa Ulama Arab Saudi

Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi, pernah ditanya dengan nomor fatwa: 3211, berbunyi,

Soal:

Seorang pelanggan datang ingin membeli emas ke tokoku, ia hanya membawa uang tunai cukup untuk bayar DP saja. Ia berkata, “Saya beli emas yang ini, saya hanya bawa DP saja, mohon emasnya disisihkan dan ini uangnya! Nanti saya datang untuk melunasinya”. Beberapa waktu kemudian ia datang melunasi dan menerima emas tersebut. Apa hukum jual-beli ini?

Jawab:

“Jual-beli ini tidak dibolehkan, karena serah-terima barang tidak tunai.”

(Fatawa Lajnah Daimah, jilid XIII, hal 476.)

Pernah ditanyakan kepada Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi, fatwa No. 3211, yang berbunyi,

Soal:

Terkadang pemilik toko emas membeli emas dalam jumlah besar dari salah satu agen emas di luar kota melalui telepon, dan jenis emas yang dipesan jelas. Setelah terjadi kesepakatan harga, kemudian pembeli mengirim uang kepada penjual melalui transfer rekening bank, apakah transaksi ini dibolehkan, atau apa yang harus dilakukan?

Jawab:

Transaksi ini hukumnya tidak boleh, karena serah-terima barang emas dan uang tidak tunai, padahal keduanya adalah komoditi riba. Transaksi ini termasuk riba nasi’ah, hukumnya haram. Solusinya, pada saat uang diterima, akad jual-beli diulang kembali agar akad berlangsung tunai.

Demikian dikutip dari Fatawa Lajnah Daimah, jilid XIII, hal 475.

Ustadz Erwandi Tarmidzi, mengatakan bahwa termasuk bentuk riba ba’i (riba yang objeknya adalah akad jual-beli) membeli emas via internet. Di mana pembeli melakukan transaksi beli emas melalui website dari salah satu pedagang emas (dinar) dan membayar tunai harganya dengan fasilitas kartu kredit atau internet banking. Setelah transaksi jual beli dilakukan, pedagang mengirimkan emas yang dipesan ke pembeli, yang tentunya akan diterima pembeli setelah beberapa waktu transaksi dilakukan. Ini termasuk riba ba’i karena illat emas dan uang kartal adalah sama. Namun, serah terima barang dan uang tidak tunai. Uang sudah diterima penjual, sementara pembeli belum emas tersebut. Juga termasuk riba ba’i yaitu jual-beli emas melalui telepon, karena serah-terima komoditi riba yang sama illat-nya tidak tunai.

Selain itu, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa serah-terima komoditi riba disyaratkan tunai dan disyaratkan sama ukurannya bila ditukar dengan komoditi yang sejenis, dan bila berlainan jenis  dan masih satu illat disyaratkan tunai saja berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas. Ijma’ ini dinukil oleh An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhazzab, jilid X, hal 40).

Ibnu Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dua orang yang saling menukar uang bila berpisah sebelum melakukan serah-terima uangnya maka transaksinya tidak sah.”  (Al Ijma’, hal 92).

Syaikh Muhammad Shalih Al Munjid mengatakan, “Aku merasa pembelian emas melalui internet tidak terpenuhi syarat yadan bi yadin –yaitu tunai. Karena setelah emas tersebut dibeli dengan mentranfser sejumlah, lalu emas tersebut dikirim setelah beberapa waktu. Jika demikian, jual beli emas seperti ini dihukumi haram.”

Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengatakan, “Demikian juga, membeli perhiasan dari pengrajin dengan pembayaran angsuran tidak boleh, karena tidak dilakukan penyerahan harga (uang), dan tidak sah juga dengan cara berutang dari pengrajin.” (Al Mu’amalat Al Maliyah Al Mu’ashirah)

Syaikh Abdullah bin Sualaiman Al Mani’, dalam Buhuts fi Al Iqtishad Al Islami, mengatakan, “Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa status emas dan perak lebih dominan fungsinya sebagai tsaman (alat tukar,uang) dan bahwa nashsh sudah jelas menganggap keduanya sebagai harta ribawi, yang dalam mempertukarkannya wajib adanya kesamaan dan saling serah terima di majelis akad sepanjang jenisnya sama, dan saling serah terima dimajelis akad dalam hal jual beli sebagiannya (emas,misalnya) dengan sebagian yang lain (perak), kecuali emasa tau perak yang sudah dibentuk (menjadi perhiasan) yangm enyebabkannya telah keluar dari arti (fungsi) sebagai tsaman (harga, uang); maka ketika itu, boleh ada kelebihan dalam mempertukarkan antara yang sejenis (misalnya emas dengan emas yang sudah menjadi perhiasan) tetapi tidak boleh ada penangguhan, sebagaimana telah dijelaskan pada keterangan sebelumnya.”

Dr. Khalid Mushlih dalam Hukmu Bai’ Al Dzahab bi Al  Nuqud bi Al Taqsith mengatakan, “Secara global, terdapat dua pendapat ulama tentang jualbeli emas dengan uang kertas secara angsuran:

Pendapat pertama: haram; ini adalah pendapat mayoritas ulama, dengan argumen (istidlal) berbeda-beda. Argumen paling menonjol dalam pendapat ini adalah bahwa uang kertas dan emas merupakan tsaman (harga, uang); sedangkan tsaman tidak boleh diperjualbelikan kecuali secara tunai. Hal ini berdasarkan hadis ‘Ubadah bin Al Shamit bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘ Jika jenis (harta ribawi) ini berbeda, maka jual-belikanlah sesuai kehendakmu apabila dilakukan secara tunai.’

Pendapat kedua: boleh (jual beli emas dengan angsuran). Pendapat ini didukung oleh sejumlah fuqaha masa kini; di antara yang paling menonjol adalah Syeikh Abdurahman As-Sa’di. Meskipun mereka berbeda dalam memberikan argumen (istidlal) bagi pandangan tersebut, hanya saja argumen yang menjadi landasan utama mereka adalah pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim mengenai kebolehan jual beli perhiasan (terbuat emas) dengan emas, dengan pembayaran tangguh. Mengenai hal ini Ibnu Taimiyyah menyatakan dalam kitab Al Ikhtiyarat (lihat ‘Ala’ Al Din Abu Al Hasanal Ba’liy Al Dimasyqiy, Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyah min Fatawa Syaikh Ibn Taimiyah, Al Qahirah, Dar Al Istiqamah, 2005, h. 146): “Boleh melakukan jual beli perhiasan dari emas dan perak dengan jenisnya tanpa syarat harus sama kadarnya (tamatsul), dan kelebihannya dijadikan sebagai kompensasi atas jasa pembuatan perhiasan, baik jual beli itu dengan pembayaran tunai maupun dengan pembayaran tangguh, selama perhiasan tersebut tidak dimaksudkan sebagai harga (uang).” Ibnul Qayyim menjelaskan lebih lanjut: “Perhiasan (dari emas atau perak) yang diperbolehkan, karena pembuatan (menjadi perhiasan) yang diperbolehkan, berubah statusnya menjadi jenis pakaian dan barang, bukan merupakan jenis harga (uang). Oleh karena itu, tidak wajib zakat atas perhiasan (yang terbuat dari emas atau perak) tersebut, dan tidak berlaku pula riba (dalam pertukaran atau jual beli) antara perhiasan dengan harga (uang), sebagaimana tidak berlaku riba (dalam pertukaran atau jual beli) antara harga (uang) dengan barang lainnya, meskipun bukan dari jenis yang sama. Hal itu karena dengan pembuatan (menjadi perhiasan) ini, perhiasan (dari emas) tersebut telah keluar dari tujuan sebagai harga (tidak lagi menjadi uang) dan bahkan telah dimaksudkan untuk perniagaan. Oleh karena itu, tidak ada larangan untuk memperjualbelikan perhiasan emas dengan jenis yang sama…” (I’lam Al Muwaqqi’in;2/247)”

Fatwa MUI tentang Jual Beli Emas Secara Non Tunai

MUI melalui Dewan Syariah Nasional pernah mengeluarkan FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang JUAL-BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI. Dalam fatwa tersebut, jual beli emas diperbolehkan dengan cara non tunai.

Fatwa ini kami pandang lemah karena berseberangan dengan sejumlah hadits shahih yang menyatakan keharamannya, serta hanya mengunggulkan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang memperbolehkan jual beli emas perhiasan secara non tunai.

Untuk analisis lengkap kelemahan fatwa ini, silakan merujuk pada tulisan Ustadz Ali Sakti di SINI.

11 thoughts on “Hukum Jual Beli Dinar Menggunakan Fasilitas m-Dinar (Mobile Payment)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s