Nila Setitik Susu

Nila

“Wahai Rasulullah, biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini!”

Kita bisa menebak siapa yang mengatakan kalimat ini: Umar bin Al Khathab Al Faruq, sang pembeda antara yang haq dan yang bathil. Seorang yang memiliki keutamaan yang tinggi di antara manusia yang lain. Perkataannya itu bukanlah sebuah ungkapan katakata emosi tanpa pikir, tetapi merupakan sebuah kesadaran yang dalam tentang kondisi yang sedang terjadi.

Sementara itu, yang disebut Umar bin Khathab sebagai “orang munafik ini” tidak lain adalah salah seorang shahabat Rasulullah. Seorang muhajir dari Makkah yang bernama Hathib bin Abi Baltaah. Ia merupakan salah seorang shahabat yang memiliki keutamaan karena ikut dalam Perang Badr Kubra.

Perkataan Umar bin Al Khathab itu muncul karena ada peristiwa pesar yang terjadi di kalangan internal kaum Muslimin. Saat itu merupakan masa persiapan bagi kaum Muslimin untuk menyerang Makkah setelah Perjanjian Hudaibiyah dilanggar dari pihak musyrikin Quraisy. Abu Sufyan bin Harb selaku pemimpin tertinggi Makkah juga tidak mampu membujuk Rasulullah untuk membuat perjanjian baru setelah penduduk Makkah menyesal telah melanggar Perjanjian Hudhaibiyah.

Selama beberapa waktu, Rasulullah merahasiakan rencana untuk menyerang Makkah. Kemudian saat Rasulullah memutuskan untuk mengumumkan persiapan menyerang Makkah, ternyata ada yang  menulis sebuah surat pada penduduk Makkah tentang rencana penyerangan itu yang dititipkan pada seorang budak perempua.

Malaikat Jibril memberitahukan hal itu kepada Rasulullah. Maka, segera Rasulullah memerintahkan Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Miqdad berangkat untuk sebuah tugas khusus terkait hal ini.

“Pergilah kalian ke daerah Raudhah Khakh di mana terdapat seorang wanita yang sedang dalam perjalanan membawa sepucuk surat dan ambillah surat itu darinya!”

Merekapun segera berangkat dengan memacu kuda secepatnya. Tatkala mereka menemukan perempuan itu, mereka memerintahkannya menyerahkan surat sebagaimana perintah Rasulullah pada mereka, “Keluarkanlah surat itu!”

“Aku tidak membawa surat,” kata perempuan itu.

“Keluarkanlah surat itu atau kalau tidak, kami harus menanggalkan pakaianmu!”

Ali memaksa perempuan itu untuk menyerahkan surat yang dibawa perempuan itu. Ia yakin Rasulullah tidak mungkin salah memberikan perintah untuk mengambil surat dari perempuan ini. Karena itu, ia bahkan mengancam akan menelanjangi perempuan itu untuk mendapatkan surat yang dibawanya.

Mengetahui kesungguhan Ali, perempuan itu tidak bergeming. Disuruhnya Ali dan rekanrekannya membalikkan badan. Lantas perempuan itu mengambil surat yang dibawanya dari gulungan atau kepangan rambutnya. Dengan membawa surat itu, Ali dan rekanrekannya kembali ke Madinah dan menyerahkan surat itu pada Rasulullah.

Ternyata surat itu berisi kabar rencana penyerangan Makkah. Dan yang mengirimkan surat itu adalah Hathib bin Abi Baltaah.

Rasulullah pun bertanya, “Wahai Hathib, apa ini?”

“Jangan cepat menuduhku, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku dahulu adalah seorang yang akrab dengan orangorang Quraisy,” kata Hathib membela diri. Maksudnya adalah bahwa ia pernah bersekutu dengan sebagian tokoh Quraisy di masa lalu.

“Para Muhajirin yang ikut bersamamu,” lanjutnya, “Mempunyai kerabat yang dapat melindungi keluarga mereka (di Mekah). Dan aku ingin, karena aku tidak mempunyai nasab di tengah-tengah mereka, berbuat jasa untuk mereka sehingga mereka mau melindungi keluargaku. Dan aku melakukan ini bukan karena kekufuran dan bukan juga karena murtad bahkan tidak juga karena aku rela dengan kekufuran setelah memeluk Islam.”

Mendengar penuturan Hathib, Rasulullah pun berkata, “Dia telah berkata benar.”

Sementara itu, Umar bin Khathab yang menyadari kesalahan yang dilakukan Hathib adalah sebuah pengkhianatan besar karena telah membocorkan rahasia negara, turut berkata pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini!”

“Sesungguhnya,” kata Rasulullah kepada Umar sebagaimana tercatat dalam Shahih Muslim, “Dia telah ikut serta dalam perang Badar dan apa yang membuatmu tahu, barangkali Allah akan menemui para Ahli Badar dan berfirman, ‘Perbuatlah sesuka kamu sekalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian!’”

Atas kejadian ini, kemudian Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan firmanNya, dalam Surat Al Mumtahanah ayat pertama, “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai temanteman setia.

Pengampunan Rasulullah terhadap Hathib bin Abi Baltaah itu merupakan sebentuk kaidah tentang penilaian atas kesalahan yang dilakukan oleh seseorang dengan menimbang aspek lain yang meringankan, atau bahkan meniadakan sanksi atas kesalahan itu. Dalam kasus ini, kesalahan sangat besar dari Hathib bin Abi Baltaah dapat ‘ditawarkan’ oleh keutamaannya sebagai salah seorang Ahli Badr. Sedangkan tentang Ahli Badr, Allah telah mengampuni mereka semua sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saat menolak pendapat Umar bin Khathab, dengan mengutip firman Allah tentang Ahli Badr, “Perbuatlah sesuka kamu sekalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian!

Islam dibangun di atas keadilan dan keseimbangan, sehingga kaidah dalam menentukan nilai seseorang dari kesalahan dan kebaikannya ini haruslah benarbenar diterapkan di dalam diri tiap muslim.

Dengan jujur dan berusaha seadilnya, jika kita teliti dengan seksama atas masingmasing ulama dan tokohtokoh Islam, maka akan kita temuka keganjilankeganjilan dalam pendapat atau tingkah laku mereka. Akan tetapi, keganjilan itu merupakan sesuatu yang menunjukkan sisi kemanusiaan mereka, menempakkan sisi kelemahan mereka, mezhahirkan secara nyata bahwa mereka bukanlah manusia yang ma’shum.

Dengan tetap menghormati kebaikan yang banyak dari para ulama tersebut dan dengan tolok ukur kebenaran umum, serta keadilan yang subyektif, berdasarkan daya ingat, berikut saya sebutkan keganjilankeganjilan dari masingmasing tokoh yang sangat berjasa terhadap Islam.

Imam Darul Hijrah yaitu Imam Malik bin Anas merupakan fuqaha mazhab yang membolehkan akad nikah tanpa wali. Akan tetapi beliau memiliki kebaikan yang banyak dalam bidang fiqh dan hadits. Imam Abu Hanifah sang peletak mazhab Hanafiyah berpendapat bahwa bolehnya akad nikah tanpa saksi dengan mengqiyaskannya pada akad jual beli. Akan tetapi beliau berjasa besar dalam metode pengambilan hukum fiqh. Bayangkanlah jika ada seseorang yang menggabungkan dua pendapat ini: bolehnya menikah tanpa wali dan dua saksi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ulama pertama yang bergelar Syaikhul Islam, berpendapat bolehnya sebuah negara Islam memperoleh bantuan militer dari negara kafir secara mutlak. Kemutlakannya termasuk jika untuk memerangi negara Islam lain. Hasil pengejawantahan pendapatnya di masa kontemporer, Arab Saudi pernah menjadi pangkalan militer Amerika Serikat saat menghadapi Iraq. Akan tetapi Ibnu Taimiyah tetap memiliki kebaikan yang sangat banyak, termasuk mendorong para pemimpin daulah Islam yang tersisa untuk mengusir bangsa Tartar atau Mongolia yang telah memporakporandakan kekhalifahan Islam di bawah Dinasti Abbasiyah.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah, murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang paling cemerlang, seorang psikolog sekaligus fuqaha yang sangat brilian. Akan tetapi memiliki pandanganpandangan yang ganjil dalam kitabnya yang berjudul Hadil Arwah. Beliau mendukung gurunya yang menyatakan bahwa neraka tidaklah kekal. Dan tentu saja jasanya jauh lebih banyak dengan berbagai macam karya tulisnya yang sangat bermanfaat dan terus mengabadi hingga kini.

Ibnu Katsir, seorang mufassir dan sejarawan yang sangat terkenal di dunia Islam, berpandangan dengan sebagian pandangan Asy’ariyah. Namun, kitab tafsirnya merupakan induk tafsir Al Qur’an yang paling berpengaruh di dunia. Dan digunakan serta diakui oleh seluruh kalangan ummat Islam. Demikian juga Imam Nawawi, penulis Riyadhus Shalihin, Arba’in Nawawiyah, dan Syarah Shahih Muslim.

Ibnu Hajar Al Asqalani, pensyarah terbaik kitab hadits Bukhari yang berjudul Fathul Bari, pernah tergelincir memfatwakan bolehnya merayakan Maulid Nabi Muhammad, dalam Al Hawi li Fatwa. Sebuah perayaan yang tidak pernah dilakukan generasi salaf dan merupakan salah satu perayaan bid’ah. Akan tetapi, jasanya dalam mensyarah Shahih Bukhari dan kitab hukum Bulughul Maram jauh lebih banyak. Tentang Fathul Bari, Imam As Suyuthi saat diminta mensyarah Shahih Bukhari berkata, “La hijrata ba’dal fath,” yang artinya tidak perlu menengok ke kitab lain jika telah ada Fathul Bari.

Imam Al Mawardi, seorang qadhi, fuqaha, dan ahli tata negara yang ulung memiliki beberapa pandangan yang condong pada pandangan Mu’tazilah. Akan tetapi kitabnya Ahkamush Shulthaniyah dan Adabud Dunya wad Din, merupakan karya yang snagat bermanfaat bagi umat Islam.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, seorang mujaddid kontemporer yang melatarbelakangi kelompok salafi, mendukung pemberontakan dari dalam Raja Saudi terhadap pemerintahan resmi Khilafah Islam yang dipimpin Dinasti Utsmaniyah. Padahal pemberontakan dan kudeta merupakan perbuatan yang haram dalam Islam. Namun, jasa beliau dalam membersihkan aqidah ummat dari berbagai kerak zaman sangat besar.

Syaikh Muhammad Abduh, seorang pembaharu yang lain dari Mesir memiliki pandangan yang ganjil dalam Risalah Tauhid, yakni mendahulukan akal daripada nash jika keduanya saling bertentangan. Padahal seharusnya nash yang kokohlah yang didahulukan daripada akal yang lemah. Akan tetapi kepemimpinannya dalam tarbiyah Islamiyah dan perjuangan kebangkitan Islam sangat banyak.

Imam Hasan Al Banna pernah mengatakan dalam Risalah Ta’alim-nya bahwa bid’ah wajib untuk dihilangkan dengan efek samping yang lebih kecil. Akan tetapi dalam masa kepemimpinannya di Ikhwanul Muslimin, jamaah ini kerap menyelenggarakan perayaan (peringatan) yang telah mengakar tradisi di masyarakat Mesir seperti Maulid Nabi untuk menyebarkan da’wah mereka. Padahal seharusnya budaya atau tradisi yang bertentangan dengan semangat keberislaman tidak boleh digunakan sebagai wasilah da’wah.  Namun jasanya dalam membangun pondasi gerakan da’wah modern dan menjadi wasilah serta inspirasi bagi jutaan pemuda menuju cahaya Islam jauh lebih besar pahalanya, insya Allah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, dalam Adab Az Zifaf, berpendapat tentang haramnya cincin emas bagi perempuan, padahal kehalalan perhiasan emas bagi perempuan sudah merupakan ijma’ shahabat Rasulullah dan juga ijma’ para ulama. Namun, jasa beliau dalam pembersihan dan tahqiq terhadap ratusan ribu hadits dalam kitabkitab hadits induk sangat bermanfaat bagi umat Islam dan insya Allah jauh lebih besar pahalanya dibandingkan kasus pengharaman cincin emas itu.

Ustadz Sayyid Quthb memiliki pendapat yang ganjil terkait dengan kejahiliyahan seluruh masyarakat dan pemerintahan di dunia ini, termasuk dari negaranegara Islam yang ada, sebagaimana tertulis dalam kitab Ma’alim fi Ath Thariq. Namun jasanya dalam menaungkan ummat Islam kembali dengan Al Qur’an melalui ribuan lembar tulisannya dalam Fi Zhilalil Qur’an, insya Allah jauh lebih banyak pahalanya.

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, dalam Majmu Fatawa Arkanul Islam, berpendapat bahwa matahari lah yang mengelilingi bumi sebagaimana yang beliau pahami dalam ayatayat Al Qur’an. Padahal ilmu pengetahuan modern telah menyepakati bahwa bumilah yang mengelilingi matahari. Namun, jasanya dalam fiqh Islam dan pendidikan Islam jauh lebih banyak.

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, dalam Nizhamul Islam, menyatakan bahwa khabar ahad tidak dapat dijadikan hujjah dalam perkara aqidah. Dengan demikian secara tidak langsung beliau mengingkari adanya siksa kubur yang hanya diriwayatkan dari khabar ahad. Padahal seharusnya khabar ahad tetap dapat dijadikan hujjah dalam perkara aqidah. Namun, perjuangannya dalam menghimpun para pemuda dan membekali mereka dengan tsaqafah Islamiyah, insya Allah sangat besar.

Syaikh Muhammad Zakaria Al Kandahlawi mencantumkan hadits-hadits dha’if dalam kitab Fadhail Amal sehingga melebihlebihkan keutamaan berbagai amalan ibadah mahdhah. Namun jasanya dalam bertabligh mampu mendorong masyarakat awam untuk kembali mencintai masjid dan beribadah kepada Allah.

Kyai Haji Ahmad Dahlan menggunakan alat musik biola sebagai salah satu wasilah da’wah, padahal alat musik itu haram hukumnya. Namun perjuangannya dalam membangun jaringan pendidikan Islam di penjuru Indonesia dan membongkar tradisi bid’ah jauh lebih besar pahalanya, insya Allah.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dalam Fatawa Mu’ashirah, memfatwakan bolehnya salaman antara lelaki dan perempuan, membagi keharaman rokok menjadi tiga bagian, dan memperbolehkan seorang muslim bekerja di bank ribawi. Padahal kaidah dasar dari pendapat kebanyakan ulama, ketiganya hukumnya haram. Namun, perjuangan beliau dalam da’wah Islam dan jasanya khazanah ilmiah lebih besar manfaatnya bagi manusia.

Ustadz Sa’id Hawwa, saat mensyarah Risalah Ta’alim di dalam Fi Afaq At Ta’alim, mengatakan bahwa Jama’ah Ikhwanul Muslimin, dimana beliau berafiliasi, adalah Jama’atul Muslimin, sehingga setiap orang muslim wajib untuk berafiliasi pada jama’ah ini. Padahal sejatinya Jama’ah Ikhwanul Muslimin hanyalah jama’ah minal muslimin, sehingga ketidakikutsertaan seorang muslim terhadap jama’ah ini bukanlah sebuah dosa. Namun, perjuangan beliau dalam da’wah Islam dan tulisan beliau dalam bidang tarbiyah, tazkiyatun nafs, dan harakah islamiyah sangat bermanfaat dan berguna bagi ummat Islam.

Abul Faraj Abdurahman bin Al Jauzi dalam Shaidul Khathir pernah mengatakan bahwa setiap melihat perempuan cantik, Rasulullah segera mengirim seseorang untuk melamarnya. Perkataan beliau ini tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang ulama seperti beliau. Tidak bisa tidak kita harus menerima ucapan itu dengan ta’wil dan tafsir yang baik  karena Rasulullah bukanlah seorang casanova. Dan sejarah membuktikan hal itu. Atas jasa Ibnul Jauzi terhadap ummat ini jauh lebih banyak, insya Allah, karena dalam kajiankajian yang diadakannya seringkali terjadi taubat secara berjama’ah dari pendengarnya yang mancapai ratusan orang.

Sejatinya, jika saya terus melanjutkan catatan tentang keganjilan pandangan tentang para tokoh Islam yang jasanya sangat banyak tersebut, niscaya akan jadi satu buku tersendiri. Karena itu, kiranya deretan nama ulama dan keganjilan pemikirannya ini cukup diambil substansinya, bahwa tidak ada manusia ma’shum kecuali para nabi. Sehingga tiap orang pasti punya kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu, menerima mereka dengan berfokus pada kebaikannya akan jauh lebih bermanfaat, bermartabat, dan terhormat.

Sa’id bin Al Musayyab merumuskan dalam prinsip jarh wa ta’dil, “Tidak ada orang mulia, orang berilmu, dan orang berjasa, kecuali dia mempunyai aib (kekurangan), akan tetapi di antara orang itu ada yang tidak layak disebut keburukannya, karena barangsiapa yang keutamaannya lebih besar dari keburukannya, maka keburukannya itu akan terhapus oleh kebaikannya.”

Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid, dalam Al ‘Awaiq, merumuskannya pula dengan tepat.

“Orangorang yang memperhatikan kegiatankegiatan kolektif (amal jama’i), akan menemukan bahwa sifat asli dan jati diri seseorang baru akan terlihat pada kondisikondisi sulit yang memerlukan kepahaman dan hati yang beriman. Berbagai sikap seorang tokoh pada kondisikondisi seperti itu  akan menunjukkan salah satu dari dua hal: kelayakan ataukah kelemahan diri. Seperti kondisi perselisihan tajam yang  akan merusak hubungan sesama da’i, atau cobaan berat yang hanya mampu ditanggung oleh seorang yang mempunyai keteguhan tinggi, atau godaan dunia dan kemudahan memperoleh harta atau jabatan, dimana tidak ada yang bersedia mementingkan da’wah hariannya, kecuali orang yang selalu menolehkan matanya pada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Beliau melanjutkan, “Sedangkan berbagai kesalahan biasa, dosa kecil, letupan kemarahan, dan emosiemosi lumrah, maka tidak seorangpun yang dapat terlepas dari halhal kecil seperti ini…. Dalam prinsip umum Islam, dan juga dalam ilmu pengetahuan secara umum, sesungguhnya barangsiapa yang banyak dan besar kebaikannya, dan pengaruh Islam terlihat jelas pada dirinya, maka dapat ditoleransi dari dirinya halhal yang tidak dapat ditoleransi dari diri orang lainnya, dan akan dimaafkan dari dirinya halhal yang tidak dapat dimaafkan dari diri orang lain.”

Sesungguhnya, kesalahan tiap manusia itu bisa diibaratkan dengan warna nila, sedangkan kebaikannya dapat diibaratkan dengan susu, yang berwarna putih suci. Kadangkala kita menyaksikan bagaimana kebaikan kecil yang serupa setetes susu, mampu menghapuskan sebelanga nila.

Sebuah kisah yang mungkin sangat kita ingat. Seorang perempuan pelacur lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia bergumam, “Anjing ini hampir mati kehausan”.

Lalu dilepasnya sepatunya, diikatnya dengan kerudungnya untuk mengambil air dari sumur. Diambilnya air dengan sepatunya itu lalu diberinya minum. Rasulullah berkata dalam Shahih Bukhari, “Maka perempuan itu diampuni karena memberi minum.”

Maka, begitulah kita menilai kesalahan kebaikan dari orangorang shalih yang ada di sekitar kita, tetangga kita, shahabat kita, saudara kita, rekan kerja kita, pemimpin kita, ataupun ‘musuhmusuh’ kita. Kadangkala mereka, dan kita juga, tergelincir oleh goda syaithan atau kelemahan akal dan jiwa hingga mencatatkan nila di dalam sejarah kehidupan kita. Sementara mereka sejatinya memiliki kebaikan yang jauh lebih banyak, maka tidak bisa tidak, sikap kita terhadap kesilafan mereka adalah dengan memberikan toleransi jiwa yang sebaikbaiknya.  Berharap Allah akan mengampuninya atas kekhilafan yang dilakukan. Jika susu setitik saja mampu merusak nila sebelanga, seperti perempuan pelacur tadi, pastilah susu sebelanga akan merusak nila setitik.

Insya Allah…

9 thoughts on “Nila

  1. Memang tidak ada orang yang sempurna …… rupanya kita memang harus belajar lebih banyak untuk menimbang dengan adil kekurangan dan kelebihan masing-masing individu dan kelompok yang ada dalam Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s