Masjid Nabawi

Keutamaan Da’wah

Allah telah menjadikan da’wah sebagai laku utama para nabi, rasul, pengikutnya dan orang-orang shalih. Mereka telah berada di jalan da’wah ini sejak masa kerasulan Nabi Nuh. Dan puncaknya adalah kerasulan Muhammad. Setelahnya, jalan da’wah ini digenggam erat oleh para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta orang-orang yang teguh dan berkomitmen terhadap kesempurnaan Islam.

Da’wah, yang orang-orang telah banyak berada di jalan ini selama ribuan tahun, jelas memiliki keutamaan-keutamaan  yang tidak dimiliki oleh amalan-amalan yang lainnya. Berikut pemaparan beberapa keutamaan da’wah dalam buku Fiqh Ad Da’wah dan Syarah Rasmul Bayan:

1.       Da’wah adalah aktivitas menyeru manusia menuju kebaikan dan menjauhi keburukan. Maka, sangatlah wajar jika Allah membalas orang yang menyeru kepada jalannya dengan berbagai nikmat kehidupan. Kenikmatan itu adalah nikmat islam, iman, persaudaraan dan nikmat dalam menjalani kehidupan berupa ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan di dalam hatinya.

2.       Da’wah adalah amal terbaik karena ia memelihara nilai-nilai Islam dalam pribadi dan masyarakat. Amal da’wah dapat membangun potensi dan memelihara amal shalih manusia setinggi mereka dapat menjalankan peran penting dalam menegakkan Islam. Tanpa da’wah, amal shalih tidak akan berlangsung. Karenanya, da’wah menjanjikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka yang beramal dengan menyampaikan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (Fushilat: 33)

Ibnu Jarir Ath Thabari mengatakan dalam tafsirnya mengatakan. “Allah menyeru manusia, ‘Wahai manusia, siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah’, kemudian istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada perintah dan larangan-Nya, dan berdakwah (mengajak) hamba-hamba Allah untuk mengatakan apa yang ia katakan dan mengerjakan apa yang ia lakukan.”[1]

Da’wah adalah sebaik-baik amal. Ia identik dengan kebaikan karena dalam da’wah kenaikan menjadi unsur yang melekat erat. Apapun yang dilakukan dalam da’wah adalah kenaikan dan merupakan kebaikan, karena da’wah selalu memberikan yang terbaik. Amal kebaikan ini diawali dengan niat baik, disampaikan dengan perkataan terbaik, dan diterjemahkan dengan amal yang baik. Para penganjur kebaikan itu hanya mengajak kepada ridha Allah dan beramal shalih yang bermanfaat dunia dan akhirat.

3.       Tugas utama rasul adalah berda’wah. Dengan da’wah, Islam akan  tertanam di hati manusia dan kemudian akan tumbuh berkembang di hati manusia dan kemudian tumbuh di bumi ini. Bukti-bukti telah menyebarnya da’wah Islam adalah banyaknya pemeluk Islam di berbagai penjuru dunia dengan melakukan berbagai aktivitas amal shalih. Setelah kenabian berakhir, tugas menyampaikan risalah da’wah ini diwariskan dan dilanjutkan oleh pengikutnya yang setia. Merekalah yang bertanggungjawab atas keberlangsungan proses da’wah. Para da’i adalah orang-orang yang menjadi pewaris tugas para rasul Allah.

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Al Ahzab: 45-46)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)

Para Rasul. adalah orang yang diutus oleh Allah untuk melakukan tugas utama mereka, yakni berdakwah kepada Allah. Begitu juga dengan Rasulullah Muhammad.

“Katakanlah (Hai Muhammad), ‘Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu)  kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’” (Yusuf: 108)

Ayat di atas menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh Rasulullah dan para pengikut beliau adalah jalan da’wah. Maka barangsiapa mengaku menjadi pengikut beliau, ia harus terlibat dalam da’wah sesuai kemampuannya masing-masing.

Tentang Nabi Nuh, Allah mengisahkan kesibukan beliau yang tak kenal henti dalam menjalankan tugas berda’wah siang dan malam.

“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah mendakwahi (menyeru) kaumku malam dan siang” (Nuh: 5).

Tentang Nabi Ibrahim, Allah mengekalkan da’wah yang beliau lakukan kepada ayah dan umatnya.

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Apakah yang kamu sembah?’  Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Berkata Ibrahim, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?’ Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu), sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian’. Ibrahim berkata, ‘Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku; dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku; dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali); dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.”( Asy Syuara: 69-82)

Tentang Nabi Musa, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan da’wah beliau dalam banyak ayat-ayat Al-Quran, di antaranya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam’.  Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami dengan serta merta mereka menertawakannya.” (Az Zukhruf : 46-47).

Tentang Nabi Isa, Allah  mengisahkan dakwah beliau dalam firman-Nya:

“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: ‘Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah  dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf : 63-64).

Pintu kenabian dan kerasulan memang sudah tertutup selama-lamanya, namun kita masih dapat mewarisi pekerjaan dan tugas mulia mereka, sehingga kita berharap semoga Allah berkenan memuliakan kita sebagaimana Dia memuliakan para utusan-Nya.

4.       Kehidupan da’wah adalah kehidupan rabbani. Kehidupan yang berorientasi ketuhanan, berorientasi kepada Allah. Dari Allah, bersama Allah, dan kepada Allah. Dari Allah, karena proyek besar menebarkan rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam ini datang dari Allah sebagai wujud rahmat dan kasih sayang-Nya. Bersama Allah, karena pelaku da’wah akan selalu komitmen dan konsisten dengan petunjuk dari Allah. Sebagai pelaku, mereka hanya mengikuti petunjuk yang telah diberikan oleh pemberi tender dan dicontohkan oleh pemimpinnya, Rasulullah. Kepada Allah, karena da’wah ini hanya diabdikan kepada Allah semata dan tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan lain. Muslim yang disibukkan dengan da’wah akan senantiasa tunduk kepada Allah dalam kehidupan sehingga ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Sebelum mengajak orang kepada Islam, ia akan mencontohkan nilai-nilai Islam itu terlebih dahulu pada dirinya. Kehidupan da’wah yang demikian akan membawanya pada kehidupan rabbaniyah.

5.       Dengan berda’wah, seseorang akan mendapatkan keuntungan dan manfaat yang banyak, bahkan tidak ada kerugian sedikitpun bagi seorang yang berda’wah. Ia akan mendapatkan kehidupan yang barakah, yakni kehidupan yang memiliki  arti dan manfaat. Harta kekayaan, waktu, tenaga, dan pengetahuan yang dimiliki seorang da’i akan dirasakan sebagai sesuatu yang barakah dan bermanfaat bagi dirinya.

Diantara kebarakahan yang dirasakannyan adalah ia akan memperoleh ridha Allah (mardhatillah). Yakni memperoleh kerelaan Allah atas kasih sayang, cinta dan rahmat-Nya. Rahmat ini diberikan kepada seluruh manusia, akan tetapi rahmat berupa bimbingan dan perlindungan, kasih sayang, bantuan, serta dukungan, hanya diberikan kepada muslim yang berda’wah saja.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Al Bayyinah: 8)

6.       Dengan berda’wah,maka Allah akan memberikan kecintaan-Nya. Orang yang selalu berda’wah akan selalu mengikuti sunnah nabi sehingga Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosanya. Suatu kehidupan yang tiada taranya bila kita dicintai oleh Allah. Setiap kegiatan yang dilakukannya akan mendapatkan barakah dan rahmat dari Allah.

Rahmat Allah akan diberikan kepada orang yang beriman dan beramal shalih. Dengan kata lain, da’wah yang merupakan amal shalih, akan menjadikan pelakunya diberikan rahmat oleh Allah. Kasih sayang, kecintaan, dan bantuan akan dilimpahkan kepada para penda’wah.

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiya’: 107)

7.       Da’wah adalah aktivitas kontinyu dan tiada henti, sehingga apabila disebut da’wah, maka yang dimaksud adalah aktivitas yang berlangsung dan dilaksanakan tanpa henti. Orang-orang yang berda’wahlah yang akan mendapatkan balasan yang terus-menerus dari Allah. Da’wah yang dilakukan secara terus menerus akan mendapatkan pahala yang tidak pernah putus.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan menzhalimi suatu kebaikan bagi seorang mukmin. Kebaikan itu diberikan kepadanya di dunia dan diberikan pula pahalanya di akhirat. Adapun orang kafir, maka dia diberi makan di dunia karena aneka kebaikannya, sehingga apabila ia telah tiba di akhirat. Maka tiada suatu kebaikan pun yang membuahkan pahala.” (HR Muslim)

Balasan berlipat ganda akan didapatkan oleh orang yang berdakwah karena ia mengajarkan ilmu kepada orang lain. Pahala itu akan terus mengalir jika orang yang dida’wahi juga mengamalkan ilmu itu dan menyampaikannya kepada orang lain, begitu seterusnya. Pahala yang berlipat ganda inilah yang akan menjaga diri kita dari maksiat dan kerusakan.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menunjukkan kebaikan, ia berhak memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya.” (HR Muslim)

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, ia berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, ia berhak memikul dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim)

Rasulullah bersabda kepada Ali, “Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada seseorang karenamu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan paling mewah yang ada pada jamannya.

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR  Al Hakim dalam Al Mustadrak).

Ini merupakan nikmat yang besar, kedudukan yang mulia, dan kebaikan yang merata, karena da’i diciptakan untuk kebaikan, dan kebaikan itu diciptakan untuk da’i,  dan Allah telah menakdirkan kebaikan itu di tangan para da’i.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, Allah, malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, hingga semut yang ada di dalam lubangnya, dan ikan-ikan yang ada di laut, (semuanya) bershalawat atas orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi)

8.       Da’wah akan mengantarkan manusia menjadi ummat terbaik dan merupakan syarat bagi ummat Islam untuk memperoleh kemenangan melawan musuh-musuh Islam. Da’wah ini tidak hanya kepada sesama umat Islam, namun juga kepada ahli kitab dan yang di luar itu. Jika da’wah ini dilakukan, maka umat Islam akan memperoleh kemenangan atas seluruh ummat yang lain.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran: 110)

9.       Dengan da’wah, berarti kita menghindarkan diri kita dari adzab dan bencana Allah. Orang-orang yang melakukan kemungkaran akan diadzab oleh Allah, beserta orang-orang baik yang ada di sana yang tidak menyeru mereka untuk meninggalkan kemunkaran itu. Mereka yang menda’wahkan amar ma’ruf nahi munkar lah satu-satunya golongan yang selamat dari adzab Allah itu.

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.’ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’”(Al A’raf: 164-166)

10.   Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar juga merupakan kontrol sosial yang harus dilakukan oleh kaum muslimin agar kehidupan ini selalu didominasi oleh kebaikan. Karena jika kebatilan yang mendominasi kehidupan, akan menyebabkan turunnya teguran atau adzab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasululloh  bersabda:

“Perumpamaan orang yang tegak di atas hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti kaum yang menempati posisinya di atas bahtera, ada sebagian yang mendapatkan tempat di atas dan ada sebagian yang mendapat tempat di bawah. Mereka yang berada di bawah jika akan mengambil air harus melewati orang yang berada di atas, lalu mereka berkata: ‘Jika kita melubangi bagian bawah bahtera milik kita dan tidak mengganggu mereka..’ Seandainya saja mereka membiarkan keinginan orang yang akan melubangi, mereka semua celak; dan jika mereka menahan tangan mereka maka selamatlah semuanya.” (HR Bukhari)

Dari Hudzaifah bin Yaman, dari Nabi Muhammad,  beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Tirmidzi, hasan).

Maka, da’wah memiliki dua unsur syari’at, yakni balasan yang baik dan ancaman bagi yang menyepelekannya. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seseorang untuk meningkalkan da’wah dalam segala istilah dan hakikatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s