kunkun-di-poentjak1

Racun Kekuasaan

Ketika sebuah gerakan da’wah telah mengalami pergeseran dalam memegang pegangan, baik secara institusi maupun individu yang massif, maka secara sunnatullah gerakan ini berada di ambang kehancuran. Setidaknya godaan utama bagi gerakan da’wah terletak pada urusan wanita, harta, dan tahta. Tentu saja kita memahami ini hanya sebagai sebuah idiom yang sudah melekat di masyarakat, tapi sayangnya idiom ini tidaklah salah. Ketiga hal itu merupakan perhiasan dunia yang sangat mudah memalingkan para pejuang da’wah untuk terjerumus dalam kehancuran.

Harta dan kekuasaan yang sangat erat dengan dunia birokrasi bisa menjadi sebuah pemicu kehancuran bagi sebuah gerakan da’wah yang telah melalui fase mihwar mu’asasi, yakni tatkala para kadernya telah berada dalam lingkaran kekuasaan yang sarat dengan peredaran godaan berupa harta. Seringkali kekuasaan yang dianggap sebagi bentuk kehormatan dan kejayaan dalam sebuah fase kehidupan manusia juga turut menggoda da’i untuk ikut berlomba-lomba untuk diraihnya. Namun, tanpa sadar atau malah sangat sadar, ia seringkali melupakan tujuan utama kekuasaan dalam meraih kekuasaan pemerintahan. Kalaupun tujuan da’wah itu itu masih ada dalam usaha mewujudkan kekuasaan, maka sisanya hanyalah orientasi yang sudah kabur dan tidak jelas.

Kondisi lainnya adalah ketidakmampuan para pejuang untuk bersabar berada di jalan da’wah birokrasi, sahingga mereka melupakan proses bertahap (tadarruj) dalam mewujudkan kekuasaan yang islami. Mereka terburu-buru untuk meraih hasil da’wah dan menginnginkan ghanimah dengan terlalu cepat.

Ustadz Fathi Yakan mengatakan,

“Kekuasaan, di mana pun, kemampuannya membagi ghanimah (harta rampasan) kepada aparat sebanding dengan potensinya menderita kerugian. Bahkan ghanimah yang telah diperoleh itu terkadang justru melahirkan cobaan dan bencana bagi gerakannya. Pemicunya adalah sengketa dalam pembagiannya, baik antar personil, maupun personil dengan pemimpinnya, serta penguasa yang berambisi mendapat bagian terbanyak.”[1]

Salah satu contoh penuh hikmah adalah pada peristiwa Perang Uhud. Ketika pasukan pemanah yang berada di bukit Uhud menyalahi perintah Rasulullah untuk berdiam di sana sampai perang usai, tapi malah ikut berebut harta rampasan perang karena khawatir tidak kebagian, menjadikan pasukan Islam diobrak-abrik oleh pasukan Khalid bin Al Walid. Sehingga jumlah pasukan pemanah yang kurang dari sepuluh persen dari seluruh pasukan itu menyebabkan kekalahan seluruh pasukan Islam. Penyebabnya, sekali lagi, karena godaan harta rampasan perang yang menyebabkan mereka tidak menaati perintah pemimpin.

Imam Hasan Al Banna berkata,

“Wahai Ikhwan, khususnya yang terlalu semangat dan tergesa-gesa! Dengarkanlah sambutanku dari atas mimbar muktamar kalian  yang besar ini. Sesungguhnya, khithah perjalanan kalian telah tergambar langkah-langkahnya dan telah jelas batas-batasnya. Saya tidak ingin melanggar batas-batas yang telah saya yakini ini, karena ia merupakan jalan yang paling  tepat untuk sampai pada tujuan. Memang, mungkin jalan itu terlalu panjang, namun ketahuilah bahwa tidak ada alternatif yang lain (untuk sampai tujuan) kecuali dengannya.  Sesungguhnya, kejantanan itu akan teruji dengan kesabaran, ketabahan, kesungguhan,  dan kontinyuitas amal. Barangsiapa yang menginginkan memetik buah sebelum matangnya, atau memetik bunga sebelum merekahnya, maka saya tidak mendukungnya sedikit pun. Lebih baik dia hengkang dari jaringan dakwah ini dan bergabung dengan yang lainnya. Namun, bagi mereka yang bersabar bersama kami sampai benih itu tumbuh, sampai pohon itu berbuah dan sampai tiba waktunya buah itu untuk di petik, sungguh pahalanya hanya ada di sisi Allah. Allah tidak akan sekali-kali melenyapkan  pahala orang-orang yang berbuat  ihsan,  bisa jadi berwujud sebuah kemenangan dan kemuliaan atau anugerah mati syahid dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Wahai Ikhwanul Muslimin! Kekanglah rasa ketergesaan kalian dengan pandangan dan pemikiran yang jernih, dan terangilah kecemerlangan akal pikiran dengan gelora perasaan yang mengharu-biru penuh semangat. Beranganlah dengan kejujuran hakekat dan kenyataan, dan singkaplah hakekat itu di dengan benderangnya angan yang rasional nan cemerlang. Janganlah cenderung kepada salah satu, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Jangan sekali-kali melanggar aksiomatika alam, karena aksiomatika itulah yang akan menang. Pergunakan, manfaatkan, dan kendalikan arusnya. Jadikanlah yang sebagian untuk mendayagunakan sebagian yang lain. Tunggulah saat kemenangan tiba. Sungguh, ia tidaklah jauh darimu.”[2]

Ketika kecintaan terhadap kekuasaan dan harta itu telah melebihi kecintaan seorang da’i kepada da’wah, niscaya ia akan berhenti dari da’wah, melupakan da’wah, berbuat munkar, meninggalkan jihad, dan akan memusuhi da’wah, kecuali jika ia masih memiliki keimanan yang tersisa di hatinya.

Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika tampak dalam diri kalian kecintaan terhadap dunia, kalian tidak  akan memerintahkan kepada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran, serta tidak akan berjihad di jalan Allah.” (HR Al Bazzar)

Dari Tsauban, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Akan datang  suatu masa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orangyang  berebut melahap  hidangan.” Para  sahabat bertanya,  “Apakah  itu karena saat  itu  jumlah kami sedikit, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi  seperti  buih  pada  air  bah.   Allah  akan mengambil dari dada musuh-musuh kamu rasa takut kepadamu, dan Allah akan menimpakan penyakit al wahn.” Mereka bertanya  lagi, “Apa itu penyakit al wahn, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia  dan  takut mati.”  (HR Abu Dawud)

———————————————


[1] Robohnya Dakwah Di Tangan Dai

[2] Risalah Muktamar Kelima, dari Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s