Mu'awiyah bin Abi Sufyan

Memanfaatkan Hukum Jahiliyah untuk Kepentingan Islam

Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban, dalam Manhaj Haraki, menuliskan satu karakteristik ‘Memanfaatkan Undang-undang Masyarakat Musyrik (Undang-undang Perlindungan dan Jaminan Keamanan)’ dalam periode kedua manhaj da’wah Rasulullah, berda’wah secara terang-terangan dan merahasiakan struktur organisasi.

Disebutkan bahwa perlindungan pertama kepada pendukung Islam dengan undang-undang perlindungan dan jaminan keamanan yang merupakan tradisi masyarakat musyrik dilakukan oleh Abu Thalib kepada Rasulullah.

Ibnu Ishaq berkata, “Paman Rasulullah, Abu Thalib melindunginya dan membelanya sehingga beliau terus melakukan da’wahnya tanpa mempedulikan gangguan apapun. Ketika Quraisy melihat bahwa Rasulullah terus mengecam tuhan-tuhan mereka, sementara Abu Thalib telah melindunginya, sehingga menolak menyerahkannya kepada mereka, berangkatlah beberapa orang menemui Abu Thalib.

Mereka berkata, ‘Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu telah mengecam tuhan-tuhan dan agama kita, mencela mimpi-mimpi kita, dan menyatakan nenek moyang kita sesat. Kami harap engkau dapat mencegahnya atau kami biarkan kami bertindak kepadanya.’

Abu Thalib menjawab pertanyaan mereka dengan lembut dan baik sampai mereka kembali. Sementara itu, Rasulullah terus melakukan da’wahnya sehingga beliau senantiasa menjadi bahan pembicaraan di kalangan Quraisy. Hal itu membuat mereka semakin benci pada beliau dan berusaha menghentikan da’wahnya. Mereka mendatangi Abu Thalib untuk kedua kalinya.

Mereka berkata, ‘Wahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau adalah orang yang dituakan dan memiliki kedudukan mulia di antara kami. Kami telah meminta agar engkau berkenan mencegah anak saudaramu, tetapi engkau tidak mencegahnya. Demi Allah, kami tidak bisa sabar mendengar cacian terhadap bapak-bapak kami, mimpi-mimpi kami, dan tuhan-tuhan kami, sampai engkau mencegahnya atau kami yang menghentikannya hingga salah satu di antara kedua belah pihak hancur binasa.’

Kemudian Abu Thalib memanggil Rasulullah dan berkata kepada beliau, ‘Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah datang kepadaku, berkata begini dan begitu (seperti perkataan mereka), maka jagalah diriku dan dirimu, dan janganlah engkau memikulkan sesuatu yang aku tidak sanggup memikulnya.’

Rasulullah menyangka bahwa pamannya telah mengambil keputusan untuk menyerahkannya dan tak sanggup lagi membelanya, maka Rasulullah bersabda, ‘Wahai paman, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.’

Kemudian Rasulullah tampak sedih dan bangkit meninggalkan pamannya. Namun, belum jauh Rasulullah berjalan, Abu Thalib memanggilnya, ‘Kemarilah wahai anak saudaraku!’

Setelah Rasulullah kembali lagi di hadapannya, Abu Thalib berkata, ‘Pergilah wahai anak saudaraku, dan katakanlah apa yang kamu suka! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan kamu untuk selama-lamanya.’”[1]

Dari perlindungan ini ada tiga catatan yang penting. Pertama, usaha Quraisy untuk membucuk Abu Thalib menghentikan da’wah keponakannya menemui kegagalan. Inilah salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika mereka memanfaatkan undang-undang jahiliyah, yakni usaha untuk membuat undang-undang baru untuk menghalangi kekebasan berda’wah. Kedua, kegagalan jahiliyah untuk memukul da’wah pada usaha pertama membuat mereka meningkatkan metode konfrontasi, yakni ancaman. Ketiga, memanfaatkan fanatisme (undang-undang jahiliyah) untuk melindungi para penda’wah adalah dibenarkan oleh syari’at.

Kita mendapati Abu Bakar juga memperoleh perlindungan dari Ibnu Daghnah setelah ia mencoba hijrah ke Habasyah. Walaupun sempat memperoleh perlindungan Ibnu Daghnah, Abu Bakar kemudian memilih untuk melepaskan perlindungan tersebut karena ia dibatasi dalam berda’wah dan mengembalikan perlindungan dirinya hanya kepada Allah saja.

Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban berkata, “Dari sini, dapatlah disimpulkan bahwa istifadah (memanfaatkan) undang-undang jahiliyah adalah diperbolehkan, jika terdapat kemaslahatan da’wah. Istifadah ini tidak bertentangan dengan prinsip aqidah, juga tidak berarti berhukum kepada selain syari’at Allah, sebagaimana dipahami oleh sebagian mereka yang bersemangat.

Di antara contoh pemanfaatan undang-undang jahiliyah untuk kepentingan dan kemaslahatan da’wah, dalam sejarah da’wah masa kini ialah ketika pemerintahan Mesir memenjarakan da’i Islam, Muhammad Quthb, pada tahun 1966 M. Pada waktu itu Asy Syahid Sayyid Quthb mengajukan gugatan (dengan memanfaatkan undang-undang jahiliyah) kepada pemerintah Mesir sehingga gugatan itu berhasil membatalkan undang-undang (tuduhan) pemenjaraannya. Padahal, dalam sejarah da’wah masa kini, tidak pernah dikenal adanya orang yang menyamai Sayyid Quthb dalam berlepas diri (bara’) dari berhukum kepada selain hukum Allah. Ia adalah pelopor dalam soal berlepas diri dari undang-undang jahiliyah, sebagaimana dapat kita baca dalam semua bukunya dan dibuktikannya dalam kehidupannya, sampai beliau syahid di tiang gantungan. Tetapi harus dibedakan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh pemahaman Sayyid Quthb yang didasarkan kepada sirah nabawiyah, antar rela menerima bahkan memperjuangkan sistem pemerintahan kafir dengan memanfaatkan sistem pemerintahan kafir untuk melindungi da’wah, para pemuda, dan kader-kadernya.

Dari sini, dapatlah kami katakan, tentunya dengan hai-hati, bahwa demokrasi – sebagai sistem non Islam – adalah lebih baik bagi gerakan Islam, daripada sistem diktator atau tirani. Ia adalah iklim yang cocok untuk menggelar da’wah dan menyebarkannya. Ia, sekalipun merupakan system jahiliyah, lebih bermanfaat bagi kaum muslimin daripada system jahiliyah lainnya. Ia, biasanya menjamin kebebasan mengungkapkan pendapat dan kebebasan beraqidah, atau dengan ungkapan lain, kebebasan beribadah dan kebebasan berda’wah.”

“Sesungguhnya,” lanjut beliau, “Sabda Rasulullah yang menegaskan, ‘Sesungguhnya, di sana ada seorang raja yang adil, yang dalam pemerintahannya tidak boleh ada seorang pun dianiaya,’ merupakan salah satu karakteristik gerakan Islam dan salah satu langkah utama di antara langkah-langkah manhaj ini. Ia akan membantu gerakan Islam dalam menghadapi masyarakat yang ada dan membukakan berbagai pintu da’wah di jalan Allah.”[2]

_____________

[1] Sirah Nabawiyah karangan Ibnu Hisyam

[2] Manhaj Haraki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s