Al Quran

Persiapan Menuju Kematian

Hendaknya, di setiap saat, setiap hamba berusaha untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian. Karena, kematian akan datang secara tiba-tiba. Sehingga, kematian tidak datang pada tahun tertentu atau waktu tertentu. Kematian juga tidak akan datang dengan sebab penyakit tertentu. Oleh karena itu, yang seharusnya diperhatikan oleh setiap manusia hidup adalah: Mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan panjang ini. Karena, seorang hamba tidak akan mengetahui, kapan ketentuan Allah tersebut datang kepadanya. Ia juga tidak akan tahu, kapan ia akan dipanggil untuk menghadap Tuhannya.[1]

Dan ketika seorang hamba telah mengetahui bahwa dirinya akan dipanggil Allah pada saat kapan-pun, sesuai dengan kehendak-Nya, maka hendaknya ia mempersiapkan diri untuk hari itu dengan menabung amal shalih, tetap berjalan di jalan Allah dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang akan membawa dirinya pada kemurkaan Allah. Allah berfirman dalam al Quran: “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya.”[2]

Dari Barra bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat sekelompok orang yang menggali kuburan. Mereka terlihat menangis. Bahkan, air mata mereka mengalir dengan deras. Maka, pada saat itu Rasulullah bersabda: “Saudara-saudaraku akan seperti ini. Maka, bersiap-siaplah kalian.” Adapun maksud dalam kalimat ‘bersiap-siap’ di sini adalah: Hendaknya setiap orang berusaha sekuat tenaga mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang telah ditentukan Allah tersebut.

Wahai orang sombong! Berfikirlah tentang kematian dan sakit yang mengiringinya. Rasakanlah sulit dan pahitnya. Wahai kematian! Bagai sebuah janji yang tidak dapat aku ingkari. Seorang hakim yang tidak dapat aku adili…Cukuplah kematian membawa kebahagiaan dalam hati dan membuat air mata ini berlinang…Cukuplah kematian memisahkan sekelompok orang, memutus tali kenikmatan dan harapan. Wahai anak Adam! Apakah kalian sempat berfikir tentang hari ketika nyawa kalian dicabut dan kalian harus berpindah dari dunia yang kamu tempati sekarang?

Apa yang Anda rasakan, seandainya Anda terpaksa harus berpindah dari satu tempat yang luas ke dalam tempat yang sangat sempit? Apa yang anda rasakan, ketika Anda melihat sahabat dan teman karib Anda tidak lagi setia menemani Anda? Apa yang Anda rasakan, seandainya Anda juga ditinggalkan oleh saudara dan teman? Ketika Anda harus berpindah dari tempat tidur dengan selimut yang empuk, ke tempat yang menjijikkan. Dimana Anda hanya berselimutkan debu dan tanah!

Wahai orang-orang yang senang mengumpulkan harta dan membangun istana yang megah! Kalian tidak akan memiliki apapun, kecuali kain kafan. Bahkan, semua harta dan istana kalian-lah yang akan merusak dan menghancurkan kalian. Dan pada akhirnya, jasadmu hanya akan diselimuti debu dan kembali ke tempat asalmu.”[3]

“Wahai anak Adam! Bayangkanlah kematian sebelum engkau mengingat setiap kelalaian yang engkau lakukan. Sehingga, tidak terasa, engkau merasa ingin kembali ke dunia. Tanyalah waktu, berapa orang yang mengharapkan datangnya perbuatan baik. Sayangnya, harapan yang menjadi impian malah menjadi bahan cercaan. Sehingga, nasehat tidaklah cukup menjadi bekal kematian. Tidak juga keterangan yang dapat menyembuhkan mereka, orang-orang yang tengah berada di pembaringan. Waktu yang terus bergulir telah ia sia-siakan. Padahal, saat itu, ia mampu melakukannya.

Dan sekarang, Anda yang hanya beberapa langkah lagi dari pintu kematian, tidakkan Anda mendengar perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang ditujukan kepada Ibnu Umar: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau melintas di jalanan.” Dan pada saat itu Ibnu Umar berkata: “Apabila kamu tengah berada di waktu sore, janganlah kamu menunggu pagi. Dan ketika kamu berada di waktu pagi, janganlah kamu menunggu datangnya sore. Pergunakanlah sehatmu sebelum datang sakitmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.” Dalam satu riwayat dikatakan: “Persiapkanlah dirimu, untuk menjadi bagian dari ahli kubur.”

Syaikh Muhammad Bayumi

___________________

[1] Lihat: “Shaid al Khaathir”, milik Ibnu Jauzi, H: 10, Cet: Maktabah Iman, Mansurah, Mesir.

[2] QS. Al Kahfi: 110

[3] Lihat: kitab: “Tadzkirah”, H: 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s