Membaca Al Quran

Memperbanyak Mengingat Kematian

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan. Yaitu, kematian.”[1] Yang dimaksud dengan penghancur di sini adalah pemutus.

Ketahuilah wahai hamba Allah! Mengingat kematian akan melahirkan perasaan gelisah. Ya, gelisah dalam menjalani kehidupan dunia yang bersifat sementara ini. Sehingga, setiap saat, manusia akan berusaha untuk memalingkan wajahnya kepada kehidupan akhirat. Kemudian, manusia juga tidak akan terlepas dari dua kondisi kehidupan; kesempitan dan keluasan, kenikmatan dan cobaan.

Ketika manusia tengah didera oleh kesempitan dan cobaan berat, mereka akan dengan mudah mengingat kematian. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama. Padahal, kematian lebih sulit dari apa yang tengah dihadapinya. Dan ketika ia berada dalam keluasan dan mendapatkan nikmat, maka mengingat kematian akan terasa sulit. Oleh karena itu, baik sekali untuk mendengar perkataan seseorang:

Ingatlah kematian sebagai pemutus kenikmatan

Persiapkanlah diri menuju kematian, karena hari itu akan datang.

Sebagian orang lagi berkata:

Ingatlah hari kematian, maka kamu akan merasakan ketenangan

Ketika mengingat kematian, harapan-pun akan menyurut

Sebagian orang shalih, biasanya memanggil-manggil orang yang telah meninggal, di malam hari. Mereka berdiri di dekat dinding-dinding kota Madinah: “Wahai orang yang telah pergi….wahai orang yang telah pergi…” Ketika orang itu meninggal, gubernur Madinah merasa kehilangan suara tersebut. Maka, ia-pun bertanya tentang keberadaan orang tersebut. Seseorang mengatakan kepadanya bahwa laki-laki tersebut telah meninggal dunia. Maka, sang gubernur-pun berkata:

Masih melekat erat dalam fikirannya tentang orang yang pergi itu dan ia masih mengingatnya

Sampai akhirnya seekor unta berlutut di depan pintunya

Maka, tiba-tiba ia-pun terperanjat dan berputar,

Ia memiliki kesiapan, sehingga tidak akan kehilangan harapan-harapannya

Ibnu Jauzi berkata: “Wahai saudara-saudaraku! Ingatlah pemutus kenikmatan. Dan renungkanlah seandainya kenikmatan itu hilang. Bayangkanlah ketika berbagai gambar kehidupan mulai runtuh berjatuhan. Oleh karena itu, siapkanlah diri kalian untuk menjalani kehidupan di alam kubur nanti. Dan ketahuilah, setan tidak akan menguasai orang yang selalu mengingat kematian. Akan tetapi, ketika hati mulai lupa untuk mengingat kematian, maka musuh ini akan masuk dari pintu kelalaian.”[2]

Syaikh Daqqaq berkata: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: Dipercepat pintu taubatnya, selalu memiliki kepuasan hati dan semangat dalam menjalankan ibadah.

Dan barang siapa yang melupakan kematian, maka mereka akan disiksa dengan tiga perkara: Penangguhan pintu taubat, tidak pernah merasa puas, dan bermalas-malasan dalam menjalankan ibadah.”[3]

Syaikh Muhammad Bayumi

____

[1] Hadits Shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah dan Hakim. Kemudian, hadits ini dianggap shahih oleh imam al Dzahabi.

[2] Lihat: “Mawaa’idh Ibnu Jauzi: Al Yaqutah”, H: 63, Cet: Daar al Fadhilah.

[3] Lihat: “Al Tadzkirah”, H: 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s