I'tikaf Masjid Al Quran

Bershabarlah Saat Sakit

Orang yang sakit hendaknya menerima sakit yang diberikan oleh Allah dengan lapang dada. Di samping itu, ia juga harus berusaha untuk bersabar dalam menerima seluruh ketentuannya. Dan hal tersebut sangat baik baginya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang-orang yang beriman memang menakjubkan. Semua perbuatannya baik. Dan semuanya itu tidak dimiliki oleh siapapun. Kecuali, orang yang beriman. Seandainya mereka mendapatkan kebaikan, maka mereka bersyukur dan menganggap itulah yang terbaik baginya. Dan seandainya mereka ditimpa keburukan, mereka akan bersabar dan menganggap semua itu adalah yang terbaik bagi mereka.”[1]

Dari ‘Atha bin Abi Rabah, ia berkata: “Ibnu Abbas berkata kepada saya: ‘Maukah kuperlihatlkan kepadamu perempuan ahli surga?’ Maka akupun berkata: ‘Ya, tentu.’ Ia berkata: ‘Perempuan kulit hitam ini telah datang kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata: ‘Aku menderita penyakit epilepsi. Sehingga, pakaianku terbuka (tanpa sadar). Mintakanlah doa untukku.’ Maka, Rasulullah berkata: “Seandainya kamu memilih bersabar, maka kamu akan mendapatkan surga. Dan seandainya kamu memilih yang lain, maka aku telah mendoakan kesembuhanmu.’ Perempuan itu-pun menjawab: “Aku akan bersabar.’ Kemudian, ia meneruskan perkataannya: ‘Bajuku telah tersingkap. Maka, doakanlah agar di lain waktu tidak tersingkap lagi.’ Maka Rasulullah-pun mendoakan perempuan tadi.”[2]

  • Orang yang sedang dalam sakit hendaknya mengetahui bahwa sakit akan menghilangkan dosa-dosa. Dan setiap kali penyakit itu bertambah parah, maka dosa-dosa-pun akan terhapus dengan cepat. Dari Abu Sa’id al Khudriyyi dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Segala sesuatu yang menimpa seorang Muslim dari rasa lelah, penyakit menahun, sedih, dilukai, dirampas sampai terkena duri, maka Allah akan menggantinya dengan menghapus dosa-dosanya.”[3]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Kami menemui Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pada saat itu, ia terlihat demam. Saya-pun menyentuhnya dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, Anda tengah mengalami demam tinggi!’ Maka, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Benar, aku tengah mengalami demam. Sama seperti dua orang sahabat kalian yang mengalaminya.’ Maka saya-pun berkata: “Engkau benar-benar telah mendapatkan dua pahala.” Rasulullah menjawab: ‘Benar, dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang manusiapun yang hidup di tanah Muslim, kemudian ia tertimpa sebuah penyakit dan lain sebagainya, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana Allah telah menggugurkan dedaunan dari pohon.”[4]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ketika bencana masih menimpa orang-orang mukmin dan mukminah; baik pada fisiknya, harta ataupun anaknya, maka Allah akan membuang seluruh dosa-dosa mereka.”[5]

  • Dan seorang hamba hendaknya mengetahui bahwa bencana yang sangat besar hanya dikhususkan untuk orang-orang pilihan. Pada saat itu, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah ditanya tentang manusia seperti apa yang mendapatkan bencana yang begitu besar? Sang Rasul menjawab: “Para nabi. Kemudian, orang-orang shalih. Setelah itu, manusia-manusia yang memiliki kedudukan yang serupa dengan itu dan kemudian yang serupa dengan itu. Seseorang akan diberikan bencana sesuai dengan kapasitas keimanannya. Seandainya ia memiliki iman yang kuat, maka bencana yang diterimanya akan ditambah. Dan seandainya ia memiliki iman yang rendah, maka bencana yang akan didapatnya diringankan. Dan selama bencana dan musibah itu dirasakan seseorang, maka ia tidak akan memiliki dosa selama hidupnya di dunia ini.”[6]

Dari Abu Sa’id al Khudriyyi Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Saya menemui Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pada saat itu, beliau tengah mengalami demam. Maka, akupun meletakkan tanganku di tubuhnya. Maka, panas yang menjalar dari tubuhnya sampai ke kedua tanganku. Padahal, kedua tanganku berada di atas selimut. Maka, saat itu aku berkata: “Wahai Rasulullah, panas anda sangat tinggi.” Ketika itu Rasulullah menjawab: “Begitulah, setiap kali musibah yang ditimpakan kepada kita berlipat, maka berlipat-lipat pula pahala yang akan kita terima.” Maka, saya-pun berkata kembali: “Wahai Rasulullah, orang seperti apa yang mendapatkan bencana paling besar?” Kemudian, Rasulullah menjawab: “Para nabi”, saya-pun bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang shalih.”[7]

  • Orang yang terkena musibah juga harus menyadari bahwa pemberi musibah itu adalah dzat yang maha adil dan maha penyayang. Dan Allah tidak akan mengirimkan bencana tersebut untuk menghancurkannya atau menyiksanya. Allah juga tidak menurunkan musibah tersebut untuk meluluh lantakkannya. Akan tetapi, semua itu Ia lakukan untuk menguji kesabaran, kerelaan dan keimanannya. Di samping, untuk mendengar permohonan dan doanya. Bagaimana hambanya mengetuk pintu-Nya. Terdiam merenungi nasib dengan hati tercabik memohon kepada-Nya, mengangkat kedua tangan mengadukan seluruh penderitaannya.”[8]

Allah sendiri telah mencela orang-orang yang tidak memohon dan menyerahkan diri kepada-Nya, pada saat musibah telah datang menerpa dirinya. Allah berfirman dalam al Quran: “Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka. Maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka. Dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.”[9] Dan mengadukan permasalahan kepada Allah harus disertai oleh kesabaran dan kerelaan.

  • Orang yang sakit juga harus memiliki prasangka baik terhadap Tuhannya. Di samping, mengingat kasih sayangnya yang begitu berlimpah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman: “Aku tergantung kepada prasangka hambaku.[10] Dan aku akan bersama mereka ketika mereka mengingat-Ku. Seandainya mereka mengingatku dalam jiwanya, maka aku-pun akan mengingat mereka dalam jiwa-Ku. Dan seandainya mereka mengingat-Ku di suatu tempat, maka Aku akan mengingat mereka di suatu tempat yang lebih baik dari tempat mereka.”[11]

Dari jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Tiga hari sebelum kematiannya, saya mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam mengucapkan: ‘Janganlah kalian meninggal dunia, kecuali berprasangka baik terhadap Allah Subhaanahu Wata’aala.”

Para ulama berkata: “Ini semua merupakan peringatan dari Allah agar manusia tidak merasa putus asa. Dan mendorong mereka untuk memiliki harapan. Sekalipun, pada detik-detik terakhir hidupnya: “Maka, biasakanlah seorang yang menderita sakit untuk berprasangka baik terhadap Allah. Dan kuatkanlah harapan yang sama. Karena rasa takut merupakan cambuk yang akan menggiring sebuah jiwa dalam bersungguh-sungguh.[12]

Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menemui seorang pemuda yang tengah menghadapi sakaratul maut. Maka, pada saat itu Rasulullah bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Aku hanya mengharap ridlo Allah. Dan aku sangat takut dengan dosa-dosaku.” Maka, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak akan berkumpul dua sifat seorang hamba dalam satu tempat seperti ini. Kecuali, Allah akan memberikan harapan yang ia harapkan dan rasa aman dari apa yang ia takutkan.”[13]

Syaikh Muhammad Bayumi

____

[1] HR. Muslim

[2] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[3] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[4] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[5] Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Dan ada sebagian kalangan ulama yang mengatakan bahwa hadits ini hadits Hasan Shahih

[6] Hadits Hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah

[7] Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Abu Ya’la, Ibnu Sa’ad dan hakim.

[8] Lihat: “Tasliyat Ahl al Mushab”, Muhammad Menji Halabi, H: 213

[9] QS. Al Mukminuun: 76

[10] Tegasnya: Allah berfirman: “Aku dapat melakukan apapun yang diperkirakan hambaku bahwa aku akan melakukannya.” Dalam konteks di atas, lebih mengedepankan sisi permohonan dari pada rasa takut.

     Imam Qurthubi dalam bukunya: “Al Mufham” dikatakan bahwa makna: “Tergantung prasangka hambaku kepadaku” adalah: Prasangka seorang hamba untuk mendapatkan jawaban dari Allah ketika berdoa, menerima taubatnya dan mendapatkan ampunan ketika dirinya memohonnya kepada Allah. Ia juga berprasangka bahwa Allah akan memberikan balasan ketika dirinya melakukan ibadah yang sesuai dengan syarat. Semua itu dipegang oleh manusia sesuai dengan janji Allah yang dikuatkan oleh Hadits Nabi yang lain: “Berdoalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

     Adapun prasangka akan mendapatkan ampunan dosa dengan terus melaksanakan dosa adalah bagian dari kebodohan dan kelalaian. Dan hal tersebut akan menggiringnya pada aliran Murjiah. Anda dapat melihat keterangan ini dalam kitab: “Syarhu as Sunnah” (5/273).

     Khithabi berkata: “Yang akan diterima prasangkanya oleh Allah adalah orang-orang yang sering berbuat baik. Seakan-akan Allah berkata: “Perbaikilah amal perbuatan kalian. Maka, Allah akan berbaik sangka kepada kalian.” Dan seandainya amal perbuatan manusia yang berprasangka itu buruk, maka akan buruk pula prasangka Allah terhadapnya. Dan sikap berbaik sangka juga termasuk ke dalam bagian harapan, permohonan maaf. Sesungguhnya Allah maha mulia dan agung. Anda dapat melihatnya pada kitab: “Syarhu as Sunnah” (5/272)

[11] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[12] Lihat: “Al Tsabat ‘Inda al Mamat”, milik Ibnu Jauzi, H: 67, Cet: Daar Andalus, Jeddah.

[13] Hadits Hasan, diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dan dinilai sebagai hadits Hasan oleh imam Tirmidzi dan Ibnu Hajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s