Kematian 3

Janganlah Mengharapkan Kematian

Apabila sakit yang dirasakan oleh seorang hamba semakin parah, maka ia tidak diperbolehkan untuk mengharapkan datangnya kematian. Hal tersebut berdasarkan hadits yang datang dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, hanya karena mendapatkan bahaya yang diturunkan Allah kepadanya. Seandainya ingin tetap memilih kematian, maka hendaknya ia berkata: ‘Ya Allah berikanlah kehidupan kepadaku. Seandainya kehidupan tersebut memang yang terbaik untukku. Dan cabutlah nyawaku. Seandainya kematian memang jalan yang terbaik untukku.”[1]

Dan dari Qais bin Abu Hazm, ia berkata: “Kami menemui Khabbab untuk menjenguknya. Sahabat yag satu ini mengalami luka bakar sebanyak tujuh buah pada bagian perutnya. Pada saat itu, ia berkata: “Seandainya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam tidak melarang kita untuk memohon datangnya kematian, niscaya aku akan memohonnya.”[2]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah kalian semuanya mengharapkan kematian. Dan janganlah kalian memintanya sebelum datang waktu kematian itu tiba. Karena, seandainya seseorang mati, maka akan terputuslah seluruh amal perbuatannya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menambahkan usia seorang mukmin, kecuali untuk kebaikan.”[3]

Dan dari Ummu Fadhl Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Pada saat itu, paman Rasulullah, Abbas, tengah mengadukan keinginannya untuk segera mendapatkan kematian kepada Rasulullah. Maka, Rasulullah-pun berkata kepada pamannya tersebut: “Wahai pamanku, janganlah engkau mengharapkan kematian. Seandainya engkau memiliki amal perbuatan baik, kemudian Allah memperlambat ajalmu, maka engkau dapat menambah jumlah amal kebaikanmu. Dan itu sangat baik untukmu. Dan seandainya engkau memiliki amal buruk kemudian Allah memperlambat ajalmu, maka engkau dapat berusaha untuk bertaubat dari semua kesalahan itu. Dan itu sangat baik untukmu. Oleh karena itu, janganlah engkau mengharapkan kematian.”[4]

Adapun hikmah di balik larangan mengharapkan kematian ini adalah: Bahaya yang akan diterima oleh seorang hamba akan berimbas pada bahaya yang bersifat duniawi. Adapun mengharapkan kematian karena takut timbulnya fitnah dalam agama, atau dengan harapan dirinya dapat terlepas dari dosa terhadap Allah, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Imam Nawawi berkata: Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, hanya karena mendapatkan bahaya yang diturunkan Allah kepadanya. Seandainya ingin tetap memilih kematian, maka hendaknya ia berkata: ‘Ya Allah, berikanlah kehidupan kepadaku. Seandainya kehidupan tersebut memang yang terbaik untukku. Dan cabutlah nyawaku. Seandainya kematian memang yang terbaik untukku.” Merupakan pengakuan Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam secara terang-terangan bahwa dirinya sangat tidak menyukai tindakan mengharapkan kematian hanya karena bahaya yang sedang merundungnya; baik disebabkan oleh sakit, kemiskinan, mendapatkan siksaan dari musuh atau hal-hal lain yang menjadi bagian kesulitan di dunia.

Adapun sikap khawatir akan adanya bahaya yang berimbas pada agamanya atau akan menimbulkan fitnah di dalamnya, maka Rasul tidak membencinya. Karena, hal tersebut tidak bertentangan dengan makna hadits di atas dan hadits-hadits lainnya. Dan sikap seperti itu, pernah dilakukan oleh para ulama salaf. Karena, mereka merasa takut akan timbulnya fitnah terhadap agama mereka. Di dalam hadits tersebut juga dikatakan: “Apabila bahaya yang diterimanya terus berlanjut. Dan ia tidak mampu lagi untuk bersabar dengan kondisi yang dialaminya; baik berupa penyakit ataupun yang lainnya, maka hendaknya ia berkata: “Ya Allah berikanlah kehidupan kepadaku. Seandainya kehidupan tersebut memang yang terbaik untukku. Dan cabutlah nyawaku. Seandainya kematian memang yang terbaik untukku.” Akan tetapi, perbuatan yang terbaik adalah bersabar dan diam menunggu keputusan sang maha pencipta.[5]

Al Haafidz, Ibnu Hajar berkata: “Dan para sahabat juga telah melakukan hal tersebut (mengharap kematian ketika takut terjadi fitnah dalam agama). Dalam kitab: “Muwattha”, bahwasanya Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Ya Allah, usiaku sudah semakin tua, kekuatanku-pun melemah dan aku-pun telah mengembangkan sayap kepemimpinanku. Maka, dekaplah aku, bawa aku kepadamu tanpa harus membuang-buang waktu atau terlalu melebih-lebihkan.”

Dan diriwayatkan oleh imam Ahmad dan para ulama lainnya tentang seseorang yang mengerutkan dahi (meminta kematian). Dikatakan bahwa seorang yang mengkerutkan dahi sambil memohon ampunan dengan sangat kepada Allah berkata: “Wahai penyakit dan segala wabah bawalah aku.’ Pada saat itu, al Kindi berkata: ‘Mengapa engkau berkata seperti itu? bukankah Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian?”

Maka, orang tadi berkata: “Sesungguhnya, aku mendengar Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah akan mempercepat proses kematian enam orang manusia, di antaranya: ‘Perempuan-perempuan bodoh, banyak memberikan syarat, penjual hukum….” (Al Hadits). Untuk memperjelas hadits di atas, disebutkan hadits dari Muadz yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan diperkuat keshahihannya oleh imam Hakim dalam doa yang dilakukan setelah melaksanakan shalat: “Seandainya aku akan menebar fitnah pada kaumku, maka cabutlah nyawaku tidak dalam keadaan fitnah.”[6]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Sakit yang diderita Sa’ad bin Ubadah semakin parah. Maka, nabi datang menjenguknya. Beliau datang bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika para sahabat masuk ke rumahnya, Sa’ad sedang dalam perawatan keluarganya. Maka, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bertanya: “Apakah ia telah meninggal?” Para sahabat menjawab: ‘Belum wahai Rasulullah.’ Seketika itu juga Rasulullah menangis. Melihat Rasulullah menangis, para sahabat-pun ikut menangis. Akhirnya, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Apakah klaian tidak mendengar? ‘Sesungguhnya Allah tidak menyiksa seorang hamba dengan tetesan air mata atau dengan kesedihan hati. Akan tetapi, Allah menyiksa dengan ini —sambil menunjuk pada lidahnya— atau membiarkannya mati. Dan seorang yang meninggal akan disiksa oleh Allah hanya karena tangisan keluarganya.”[7]

Syaikh Muhammad Bayumi

_______

[1] HR. Buhkari dalam kitab: “Al Mardhaa” (5671), pada bab: “Tamannaa al Mariidh al Mauta”. Dan HR. Muslim dalam kitab: “Ad Dzikru Wa ad Du’aa” (6755), pada bab “Karaahiyyat Tamannaa al Maut Li Dhararin Nazala Bihi.”

[2] HR. Bukhari dalam kitab: “Al Mardhaa” (5672), pada bab: “Tamannaa al Mariidh al Mauta”. Dan HR. Muslim dalam kitab: “Ad Dzikru Wa ad Du’aa” (6758), pada bab “Karaahiyyat Tamannaa al Maut Li Dhararin Nazala Bihi.”

[3] HR. Muslim dalam kitab: “Ad Dzikru Wa ad Du’aa” (6755), pada bab “Karaahiyyat Tamannaa al Maut Li Dhararin Nazala Bihi.”

[4] Hadits Shahih yang diriwayatkan Hakim (1/399) dan dikuatkan keshahihannya oleh imam Dzahabi.

[5] Lihat: “Syarh an Nawawi ‘Ala Shahiih al Muslim” (17/10), Cet: Daar al Ma’rifah, Beirut. Selain itu, anda juga dapat melihat keterangan ini dalam kitab: “Fathul Baari” (10/133)

[6] Lihat: “Fathul Baari”, (10/133)

[7] HR. Muttafaq ‘Alaihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s