Heaven Door Pintu Surga

Sakaratul Maut

Apabila seseorang telah merasakan datangnya kematian, maka sebaiknya ia melafalkan kalimat: “Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah).” Sedangkan orang-orang yang berada di sekelilingnya membantunya membaca talqin apabila yang sakit lupa. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam: “Talqinkanlah kematian kalian dengan mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah).”[1] Dan dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang akhir kehidupannya ditutup dengan membaca Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah) akan masuk surga.”[2]

Dan dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Hadirilah saat-saat datangnya kematian salah seorang di antara kalian. Dan bimbinglah mereka untuk mengucapkan talqin dengan mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah). Karena, mereka melihat apa yang tidak kalian lihat.”[3]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Talqinkanlah kematian kalian dengan membaca Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah). Maka, barang siapa yang akhir ucapannya ketika sakaratul maut Lâ Ilâha Illallâh, suatu saat pasti ia akan masuk surga.” Akan tetapi, seandainya ia mengucapkan talqin jauh-jauh hari dari kematiannya, maka ia tidak akan mendapatkan janji Rasulullah tersebut.”[4]

Adapun makna sabda Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam: “Talqinkanlah kematian kalian” adalah ketika seseorang dihampiri kematian.

Para ulama telah sepakat dalam masalah talqin ini. Akan tetapi, mereka menganggap makruh memperbanyak bacaan talqin dan membacanya secara berturut-turut. Dengan tujuan, tidak membuat orang yang dalam sakaratul maut tersebut letih dengan kondisinya yang terasa sempit dan dilanda kesedihan yang begitu mendalam. Sehingga, dalam hatinya akan tertanam rasa benci dan berbicara dengan sesuatu yang tidak sesuai.

Para ulama tersebut berpendapat: “Apabila telah membimbing orang yang akan meninggal dengan satu bacaan talqin, maka jangan diulang lagi. Kecuali, dengan bacaan-bacaan atau materi pembicaraan yang lain. Setelah itu, barulah diulang kembali, agar bacaan Lâ Ilâha Illallâh menjadi ucapan terakhirnya ketika menghadapi kematian. Setelah itu, pembicaraan para ulama kembali mengarah pada pentingnya menjenguk orang yang dilanda sakaratul maut. Tentunya, untuk mengingatkan, mengasihi, menutupkan kedua matanya dan memberikan hak-haknya. Dan semuanya itu telah menjadi kesepakatan para ulama.[5]

Dan disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang tengah sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian, disunahkan juga untuk membasahi bibir orang tersebut dengan kapas yang telah diberi air. Karena, bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang semakin menderanya. Sehingga, orang tersebut sulit untuk berbicara dan meminta. Dengan air dan kapas tersebut, setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Sehingga, hal tersebut dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat.[6]

Sebaiknya, orang-orang yang berada di sekeliling orang yang tengah sakaratul maut berbicara tentang yang baik-baik saja. Karena, pada saat itu, para malaikat mengamini apa yang mereka katakan.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila kalian hadir untuk menjenguk orang yang sakit dan hendak meninggal, maka katakanlah yang baik-baik. Karena, para malaikat akan mengamini apa yang kalian ucapkan.”[7]

Imam Nawawi berkata: “Para ulama berpendapat bahwa mengucapkan kata yang baik-baik, seperti: mendoakan, memohonkan ampunan, kelonggaran, keringanan dan lain sebagainya untuk orang yang tengah sakaratul maut hukumnya mandub (sangat dianjurkan). Karena, saat itu para malaikat ikut hadir di tempat tersebut dan mengamini ucapan mereka.[8]

Kemudian, disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut ke arah kiblat. Sebenarnya, ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam. Hanya saja, dalam beberapa Atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih melakukan hal tersebut.

Para ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana menghadap kiblat:

Pertama: Berbaring telentang di atas punggungnya. Sedangkan kedua telapak kakinya dihadapkan ke arah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia menghadap ke arah kiblat.

Kedua: Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap kiblat. Dan imam Syaukani telah menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang paling benar. Seandainya mengarahkan orang yang sakaratul maut pada posisi ini akan menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut untuk berbaring ke arah manapun. Sesuai, dengan yang membuat dirinya tenang.

Peringatan: Sebagian orang terbiasa untuk membaca al Quran dekat orang yang sakaratul maut. Khususnya, surat Yaasiin. Mereka melakukan hal tersebut berdasarkan panduan sebuah hadits yang berbunyi: “Bacalah surat Yaasiin untuk orang-orang yang meninggal dunia.”

Padahal, hadits ini digolongan oleh Ibnu Qaththan ke dalam hadits dho’if (lemah). Sedangkan Daar Quthni sendiri berkata: “Hadits ini memiliki sanad (perawi) yang lemah dan matan (teks) yang tidak diketahui secara pasti (Majhûl). Untuk itu, tidak boleh memasukkannya ke dalam kitab Hadits.

(Silakan baca pembahasan lain Ustadz Anshari Taslim di SINI)

Selain hadits di atas, orang-orang tersebut juga terbiasa mempergunakan sebuah hadits yang berbunyi: “Tidak ada seorang manusia yang mati, kemudian dibacakan surat Yaasiin untuknya, kecuali Allah akan mempermudah segala urusannya.” Padahal, hadits ini juga dianggap sebagai hadits dho’if. Diriwayatkan oleh imam Dailami dalam kitab: “Firdaus” bahwa salah satu perawi hadits ini bernama Marwan bin Salim. Dan ia termasuk perawi yang dho’if.

Bahkan, imam Malik telah mengatakan bahwa hukum membaca al Quran di sisi mayat adalah makruh. Dalam kitab: “Syarhu as Shaghiir” (1/220): “Dimakruhkan membaca salah satu ayat dalam al Quran ketika datang kematian. Karena, tindakan tersebut tidak pernah dilakukan oleh para salafus shalih. Sekalipun, semuanya itu diniatkan sebagai doa, memohon ampun, kasih sayang dan mengambil pelajaran.

Syaikh Muhammad Bayumi

____________

[1] HR. Muslim

[2] Hadits Hasan yang diriwyatkan Ahmad (5/233) dan Abu Dawud (3116)

[3] HR. Muslim dalam kitab: “Iman

[4] Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban

[5] Lihat: “Syarhu an Nawawi ‘Ala Shahih Muslim” (6/458)

[6] Lihat: “Al Mughni” milik Ibnu Qudamah (2/450)

[7] HR. Muslim

[8] Lihat: “Syarh an Nawawi ‘Ala Shahih Muslim”, (6/461)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s