Gurun Pasir

Larangan Untuk Meratapi Jenazah

Merobek-Robek Pakaian, Mencakar-Cakar Muka, Menjambak Rambuk dan Sebagainya

 Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah melarang semua perilaku di atas. Selain itu, beliau juga menerangkan bahaya berbagai perbuatan meratapi [1]; baik untuk jenazah atupun orang yang hidup.

 Pertama: Bahaya Ratapan Bagi Orang Yang Masih Hidup:

  1. Dari Abu Malik al Asy’ari bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada empat tradisi Jahiliyyah yang tidak pernah ditinggalkan oleh umatku: menyombongkan asal leluhur, mencemarkan nama keturunan, meminta hujan ke bintang-bintang,[2] dan meratap.” Kemudian, Rasulullah meneruskan perkataannya: ‘Dan barang siapa yang meratap kemudian belum bertaubat sebelum kematiannya, maka pada hari kiamat nanti ia akan dibangunkan dengan mempergunakan pakaian dari getah tembakau. Selain itu, kulitnya akan terkena penyakit kudis dan gatal-gatal.”[3]
  2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Dua perbuatan manusia yang dapat menyeret mereka ke arah kekufuran; Mencemarkan nama keturunan dan meratapi jenazah.[4] Dan para ulama telah berbeda pendapat dalam menyoroti kalimat kufur di sini bagi orang-orang yang melakukan dua perbuatan tersebut.

Imam Nawawi berkata: “Di dalamnya terdapat berbagai pendapat. Akan tetapi yang paling benar adalah makna keduanya merupakan perbuatan orang-orang kafir dan akhlak jahiliyah.[5] Artinya, orang-orang yang melakukan hal tersebut menyerupai perbuatan orang-orang kafir.

  1. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Bukan termasuk ke dalam golongan kami orang-orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan berdoa dengan doa-doa di zaman Jahiliyyah.”[6]

Adapun sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Bukanlah termasuk ke dalam golongan kami”, artinya tidak berjalan di atas sunnah dan jalan kami. Akan tetapi, makna yang dimaksud bukan kafir yang keluar dari agama. Semuanya itu merupakan kalimat yang menunjukkan pada sesuatu yang berlebihan (al Mubâlaghah) dalam masalah penolakan. Seperti seorang laki-laki yang berkata ketika memberikan pelajaran kepada anaknya: “Aku bukanlah kamu. Dan kamu bukanlah aku.” Artinya, kamu tidak sejalan dengan diriku.

Adapun sabda Rasulullah: “Dan merobek-robek pakaian” bermaksud pakaian bagian atas. Artinya, kalimat tersebut melarang orang-orang untuk merobek-robek setiap pakaian. Karena, semuanya itu merupakan bagian dari perbuatan yang dapat mendatangkan kemurkaan.

Sedangkan sabda Rasulullah: “Dan berdoa dengan mempergunakan doa di zaman Jahiliyyah” yang dimaksud di dalamnya adalah ratapan.

  1. Dari Abu Burdah, ia berkata: “Abu Musa menderita sakit. Kemudian ia tidak sadarkan diri. Kaum perempuan dari keluarganyapun secara otomatis menjerit. Ketika Abu Musa tersadar kembali ia berkata: “Aku telah terbebas dari berbagai hal yang telah dilarang oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Karena, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah melarang umatnya untuk berteriak (ketika mendapatkan bencana), memotong-motong dan merobek-robek.”[7]

Yang dimaksud dengan berteriak adalah: Mengangkat suara ketika menangis. Di antara ayat al Quran yang mempergunakan kalimat ini adalah firman Allah: “Mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam.”[8] Sedangkan yang dimaksud dengan memotong-motong adalah: Yang memotong rambutnya ketika mendapatkan musibah. Dan yang dimaksud dengan merobek-robek adalah: Orang-orang yang merobek-robek pakaiannya.

Semua perkara tersebut telah diharamkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sekaligus dilarang untuk mempergunakannya. Karena, semuanya itu menandakan ketidak ridloan dengan ketentuan yang telah diberikan Allah kepadanya.

  1. Dari seorang perempuan yang mengikuti bai’at bersama Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ia berkata: “Beberapa perkara baik yang telah dicamkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada kami adalah: Tidak mengingkari peraturan, tidak mencakar-cakar wajah, tidak berdoa dengan sesuatu yang tercela, tidak merobek-robek pakaian dan memotong-motong rambut.”[9]

Ke Dua: Bahaya Ratapan Bagi Orang Yang Telah Meninggal:

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan bahwa seorang jenazah akan disiksa di dalam kuburnya dan di hari kiamat, hanya karena ratapan sanak keluarganya. Untuk memperjels permasalahan tersebut, telah banyak hadits-hadits yang menerangkannya, di antaranya:

  1. Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Seorang jenazah akan disiksa di dalam kuburnya, hanya karena ratapan terhadapnya.”[10]
  2. Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang meratapinya, maka ia akan disiksa di hari kiamat nanti disebabkan ratapan tersebut.”[11]
  3. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, seorang jenazah akan disiksa hanya karena tangisan keluarganya.”[12]
  4. Dari Anas: Ketika Umar bin Khattab mulai memohon, Hafshah-pun meratap. Maka, Umar berkata: “Wahai Hafshah, tidakkah kamu mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Orang-orang yang diratapi akan disiksa?” Kemudian, Suhaib juga ikut meratap: “Maka, sekali lagi Umar berkata: “Wahai Suhaib, tidakkah kamu mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Orang-orang yang diratapi akan disiksa?”[13]

Dan terkadang, seseorang akan berkata: “Apa dosa jenazah sehingga ia akan disiksa disebabkan oleh perbuatan yang tidak pernah ia lakukan dan hanya dilakukan oleh orang lain? Padahal, Allah berfirman dalam al Quran: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”[14]

Para ulama telah berbeda pendapat dalam mentakwilkan berbagai makna hadits ini. Dan di antara takwil-takwil yang ada, pendapat mayoritas ulama saja yang dapat dikatakan sebagai pendapat yang benar. Yaitu, hadits-hadits di atas memiliki makna: Barang siapa yang berwasiat kepada sanak keluarganya untuk meratapi kematiannya. Atau, tidak memberikan wasiat untuk tidak melakukannya. Padahal, ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut telah terbiasa dilakukan oleh masyarakat sekitarnya. Maka ia akan mendapatkan dosa. Akan tetapi, seandainya ia berusaha untuk melarngnya sebelum ajl menjemput, maka berlakulah hadits Abdullah bin Mubarak baginya: “Apabila orang tersebut telah mencegah mereka untuk melakukan perbuatan tersebut ketika dirinya masih hidup. Kemudian, orang-orang tersebut melakukan larangannya setelah dirinya meninggal, maka si jenazah tidak akan mendapatkan siksaan.

 Boleh Meratapi Jenazah Tanpa Harus Menjerit-Jerit

Diperbolehkan untuk meratapi jenazah dan mengingat-ingatnya dengan berbagai hal yang layak untuknya. Akan tetapi, tanpa disertai dengan jeritan dan teriakan-teriakan. Atau, berbohong dalam menyebutkan sifat-sifatnya. Dan dalil atas hal tersebut adalah:

  1. Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Ketika nabi telah mendekati kematian, rasa sakit yang dideritanya membuat dirinya tidak sadarkan diri. Maka, fatimah-pun berkata: “Aku juga merasakan rasa sakit yang engkau derita wahai ayahku”, Maka, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-pun berkata: “Ayahmu tidak akan merasakan rasa sakit lagi semenjak hari ini.” Ketika Rasulullah meninggal dunia, Fatimah berkata: “Wahai ayah, semoga semua keinginan dan doa’mu dikabulkan oleh yang maha kuasa. Ayahku…surga firdaus adalah tempatmu. Ayahku…kepada Jibril kami akan memberitahukan kematianmu.” Ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dikuburkan, Fatimah berkata: “Jadikanlah diri kalian sebagai manusia-manusia yang baik, dengan menaburkan debu di peristirahatan terakhir Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.”[15]
  2. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu masuk ke dalam kamar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, setelah kematiannya. Kemudian, ia meletakkan bibirnya di antara kedua mata Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pelipis Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kemudian, Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, Wahai kekasihku, wahai hamba Allah yang ihklas…”[16]

Syaikh Muhammad Bayumi

_________________

[1] Kalimat meratapi (an Niyahah) diambil dari kalimat (an Nuh) yang memiliki arti menjerit-jerit dan mengangkat suara sekeras-kerasnya ketika menangis.

[2] Yang dimaksud dengan meminta hujan ke bintang-bintang adalah: ada seseorang yang berkata: “Hujan yang diturunkan kepada kami adalah hujan dari bintang ini (dengan menyebutkan nama bintang tertentu). Atau, meminta hujan kepada bintang-bintang. Seandainya semua itu dilakukan berdasarkan keyakinan bahwa yang menurunkan hujan tersebut adalah bintang-bintang, maka ia akan dianggap kufur. Karena, telah disebutkan dalam kitab: “Shahih Muslim” dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: ‘Allah berfirman: “Di antara hamba-hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada juga yang kafir. Adapun orang yang berkata: ‘Hujan ini merupakan kekuasaan Allah dan rahmat-Nya. Maka mereka adalah orang-orang yang beriman kepadaku dan tidak mempercayai bintang-bintang itu. sedangkan orang yang berkata: ‘Hujan ini berdasarkan bintang ini, maka mereka benar-benar telah kafir kepadaku dan beriman kepada bintang-bintang.”

[3] HR. Muslim

[4] HR. Muslim

[5] Lihat: “Nail al Authar”, (4/141)

[6] Hadits Shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Baihaqi.

[7] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[8] QS. Al Ahzaab: 19

[9] Hadits Shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Baihaqi.

[10] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[11] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[12] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[13] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[14] QS. Al An’aam: 164

[15] HR. Bukhari

[16] HR. Bukhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s