Padi Zakat Fithr

Membayar Hutang Orang Yang Meninggal

Sebaiknya, keluarga dan kerabat orang yang meninggal bersegera dalam menutupi hutang-hutang si jenazah dari harta peninggalannya. Seandainya orang yang meninggal tersebut tidak meninggalkan harta, maka hendaknya sebagian kerabat bersedia dengan ikhlas untuk menutupi hutang si jenazah. Karena, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberitahukan bahwa seorang jenazah tidak dapat masuk ke dalam surga hanya karena dirinya memiliki hutang.”[1] Dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah tidak mau menshalatkan seorang jenazah. Sampai hutang-hutangnya dilunasi. Atau, ada seseorang yang berjanji untuk menyelesaikan seluruh hutang-hutangnya tersebut.[2]

Apabila tidak ada satu-pun orang yang dapat menutupi hutang si jenazah, maka pada kesempatan ini yang berkewajiban menutup seluruh hutangnya adalah kas negara —seandainya ia berada dalam wilayah negara Islam— hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Barang siapa yang meninggalkan harta, maka untuk ahli warisnya. Dan barang siapa yang meninggalkan peninggalan[3] ataupun hutang, maka tanggungan kewajiban dipikulkan kepada walinya. Dan aku adalah wali dari orang-orang yang beriman.”[4]

Di samping itu, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda: “Barang siapa salah seorang dari umatku membawa beban hutang. Kemudian, ia berusaha untuk menutupinya. Kemudian, ia meninggal dunia sebelum dapat menyelesaikan seluruh hutangnya, maka aku adalah walinya.”[5]

Syaikh Muhammad Bayumi
___________________

[1] Hadits shahih yang diriwayatkan imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, Hakim dan Baihaqi.

[2] Hadits Hasan yang diriwayatkan imam Ahmad, Hakim dan Baihaqi.

[3] Yang dimaksud di atas adalah keluarga. Ibnu Atsir mengatakan bahwa asal mula kalimat (Dhaya’) adalah (Dha’a), (Yadhi’u), (dhaya’an). Dan kalimat keluarga (al ‘Iyal) mempergunakan bentuk infinitif, seperti anda berkata: “Barang siapa yang mati dan meninggalkan kemiskinan (faqran). Maka, kalimat kemiskinan (faqran) di sini berarti orang-orang yang fakit (Fuqara).

[4] HR. Muslim dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu.

[5] Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s