Mati

Berduka Cita Atas Kematian Si Jenazah

Berduka Cita[1] Atas Kematian Si Jenazah

Seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk mempergunakan pakaian berkabung atas kematian salah seorang kerabatnya lebih dari tiga hari. Kecuali, suaminya tidak melarangnya untuk melakukan hal tersebut. Dan ia wajib mempergunakan pakaian berkabung tersebut atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. Semuanya itu didasarkan kepada sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Janganlah seorang perempuan mempergunakan pakaian berkabung, kecuali atas kematian suaminya. Maka, pada saat itu, ia diwajibkan untuk berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Selain itu, ia juga tidak diperbolehkan untuk mempergunakan pakaian yang berwarna. Kecuali, pakaian Ashab,[2] tidak boleh mempergunakan celak mata, dan jangan berjalan dengan mempergunakan minyak wangi, menghiasi wajah dengan perona, jangan menyisir. Kecuali, ketika dirinya bersuci. Sehingga, mengharuskan dirinya untuk mempergunakan beberapa tumbuhan yang dapat menghilangkan bau tidak enak dari kemaluannya.”[3]

Sedangkan yang dimaksud dengan berkabung atau berduka cita adalah dengan meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan berhias, seperti: mempergunakan perhiasan, celak mata, sutra, wewangian dan perona. Akan tetapi, semua itu harus dipergunakan oleh seorang perempuan yang tengah berada di masa ‘iddah dari thalak raj’i. Semuanya itu dilakukan agar suami dapat kembali kepadanya.

Dari Ummu Salamah, istri Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ia berkata: “Seorang perempuan yang suaminya meninggal dunia, hendaknya tidak mempergunakan pakaian kuning dan tipis. Selain itu, ia juga tidak diperbolehkan mempergunakan perhiasan, celak mata dan perona.”[4]

Hukum ini diperuntukkan bagi semua istri; baik yang telah melakukan hubungan biologis dengan suaminya ataupun belum. Adapun kaum perempuan yang sedang hamil, maka ‘iddah dan masa berkabungnya sampai dengan melahirkan. Dan ia harus mematuhi seluruh ketentuan masa berkabung selama kehamilannya; sama saja apakah masa kehamilan tersebut berlangsung sebentar atau-pun lama.

Sebagian ulama berpendapat: Seorang perempuan tidak perlu berkabung setelah berlalunya waktu sebanyak empat bulan sepuluh hari. Sekalipun, pada saat itu ia belum melahirkan.

Adapun hikmah dibalik ketentuan masa ‘Iddah selama empat bulan sepuluh hari, para ulama berpendapat: Karena, pada masa empat bulan tersebut Allah akan meniupkan ruh ke dalam jasad si jabang bayi. Dan sepuluh harinya dipergunakan sebagai bentuk kehati-hatian. Dan pada masa inilah anak di dalam kandungan akan bergerak. Maka, dalam masa ini diketahuilah bahwa rahim perempuan berisi atau tidaknya.

Dan perempuan yang menjalani ‘Iddah menjalani semuanya itu di dalam rumahnya. Dan ia tidak diperbolehkan untuk keluar, kecuali karena sebuah perkara yang sangat penting dan tidak dapat dielakkan lagi. Dari Furai’ah binti Malik, saudara perempuan Sa’id al Khudriyyi, bahwasanya perempuan ini datang kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ia meminta pandangan beliau, apabila dirinya pulang ke kampung halamannya, Bani Khudrah: “Aku bertanya kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bagaimana seandainya aku kembali kepada keluargaku. Karena, suamiku tidak meninggalkanku di tempat yang dimilikinya. Tidak hanya itu, ia juga tidak memberikan nafkah kepadaku. Maka, pada saat itu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata: “Ya”

Aku-pun akhirnya keluar, sampai akhirnya aku berada di sebuah ruangan (yang berada di dalam masjid), Rasulullah-pun memanggilku. Kemudian, ia berkata: “Apa yang telah aku katakan tadi?” Furai’ah berkata: “Akhirnya, aku menceritakan kembali kondisi suamiku.” Setelah mendengarkan kisah tersebut, Rasulullah berkata: “Kalau begitu, lebih baik kamu tinggal di dalam rumahmu, sampai akhirnya selesai masa ‘Iddahmu.” Perempuan ini kembali berkata: “Akhirnya aku menyelesaikan ‘iddah selama empat bulan sepuluh hari.” Kemudian, ia meneruskan perkataannya: “Ketika Utsman datang kepadaku, ia bertanya tentang masalah itu. maka, aku-pun memberitahukannya. Dan ia-pun memberi hukum seperti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan mengikuti pendapatnya.[5]

Adapun pakaian hitam yang dipergunakan kaum perempuan dalam masa berkabung, ditanggapi oleh para ulama dalam pendapat yang berbeda. Kalangan ulama Hanafi memperbolehkan perempuan yang tengah menjalani masa berkabung untuk mempergunakan pakaian hitam. Hanya saja, semua itu dikhususkan untuk masa berkabung terhadap suaminya dan bukan orang lain.

Sedangkan kalangan ulama Maliki mengatakan: Orang yang tengah berkabung diperbolehkan untuk mempergunakan pakaian hitam. Akan tetapi, harus ada bagian yang berwarna putihnya. Atau, hitam memang menjadi warna kaumnya.

Imam Qalyubi, salah seorang ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat: “Apabila warna hitam merupakan warna yang umum dipergunakan oleh kaumnya dalam berhias, maka pakaian tersebut haram dipergunakan. Imam Nawawi menukil dari Mawardi bahwa dalam kitab: “Al Haawi” disebutkan bahwa kaum perempuan yang tengah berkabung diwajibkan mempergunakan pakaian berwarna hitam.[6] Adapun Ibnu Hazm melarang mempergunakan pakaian hitam. Karena, pakaian tersebut juga memiliki warna, yaitu: Hitam. Padahal, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri telah melarang kaumnya untuk mempergunakan pakaian yang diwarnai.

Adapun perempuan yang berkabung bukan karena suaminya, seperti karena kematian ibunya, anak atau salah seorang kerabatnya, maka ia diperbolehkan untuk mempergunakan wangi-wangian dan berhias pada masa-masa berkabungnya. Dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan Radhiyallahu ‘Anha, ketika ia mendengar berita kematian ayahnya, ia mengambil wewangian dan kemudian mengusapkannya ke bagian dua tangannya: “Apa salahnya mempergunakan wewangian seandainya itu merupakan sebuah kebutuhan. Seandainya aku tidak mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak dihalalkan bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung terhadap jenazah lebih dari tiga hari. Kecuali, atas kematian suaminya. Maka ia harus menjalani masa berkabung tersebut selama empat bulan sepuluh hari.”[7]

Dan hal itu pula yang dilakukan oleh Zainab binti Jahsyi ketika saudara laki-lakinya meninggal dunia.[8]

Imam Nawawi berkata: “Dilihat dari hadits di atas, maka itulah yang dilakukan oleh Ummu Habibah dan Zainab binti Jahsyi. Dan hal tersebut menunjukkan dalil diperbolehkannya berkabung selama tiga hari untuk kematian orang-orang selain suami.”[9]

Dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: “Anak laki-laki Ummu Athiyah meninggal dunia. ketika waktu tiga hari telah berlalu, Ummu Athiyah terlihat mempergunakan perona (berhias). Kemudian, ia berkata: “Kita dilarang untuk berkabung lebih dari tiga hari. Kecuali, untuk suami.”[10]

Syaikh Albani berkata: “Akan tetapi, ketika dirinya tidak berkabung untuk selain suaminya, demi mendapatkan kerelaan suami dan melaksanakan keinginannya, maka hal tersebut lebih baik baginya. Dan diharapkan, dibalik semuanya itu terdapat kebaikan yang sangat banyak bagi mereka berdua. Sebagaimana yang terjadi pada Ummu Sulaim dan suaminya Abu Thalhah al Anshari Radhiyallahu ‘Anhuma. Dan sungguh baik rasanya, seandainya saya (penulis) menceritakan kisah kedua tokoh suami istri tersebut dalam permasalahan ini. Karena, di dalamnya terdapat berbagai faedah, nasehat dan pelajaran berharga.

Maka, Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Malik Abu Anas berkata kepada istrinya Ummu Sulaim—ia adalah ibunya Anas Radhiyallahu ‘Anhu— Bahwasanya laki-laki ini —Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam— telah mengharamkan minuman keras. Akhirnya, suaminya tersebut-pun pergi sampai akhirnya terdampar di Syam dan meninggal dunia di sana. Kemudian, datanglah Abu Thalhah dan ia-pun meminang Ummu Sulaim. Laki-laki ini berbicara secara baik-baik kepada perempuan tersebut.

Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Thalhah, laki-laki seperti dirimulah yang banyak diinginkan kaum perempuan. Akan tetapi, engkau adalah orang kafir. Sedangkan aku adalah perempuan muslimah. Dan aku tidak dibenarkan untuk menikah denganmu!” Abu Thalhah akhirnya berkata: “Apa yang dapat menenggelamkanmu?” Ummu Sulaim mengulang pertanyaan Abu Thalhah: “Apa yang dapat menenggelamkanku?” Abu Thalhah menjawab: “Warna kuning (emas) atau putih (perak)!” Perempuan shalihah itu menjawab dengan ringan: “Aku tidak pernah menginginkan warna kuning ataupun putih. Aku hanya menginginkan keislamanmu. Dan itu akan kujadikan sebagai maharku. Niscaya aku tidak akan meminta apa-apa lagi darimu. Kemudian, Abu Thalhah bertanya: “Lalu, siapa yang dapat mengislamkanku?” Ummu Sulaim berkata: “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Akhirnya, laki-laki ini pergi menuju Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Pada saat itu, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tengah duduk bersama sahabat-sahabatnya. Ketika Abu Thalhah melihat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ia-pun berkata: “Abu Thalhah telah datang kepada kalian. Dikedua matanya terlihat sekali keinginannya untuk masuk Islam.” Kemudian, ia menceritakan segala ucapan Ummu Sulaim. Maka, Rasulullah-pun menikahkan laki-laki ini dengan Ummu Sulaim dengan maskawin Islam.

Tsabit (salah seorang yang mengkisahkan cerita ini dari Anas) berkata: “Betapa agungnya mahar yang telah didapatkan oleh perempuan ini. Dengan kerelaannya menjadikan Islam sebagai mahar pernikahannya. Ketika Abu Thalhah menikahinya, perempuan ini merupakan perempuan yang memiliki dua mata yang sangat indah. Pandangannya sangat tajam. Ketika menikah dengan Abu Thalhah, perempuan ini telah dikaruniai seorang anak. Dan suaminya, Abu Thalhah, amat sangat mencintai anak tersebut. Sayangnya, sang anaknya menderita sakit yang cukup parah. Semua itu membuat Abu Thalhah sedih bukan kepalang.

Abu Thalhah-pun bangun dan berwudlu untuk melakukan shalat subuh. Kemudian, datanglah Rasulullah dan shalat bersamanya. Hari itu, ia menghabiskan waktu bersama Rasulullaw Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sampai menjelang dhuhur. Kemudian, ia pulang ke rumah untuk makan. Ketika waktu dhuhur hampir tiba, ia-pun bersiap-siap dan kemudian pergi ke mesjid.

Selepas shalat dhuhur, Abu Thalhah tidak kembali ke rumah sampai datangnya shalat Maghrib. Pada waktu Isya’ ia pergi menemui Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (dalam sebuah riwayat dikatakan: pergi ke masjid). Pada saat itu, putra Abu Thalhah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Maka, Ummu Sulaim berkata: “Tidak ada satupun yang boleh mengabarkan berita ini kepada Abu Thalhah. Sampai aku sendiri mengabarkan berita ini kepadanya. Kemudian, Ummu Sulaim membungkus putranya dengan kain kafan dan menguburkannya di samping rumah.

Akhirnya, Abu Thalhah datang dari kediaman Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ia-pun masuk menemui istrinya. Pada saat itu, Ummu Sulaim berada bersama sahabat-sahabatnya sesama ahli masjid. Laki-laki itu pun bertanya: “Bagaimana kondisi putraku?” Maka, Ummu Sulaim-pun menjawab: “Semenjak anak itu sakit, aku tidak pernah dapat tenang sekalipun satu jam (Dan sekarang, aku berharap anak itu telah beristirahat dengan tenang). Ummu Sulaim-pun datang dengan membawa makan malam untuk suaminya. Kemudian, ia mendekatkan makanan tersebut kepada orang-orang. Akhirnya, mereka semua makan malam bersama. Setelah itu, orang-orang tersebut pergi.

Abu Thalhah pergi menuju kamar dan merebahkan kepalanya di atas bantal. Setelah membereskan semuanya yang ada di ruang depan, Ummu Sulaim bangkit dari duduknya dan mempergunakan wewangian. Ia-pun berhias lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Perempuan itu-pun masuk ke dalam kamar dan menemui suaminya di atas pembaringan. Bau wewangian-pun tercium oleh hidung Abu Thalhah dan ia-pun melakukan apa yang biasa dilakukan seorang laki-laki terhadap istrinya.

Ketika datang tengah malam, sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurutmu seandainya melihat sebuah kaum yang memberikan sebuah pinjaman terhadap kaum yang lainnya. Kemudian, setelah beberapa saat lamanya, kaum tersebut meminta kembali harta yang mereka pinjamkan tersebut, apakah kaum yang diberikan pinjaman dapat menolak permintaannya?” Dengan tegas Abu Thalhah menjawab: “Tentu saja tidak.” Dengan cepat Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya Allah telah memberikan anak kepadamu sebagai pinjaman. Dan Ia telah mengambilnya kembali ke pangkuan-Nya. Oleh karena itu, mintalah pahala kepada Allah dan bersabarlah!”

Abu Thalhah-pun marah dan berkata: “Engkau membiarkan aku seperti ini. Sampai semua peristiwa itu terjadi. Setelah itu engkau dapat mengabarkan kematian putraku!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Abu Thalhah terdiam dan memuji asma Allah. Ketika waktu shubuh datang, ia-pun mandi. Setelah itu, ia cepat-cepat menemui Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan shalat bersamanya. Tidak lupa, ia juga mengabarkan apa yang telah terjadi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menanggapi ucapan Thalhah dengan berkata: “Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian berdua pada malam yang telah lalu.”

Setelah selang beberapa lama, Ummu Sulaim-pun mengandung kembali. Dan Ummu Sulaim melakukan perjalanan bersama Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Perempuan ini akan keluar dari kota Madinah, ketika Rasulullah keluar. Dan sebaliknya, seandainya Rasulullah berada di dalam kota, maka ia-pun akan tinggal di dalamnya. Kemudian, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Seandainya Ummu Sulaim melahirkan, hendaknya kalian semuanya membawa bayinya kepadaku.”

Anas (yang meriwayatkan hadits ini) kembali berkata: “Pada saat itu, Rasulullah tengah berada dalam perjalanannya. Dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ketika dirinya datang ke Madinah dari perjalannya selalu disambut oleh dentaman gendang. Rasulullah-pun telah mendekati Madinah. Ketika itu, Ummu Sulaim sudah hampir melahirkan. Kerena itu, Abu Thalhah berusaha untuk menahan istrinya. Rasulullah-pun datang. Maka, Abu Thalhah berkata: “Ya Allah, Engkau maha tahu bahwa aku sangat ingin keluar bersama Rasulullah ketika beliau mengadakan perjalanan dan masuk bersamanya ketika beliau masuk.”

Ummu Sulaim berusaha untuk menahan apa yang ia lihat. Kemudian, Ummu Sulaim berkata: “Aku tidak mendapatkan apa yang biasa aku dapatkan.” Akhirnya, mereka berdua-pun keluar. Ketika Rasulullah telah datang bersama rombongan, Ummu Sulaim-pun melahirkan. Ia melahirkan seorang anak laki-laki. Setelah itu, ia berkata kepada putranya, Anas: “Anakku Anas, janganlah kamu beri makan adikmu itu, sampai ia dibawa ke hadapan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” Perempuan ini-pun mengutus putranya untuk membawa bayi yang baru lahir tersebut kepada Rasulullah. Tidak lupa, ia menambahkannya dengan beberapa buah kurma.

Anak laki-laki yang masih bayi itu-pun tidak henti-hentinya menangis. Saya (Anas) terus menjaganya sampai pagi. Setelah itu, saya langsung membawanya kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Saya berusaha menutupi tubuh si kecil dengan pakaian. Akhirnya, saya datang kepada Rasulullah. Ketika beliau melihat kedatangan saya, ia berkata: “Apakah anak Malhan (Ummu Sulaim) telah melahirkan? Saya menjawabnya: “Benar”

Anas meletakkan oleh-oleh yang ada di tangannya. Kemudian, ia kembali menggendong si kecil. Rasulullah-pun bertanya: “Apakah kamu membawa sesuatu?” Anas menjawab: “Ya, saya membawa kurma”. Maka, Rasulullah-pun mengambil sebagian kurma, mengunyahnya dan kemudian meludahkannya ke sendok. Setelah itu, beliau menyuapi sang bayi dengan diiringi doa-doa. Bayi laki-laki yang baru lahir itu-pun terus mengecap dan menghisap manisnya kurma dan air ludah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka, ludah Rasulullah-lah yang pertama kali membuka dan memberi makanan usus bayi tersebut.

Rasulullah bersabda: “Lihatlah bagaimana kecintaan masyarakat Anshar terhadap kurma.” Maka saya (Anas) berkata: “Wahai Rasulullah berikanlah nama kepada bayi tersebut.” Rasululah-pun mengusap wajah sang bayi dan memberikan nama Abdullah. Dan dikisahkan bahwa tidak ada pemuda yang lebih segala-galanya dibanding Abdullah. Pada sebuah peperangan, banyak para pemuda muslim yang keluar untuk mempertahankan Islam. Salah seorang di antaranya adalah Abdullah. Dan ia pulang sebagai syahid. Ia gugur sebagai seorang panglima.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Thayalisi (No: 2056). Dan konteks yang dipergunakan dalam hadits ini juga berasal darinya. Selain Thayalisi, hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Baihaqi (4/65-66), Ibnu Hibban (752), Ahmad (3/105-106, 181, 196, 287, 290) dan semua tambahan dalam hadits ini berasal darinya. Selain itu, hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Bukhari (3/132-133) dan Muslim (6/174-175). Akan tetapi, dalam kitab Imam Muslim hanya terbatas pada kisah wafatnya bayi Ummu Sulaim.

Di samping para perawi di atas, hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Nasa’i (2/87). Ia menceritakan kisah ini dari awal. Tambahan pada nomer pertama adalah miliknya. Sedangkan nomer enam, delapan, lima belas, dan enam belas adalah milik imam Bukhari. Dan nomer sembilan belas dan dua puluh dua adalah milik imam Muslim. Adapun kisah ini secara keseluruhan dikisahkan oleh imam Ahmad, sebagaimana yang telah kita sebutkan sebelumnya.

Dalam mengumpulkan rentetan kisah dan kalimat-kalimat dalam hadits ini telah dilakukan penelitian dan studi secara khusus. Hal tersebut dilakukan mengingat isi riwayat yang penuh dengan kemegahan dan keagungan. Tentunya, dengan tujuan agar para pembaca dapat mengambil ide pemikiran secara menyeluruh dan dapat dipercaya dari kisah ini. sehingga, dengan semuanya itu dapat diambil pelajaran yang berharga dan manfaat yang sangat besar.[11]

Syaikh Muhammad Bayumi

___

[1] Kalimat berduka cita(al Ihdad) dan (al Haddad): diambil dari kalimat (al Haddu) yang memiliki arti larangan (al Man’u). Karena, perempuan tidak diperbolehkan mempergunakan wewangian dan perhiasan pada saat-saat mempergunakan pakaian hitam (berkabung).

[2] Yang dimaksud dengan pakaian ‘Ashab adalah: Pakaian yang telah dipintal terlebih dahulu sebelum ditenun. Dan ‘Ashab itu sendiri merupakan nama tumbuhan yang tumbuh di Yaman. Dimana tumbuhan tersebut dipergunakan untuk bahan pakaian. Dan nabi telah menganjurkan kaum perempuan mempergunakan bahan ini, agar mereka terjauh dari berhias.

[3] Karena, tujuan di dalamnya hanyalah untuk menghilangkan bau yang tidak enak dan bukan untuk berhias diri dan mempergunakan wewangian.

[4] Hadits ini merupakan hadits shahih yang diriwayatkan imam Abu Dawud (2304) dan Nasa’I (6/ 203-204).

[5] Hadits Shahih yang diriwayatkan imam Malik dalam kitab: “Al Muwattha’” (2/591) dan melalui imam Syafi’I dalam kitab: “Al Risâlah.” (1214), dalam musnadnya (2/ 53-54), Ahmad (6/370, 420 dan 421), Abu Dawud (2300), Tirmidzi (1204), ad Darimi (2/168), Nasa’I (6/ 196-200), Ibnu Majah (2031), Ibnu Jarud (759), Ibnu Hibban (4292), Hakim (2/208), Baihaqi (436), Thayalisi (1664), Baghawi dalam “Syarh as Sunnah” (2386) dan dianggap sebagai hadits shahih oleh Hakim dan disepakati oleh imam Dzahabi.

[6] Lihat: “Fiqh al Janaiz” Dr. Ahmad Mahmud Karimah, H: 53

[7] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[8] HR. Muttafaq ‘Alaihi

[9] Lihat: “Syarh an Nawawi ‘Ala Shahih Muslim” (10/352), Cet: Daar al Ma’rifah, Beirut.

[10] HR. Bukhari dalam kitab: “Janaiz” (1279), pada bab: “Ihdad al Mar’ah Fi Ghairi Zaujiha

[11] Lihat: “Ahkam al Janaiz” (H: 24-25).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s