Makanan

Disunnahkan Membuat Makanan Untuk Keluarga Yang Ditinggalkan

Disunnahkan untuk membuat makanan bagi keluarga orang yang meninggal. Karena, selain perbuatan tersebut termasuk ke dalam perbuatan baik, perbuatan tersebut juga termasuk ke dalam perbuatan mempererat tali persaudaraan sesama keluarga dan tetangga. Di samping, pada kondisi seperti itu, keluarga orang yang meninggal tengah sibuk menyabarkan diri dan mempersiapkan makanan untuk para tamu. Sehingga, member makanan kepada mereka akan memperingan kerja mereka.

Dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata: “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far. Karena, mereka tengah mendapatkan kesibukan yang tiada bandingnya.”[1] Dan imam Syafi’i berkata: “Kerabat yang paling disenangi adalah kerabat yang membuatkan makanan untuk keluarga orang yang meninggal. Sehingga, dapat membuat kenyang mereka baik pada waktu siang maupun malam. Perbuatan tersebut termasuk ke dalam perbuatan sunnah dan perbuatan orang-orang yang senang berbuat kebaikan.”

Dan dimakruhkan bagi keluarga orang yang meninggal untuk membuat makanan bagi orang-orang yang berkumpul di kediamannya. Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang sekarang ini. Karena, perbuatan tersebut sama saja dengan menambahkan musibah dan pekerjaan kepada mereka. Di samping, perbuatan tersebut menyamai perbuatan masyarakat Jahiliyyah. Hal tersebut sesuai dengan hadits Jarir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Kami menganggap, membuat acara dan makanan setelah jenazah dikebumikan sama hukumnya dengan meratap.”[2]

Akan tetapi, apabila pembuatan makanan sudah menjadi sebuah kebutuhan, maka hukumnya tidak apa-apa.

Ibnu Qudamah berkata: “Apabila sudah menjadi kebutuhan yang tidak terlepaskan, maka hukumnya tidak apa-apa. Karena, bisa saja tamu yang bertakziah, datang dari kampung dan tempat-tempat yang jauh. Dan menginap di rumah mereka. Sehingga, mereka tidak memiliki pilihan lain, selain menjamunya.”

Syaikh Muhammad Bayumi

______________

[1] Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Akan tetapi, imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini Hadits Hasan Shahih.

[2] Hadits shahih yang diriwayatkan imam Ahmad dan Ibnu Majah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s